Pasca-gempa hebat yang mengguncang Cianjur pada akhir tahun 2022, banyak warga kehilangan tidak hanya tempat tinggal, tetapi juga harapan akan masa depan ekonomi mereka. Namun, di tengah keterbatasan tersebut, muncul sosok muda yang bertekad membawa perubahan bagi tanah kelahirannya. Muhammad Ridwan Sulaiman, atau yang akrab disapa Kang Ridwan, menjadi salah satu motor penggerak pemulihan desa di Kampung Pasir Cau, Desa Sukawangi, Kabupaten Cianjur.
Sosok Muda di Garis Depan
Di usianya yang ke-31 tahun, Kang Ridwan memikul tanggung jawab besar sebagai Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Sukawangi Sehat dan pengelola bidang ekonomi di Saung Ilmu Al-Azhar. Menjadi pemimpin muda di lingkungan pedesaan bukanlah perkara mudah. Ia mengaku pada awalnya banyak warga yang meragukan niatnya, mengingat banyak program bantuan sebelumnya yang hanya bersifat sementara atau “hangat-hangat tahi ayam”.
“Awalnya berat, menyatukan pola pikir masyarakat itu sulit, apalagi saya masih muda dibanding anggota lainnya,” kenang Ridwan. Namun, dengan ketekunan dan konsistensi, ia berhasil membuktikan bahwa program pemberdayaan yang dijalankannya bersama LAZ Al-Azhar dan Rumah Yatim mampu bertahan hingga tahun ketiga.
Transformasi Ekonomi Melalui Saung Al-Azhar
Pusat dari seluruh pergerakan ini adalah sebuah saung serbaguna yang kini menjadi jantung aktivitas warga. Di tempat inilah, Kang Ridwan mengelola berbagai pilar ekonomi desa, di antaranya:
1. Ketahanan Pangan: Melalui Rumah Pembiayaan Pertanian (RPP), warga diajak untuk memastikan ketersediaan pangan mandiri.
2. Permodalan Usaha: Program ini memberikan suntikan modal bagi para petani penggarap dan pelaku UMKM yang sebelumnya kesulitan biaya.
3. Peternakan Berkelanjutan: Warga yang memiliki keahlian beternak namun tidak memiliki modal untuk membuat kandang atau membeli bibit, ternak seperti domba dan unggas kini mendapatkan dukungan penuh.
Bagi Ridwan pribadi, keterlibatannya dalam program ini adalah proses belajar yang luar biasa. Dari yang sebelumnya tidak terbiasa dengan urusan manajerial, kini ia mahir dalam pembukuan, pengoperasian laptop, hingga manajemen organisasi.
Lebih dari Sekadar Ekonomi
Dampak keberadaan Saung Al-Azhar melampaui urusan materi. Ridwan menceritakan bagaimana fasilitas Saung Ilmu kini digunakan untuk kegiatan Posyandu yang jauh lebih layak. Sebelumnya, kegiatan kesehatan ibu dan anak tersebut sering kali terkendala tempat yang sempit dan kurang nyaman. Kini, masyarakat memiliki ruang publik yang bisa digunakan untuk belajar dan berdiskusi bersama.
Menatap Masa Depan: Harapan akan Regenerasi
Meskipun program ini telah berjalan stabil, Kang Ridwan tidak ingin berhenti di sini. Ia memiliki visi agar program pemberdayaan ini terus berkelanjutan (sustainable) meskipun nantinya tidak ada lagi pendampingan langsung dari lembaga mitra.
“Harapan saya adalah adanya regenerasi. Saya ingin ilmu yang saya dapatkan bisa diturunkan kepada pemuda lain, agar kegiatan di saung ini tidak bergantung pada satu orang saja,” pungkasnya dengan optimis. Melalui tangan dingin Kang Ridwan dan semangat gotong royong warga Pasir Cau, membuktikan bahwa kemandirian adalah kunci utama untuk bangkit dari bencana.