Donasi Impulsif: Ketika Sedekah Dipengaruhi Emosi

Donasi Impulsif: Ketika Sedekah Dipengaruhi Emosi


Risdawati
12/08/2026
8 VIEWS
SHARE

Melihat anak sakit, korban bencana, atau keluarga yang kehilangan tempat tinggal bisa membuat hati tergerak. Dalam hitungan detik, tangan pun mencari tombol donasi. Niatnya baik. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak untuk memastikan bantuan itu benar-benar sampai kepada yang membutuhkan?

Keputusan memberi memang tidak selalu lahir dari perhitungan panjang. Penelitian dalam Voluntas menunjukkan bahwa ketika calon penerima bantuan dapat dikenali secara lebih nyata, respons emosional dan keinginan untuk berdonasi dapat meningkat. Artinya, kisah personal dan wajah seseorang yang membutuhkan memang dapat memengaruhi keputusan memberi.

Ketika Rasa Iba Mengambil Alih

Emosi bukan sesuatu yang harus dijauhkan dari sedekah. Rasa iba, empati, dan kepedulian justru dapat menjadi pintu seseorang untuk membantu. Sebuah penelitian yang dimuat dalam Heliyon juga menemukan adanya hubungan antara emosi tertentu dengan besaran donasi. Dalam eksperimen terhadap 45 peserta, kesedihan dan kemarahan berkaitan dengan peningkatan jumlah donasi, meskipun penelitian tersebut dilakukan dalam konteks donasi untuk organisasi perlindungan hewan dan memiliki keterbatasan tertentu.

Masalahnya muncul ketika rasa haru membuat seseorang berhenti memeriksa informasi. Foto menyentuh, cerita yang mendesak, atau batas waktu penggalangan dana dapat membuat keputusan terasa harus diambil saat itu juga. Padahal, bersedekah dengan bijak tidak mengurangi nilai kepedulian. Justru, kehati-hatian membantu memastikan niat baik tidak salah sasaran.

Sedekah Juga Perlu Tabayun

Risiko ini semakin penting diperhatikan dalam donasi daring. Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Bimas Islam Kementerian Agama menemukan beberapa modus penipuan penggalangan donasi daring, antara lain menggunakan foto palsu, mengatasnamakan lembaga resmi, dan berpura-pura sebagai tokoh publik.

Karena itu, sebelum berdonasi, ada baiknya meluangkan sedikit waktu untuk memeriksa siapa penggalangnya, ke mana dana akan disalurkan, serta apakah ada informasi dan laporan yang dapat dipercaya.

Dalam Islam, ketelitian semacam ini tidak bertentangan dengan semangat berbagi. Al-Qur’an justru mengingatkan agar harta yang diberikan berada pada jalan yang benar dan sedekah tidak disertai sikap yang menyakiti penerimanya. Allah Swt berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 264 tentang larangan merusak sedekah dengan menyebut-nyebut pemberian dan menyakiti perasaan penerima.

Tetap Berbagi, tetapi Jangan Tergesa-gesa

Tidak semua keputusan donasi harus melewati pertimbangan yang rumit. Namun, beberapa detik untuk berpikir bisa menjadi pembeda antara bantuan yang tepat sasaran dan keputusan yang disesali kemudian.

Rasa iba boleh menjadi alasan kita bergerak. Empati boleh membuat kita ingin membantu. Tetapi setelah hati tergerak, biarkan akal ikut bekerja. Sebab, sedekah bukan sekadar tentang seberapa cepat kita memberi, melainkan juga bagaimana memastikan pemberian itu benar-benar membawa manfaat. Dengan kata lain, niat baik layak disertai cara yang baik pula.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA