Allah Lebih Dekat Saat Kita Merasa Jauh

Allah Lebih Dekat Saat Kita Merasa Jauh


Nurul Aisyah
27/02/2026
17 VIEWS
SHARE

Ada masa dalam hidup ketika hati terasa kosong, doa seperti tak berbalas, dan ibadah terasa hambar. Kita merasa jauh dari Allah, seakan ada jarak yang memisahkan antara diri dan Tuhan. Namun justru pada saat-saat seperti itulah sering kali Allah sedang paling dekat dengan kita. Bukan karena kita sempurna, tetapi karena di titik itulah kita mulai mencari.

Perasaan jauh sering muncul ketika iman sedang turun, ketika kesalahan menumpuk, atau ketika ujian hidup terasa berat. Kita merasa tidak pantas berdoa, malu untuk kembali, bahkan takut untuk mengetuk pintu ampunan. Padahal Allah tidak pernah menjauh. Kitalah yang kadang melangkah menjauh, lalu menyadari kehilangan arah. Allah Swt berfirman:

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Ayat ini turun di tengah rangkaian ayat tentang puasa, seolah menegaskan bahwa dalam keadaan menahan diri, dalam rasa lemah dan lapar, Allah justru lebih dekat dari yang kita bayangkan. Kedekatan Allah bukan soal jarak fisik, melainkan soal perhatian, kasih sayang, dan pengabulan doa. Ketika seseorang merasa jauh, lalu ia mengangkat tangan dan berkata, “Ya Allah,” di situlah sebenarnya ia sedang berada sangat dekat.

Sering kali kita baru benar-benar mencari Allah ketika merasa kehilangan. Saat sehat, kita jarang memikirkan-Nya. Saat lapang, kita jarang memohon dengan sungguh-sungguh. Namun ketika hati hancur, ketika rencana gagal, ketika harapan runtuh, barulah doa menjadi lebih tulus dan air mata lebih jujur. Rasa jauh itu ternyata menjadi pintu untuk kembali. Rasulullah saw bersabda:

“Allah lebih gembira dengan tobat seorang hamba-Nya daripada kegembiraan seseorang yang menemukan kembali untanya yang hilang di padang pasir.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan betapa besar kasih sayang Allah kepada hamba yang kembali. Bahkan ketika kita merasa paling jauh, paling berdosa, dan paling tidak layak, Allah justru membuka pintu-Nya lebar-lebar. Rasa jauh yang kita alami bisa jadi adalah cara Allah menyadarkan kita bahwa kita membutuhkan-Nya.

Ada kalanya Allah membiarkan kita merasakan kekosongan agar kita sadar bahwa tidak ada yang mampu mengisi hati selain Dia. Ada kalanya Allah membiarkan kita merasa sendiri agar kita tahu bahwa sandaran sejati hanya kepada-Nya. Rasa jauh bukan selalu tanda ditinggalkan, tetapi bisa jadi tanda dipanggil untuk kembali.

Ketika seseorang mulai mencari, mulai bertanya, mulai merindukan ketenangan, itu sudah menjadi bukti bahwa hidayah sedang bekerja dalam dirinya. Hati yang mati tidak akan merasa jauh. Ia tidak peduli. Justru rasa gelisah, rasa kehilangan, dan rasa ingin kembali adalah tanda bahwa hubungan itu masih hidup.

Karena itu, jika hari ini kita merasa jauh dari Allah, jangan berhenti di rasa itu. Jadikan ia sebagai awal perjalanan pulang. Mulailah dengan doa sederhana, dengan istighfar pelan-pelan, dengan satu rakaat salat yang jujur, atau dengan membaca beberapa ayat Al-Qur’an. Langkah kecil itu mungkin terasa biasa, tetapi di sisi Allah ia sangat berarti.

 

 

Allah tidak pernah jauh. Kita yang kadang berhenti mencari. Dan ketika kita mulai mencari, di situlah kita menyadari bahwa Dia sebenarnya selalu dekat, bahkan lebih dekat daripada yang pernah kita rasakan sebelumnya.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA