Peran Perempuan dalam Tradisi Infak yang Sering Terabaikan

Peran Perempuan dalam Tradisi Infak yang Sering Terabaikan


Risdawati
30/04/2026
11 VIEWS
SHARE

Di tengah perubahan sosial dan ekonomi yang terus berkembang, peran perempuan dalam menopang kesejahteraan keluarga semakin nyata dan tak dapat diabaikan. Kehadiran mereka tidak hanya terlihat dalam kontribusi ekonomi melalui berbagai bidang pekerjaan, tetapi juga dalam peran yang lebih luas, yakni sebagai penjaga nilai kepedulian, pengelola kebutuhan rumah tangga, dan penggerak budaya berbagi.

Dalam banyak keluarga, perempuan kerap menjadi sosok yang menjaga keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan material dan penanaman nilai sosial. Dari tangan merekalah kebiasaan memberi, membantu, dan berinfak sering tumbuh serta diwariskan. Sayangnya, kontribusi besar ini masih kerap dipandang sebelah mata, padahal perempuan memiliki posisi penting dalam membangun tradisi infak yang hidup, baik di lingkup keluarga maupun masyarakat.

Landasan Islam tentang Peran Perempuan dalam Infak

Peran ini selaras dengan ajaran Islam yang menempatkan perempuan sebagai bagian penting dalam amal kebajikan. Islam memberikan ruang yang setara bagi perempuan untuk berinfak, bersedekah, dan berkontribusi dalam membangun kesejahteraan sosial. Kedermawanan tersebut telah dicontohkan langsung oleh Khadijah binti Khuwailid dan Aisyah binti Abu Bakar. Keduanya dikenal bukan hanya sebagai perempuan mulia, melainkan juga sebagai teladan dalam pengorbanan, kepedulian sosial, dan dukungan terhadap keluarga serta perjuangan umat.

Hal ini juga ditegaskan dalam Al-Quran Surah At-Taubah ayat 71, bahwa laki-laki dan perempuan beriman saling menolong dalam kebaikan. Ini menunjukkan bahwa tradisi berbagi bukan monopoli satu gender, melainkan tanggung jawab bersama.

Kontribusi Nyata Perempuan dalam Budaya Berbagi

Peran perempuan dalam tradisi infak sering hadir melalui berbagai bentuk yang terkadang tidak selalu terlihat secara langsung. Contohnya, banyak perempuan menjadi pengelola utama keuangan rumah tangga, dan menyisihkan sebagian penghasilan atau kebutuhan keluarga untuk membantu sesama. Di sisi lain, mereka juga berperan besar dalam mendidik anak-anak agar terbiasa berbagi sejak dini.

Tidak hanya berkontribusi secara materi, perempuan juga kerap memberikan infak dalam bentuk waktu, tenaga, perhatian, dan pendidikan. Keterlibatan dalam kegiatan sosial, majelis taklim, komunitas kemanusiaan, hingga gerakan filantropi modern menunjukkan bahwa kontribusi perempuan jauh melampaui sekadar pemberian finansial.

Mengapa Peran ini Sering Terabaikan?

Meskipun demikian, kontribusi perempuan dalam tradisi infak sering kali kurang mendapat perhatian karena banyak berlangsung di ruang domestik atau melalui peran-peran yang sering dianggap biasa. Padahal, dari kontribusi yang tampak sederhana inilah terbentuk fondasi kuat dalam menanamkan budaya kepedulian sosial.

Minimnya pengakuan terhadap peran tersebut membuat sejarah filantropi lebih sering menyoroti kontribusi laki-laki, sementara perempuan yang berperan besar dalam menjaga dan mewariskan nilai berbagi dalam keluarga serta masyarakat justru kerap terabaikan.

Dengan demikian, kontribusi perempuan bukan sekadar pelengkap dalam budaya berbagi, melainkan pilar utama yang menanamkan nilai berbagi dari generasi ke generasi. Sehingga, mengakui kontribusi perempuan dalam tradisi infak bukan hanya soal penghargaan sosial, melainkan juga bentuk pemahaman utuh terhadap ajaran Islam tentang keadilan, kebaikan, dan tanggung jawab bersama.

Dari rumah, komunitas hingga peradaban, perempuan telah membuktikan bahwa tangan yang memberi sering kali menjadi fondasi bagi lahirnya masyarakat yang lebih peduli dan berkeadaban.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA