Hari Tuli Nasional: Momentum Kepedulian dan Kesetaraan

Hari Tuli Nasional: Momentum Kepedulian dan Kesetaraan


Risdawati
11/01/2026
41 VIEWS
SHARE

Setiap tanggal 11 Januari Indonesia memperingati Hari Tuli Nasional, sebuah momentum penting untuk mengenang sekaligus melanjutkan kembali perjalanan panjang perjuangan komunitas Tuli di Indonesia dalam memperoleh pengakuan, kesetaraan, dan pemenuhan hak-hak dasar sebagai warga negara. Peringatan ini bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan ruang refleksi bersama untuk memahami bahwa keberagaman adalah bagian dari realitas sosial yang harus diterima dan dihormati. Hari Tuli Nasional mengajak kita untuk melihat isu ketulian bukan sebagai keterbatasan semata, melainkan sebagai bagian dari identitas manusia yang memiliki potensi, martabat, dan hak yang setara.

Sejarah Hari Tuli Nasional berakar dari perjuangan panjang komunitas Tuli Indonesia yang dimulai sejak berdirinya organisasi Tuli pertama, SEKATUBI (Serikat Kaum Tuli-Bisu Indonesia), pada 11 Januari 1960. Organisasi ini menjadi tonggak awal kebangkitan kesadaran kolektif komunitas Tuli untuk memperjuangkan akses pendidikan, kesempatan kerja, serta pengakuan sosial yang adil. Perjalanan tersebut kemudian berkembang melalui lahirnya berbagai organisasi daerah hingga terbentuknya Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (GERKATIN), yang hingga kini berperan aktif dalam memperjuangkan kesejahteraan dan hak-hak komunitas Tuli di Indonesia.

Namun, di balik berbagai capaian tersebut, tantangan yang dihadapi komunitas Tuli hingga kini masih belum sepenuhnya teratasi. Akses pendidikan yang inklusif, ketersediaan juru bahasa isyarat, serta penerimaan di lingkungan kerja masih menjadi persoalan nyata di berbagai daerah. Tidak sedikit penyandang Tuli yang menghadapi hambatan komunikasi, stigma sosial, dan kurangnya pemahaman dari lingkungan sekitar. Kondisi ini menunjukkan bahwa perjuangan menuju kesetaraan belum selesai dan membutuhkan keterlibatan banyak pihak, termasuk kita semua sebagai bagian dari masyarakat.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, memperjuangkan kesetaraan bagi komunitas Tuli sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan sosial, dan persaudaraan. Kita diajak untuk tidak hanya “mendengar” melalui suara, tetapi juga memahami melalui empati kesadaran dan tindakan nyata. Ketika ruang-ruang publik, pendidikan, dan pekerjaan semakin inklusif, maka kita sedang membangun masyarakat yang tidak meninggalkan siapa pun di belakang.

Momentum Hari Tuli Nasional menjadi pengingat bahwa kepedulian adalah langkah awal menuju perubahan. Kepedulian bukan hanya berarti memahami secara empatik, melainkan juga diwujudkan dalam tindakan nyata, seperti membuka ruang komunikasi yang setara, mendukung penggunaan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo), serta menciptakan lingkungan sosial yang ramah dan inklusif. Kesetaraan tidak lahir dari belas kasihan, tetapi dari kesadaran kolektif bahwa setiap individu berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang dan berkontribusi.

 

Author: Nurul Aisyah Rahmawati

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA