Perkembangan teknologi informasi telah menghadirkan ruang digital sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern. Melalui berbagai platform komunikasi, setiap orang dapat menyampaikan pendapat, berbagi informasi, hingga menanggapi berbagai isu secara terbuka. Kebebasan ini membawa manfaat besar, tetapi juga menuntut kedewasaan dalam bersikap. Tanpa etika dan pengendalian diri, ruang digital dapat berubah menjadi tempat lahirnya kesalahpahaman, pertentangan, bahkan perpecahan.
Bijak bersikap di ruang digital berarti mampu menempatkan diri secara proporsional. Tidak semua hal perlu ditanggapi dengan emosi, dan tidak setiap perbedaan harus diperdebatkan secara terbuka. Kemampuan untuk menyaring informasi, memeriksa kebenaran sebelum membagikannya, serta memilih kata-kata yang santun merupakan bentuk tanggung jawab moral. Sikap ini menunjukkan bahwa kebebasan berekspresi tetap berjalan seiring dengan kesadaran akan dampak yang ditimbulkan.
Etika menjadi fondasi utama dalam setiap interaksi. Dalam ajaran Islam, menjaga kehormatan orang lain adalah prinsip yang tidak dapat ditawar. Allah Swt berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, boleh jadi mereka yang direndahkan lebih baik dari mereka yang merendahkan.” (QS. Al-Hujurat: 11)
Ayat ini mengingatkan bahwa meremehkan, mencela, atau mempermalukan orang lain bertentangan dengan nilai keimanan. Ruang digital bukanlah tempat yang bebas dari tanggung jawab moral, setiap tulisan dan komentar tetap berada dalam pengawasan Allah Swt.
Empati juga menjadi unsur penting dalam interaksi modern. Di balik setiap akun dan unggahan, ada manusia dengan perasaan dan latar belakang yang beragam. Memahami bahwa orang lain bisa saja memiliki sudut pandang berbeda membantu kita untuk tidak tergesa-gesa dalam menilai atau menghakimi. Empati mendorong seseorang untuk mempertimbangkan dampak ucapannya sebelum disampaikan. Rasulullah saw bersabda:
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Prinsip ini sangat relevan dalam dunia digital. Menahan diri dari komentar yang menyakitkan atau provokatif bukanlah kelemahan, melainkan bentuk kekuatan karakter dan kedewasaan iman.
Dengan demikian, ruang digital adalah cerminan akhlak penggunanya. Jika diisi dengan etika, empati, dan tanggung jawab moral, ia dapat menjadi sarana menyebarkan ilmu, memperkuat persaudaraan, dan membangun peradaban yang lebih baik. Sebaliknya, tanpa kendali diri, ia mudah menjadi sumber konflik yang berkepanjangan. Karena itu, bijak bersikap di ruang digital bukan sekadar pilihan pribadi, melainkan kebutuhan bersama demi terciptanya interaksi yang lebih sehat dan bermartabat.