Ramadan identik dengan berbagai ibadah yang terasa lebih panjang dari biasanya. Salat tarawih dengan rakaat yang banyak, tilawah Al-Qur’an yang ditargetkan khatam, serta qiyamul lail yang dilakukan hingga larut malam sering menjadi gambaran utama tentang kesungguhan beribadah di bulan suci. Namun, pernahkah kita bertanya, benarkah ibadah terpanjang di Ramadan itu salat? Atau justru ada bentuk ibadah lain yang tanpa kita sadari berlangsung jauh lebih lama dan lebih menguras kesabaran?
Rasulullah saw bersabda:
“Puasa itu separuh dari sabar.” (HR. At-Tirmidzi).
Hadis ini memberikan isyarat bahwa inti puasa tidak hanya terletak pada aktivitas fisik menahan lapar dan dahaga, tetapi pada kekuatan jiwa dalam menahan diri. Jika puasa begitu erat dengan kesabaran, maka Ramadan sejatinya adalah bulan latihan pengendalian diri. Seseorang mungkin mampu berdiri lama dalam salat, tetapi belum tentu mampu menjaga emosinya sepanjang hari ketika menghadapi sikap orang lain yang memancing amarah.
Rasulullah saw juga bersabda:
“Jika salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, maka jangan berkata kotor dan jangan berbuat gaduh. Jika seseorang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia berkata: Aku sedang berpuasa.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menegaskan bahwa puasa harus tercermin dalam interaksi sosial. Justru ketika seseorang dihina, disalahpahami, atau diperlakukan tidak menyenangkan, di situlah kualitas puasanya diuji. Kalimat “Aku sedang berpuasa” bukan hanya jawaban untuk orang lain, tetapi juga pengingat untuk diri sendiri agar tetap tenang dan tidak terpancing emosi. Dalam kondisi lapar dan lelah, menjaga sikap jauh lebih berat daripada sekadar menahan makan dan minum.
Rasulullah saw mengingatkan:
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Al-Bukhari).
Peringatan ini menunjukkan bahwa puasa bukan ritual kosong. Ia menuntut perubahan sikap dan akhlak. Jika seseorang rajin salat tarawih tetapi masih mudah marah, gemar membicarakan keburukan orang lain, atau menyakiti dengan kata-kata, maka ada yang belum sempurna dalam puasanya. Di sinilah muncul pemahaman bahwa ibadah terpanjang di Ramadan bukan hanya yang terlihat di masjid, tetapi yang berlangsung terus-menerus dalam interaksi sehari-hari.
Kesabaran menghadapi manusia berlangsung sejak sahur hingga berbuka, bahkan setelahnya. Di rumah, kita diuji oleh perbedaan pendapat. Di tempat kerja, kita diuji oleh tekanan dan kesalahpahaman. Di jalan dan media sosial, kita diuji oleh komentar dan sikap yang tidak selalu menyenangkan. Semua itu menjadi ladang pahala jika dihadapi dengan ketenangan dan pengendalian diri. Ibadah ini tidak memiliki rakaat, tidak memiliki hitungan halaman, dan tidak terdengar lantang seperti bacaan salat, tetapi nilainya sangat besar di sisi Allah.
Maka, benarkah ibadah terpanjang di Ramadan bukan salat? Jika yang dimaksud adalah durasi menjaga kesabaran sepanjang hari dalam menghadapi manusia, jawabannya bisa jadi benar. Salat memiliki waktu yang terbatas, sedangkan kesabaran berlangsung tanpa jeda. Ramadan bukan hanya melatih kita menjadi rajin beribadah secara ritual, tetapi juga membentuk pribadi yang lebih sabar, lebih lembut, dan lebih terkendali dalam bersikap. Jika setelah Ramadan kita menjadi lebih mampu menahan amarah dan menjaga lisan, maka itulah tanda bahwa kita telah menjalani ibadah terpanjang itu dengan baik.