Seberapa Jauh Kita Berinteraksi dengan Al-Qur’an?

Seberapa Jauh Kita Berinteraksi dengan Al-Qur’an?


Nurul Aisyah
22/02/2026
11 VIEWS
SHARE

Al-Qur’an adalah anugerah terbesar yang Allah turunkan kepada umat manusia sebagai petunjuk hidup dan pembeda antara yang benar dan yang salah. Ia bukan sekadar bacaan yang dilantunkan dengan suara indah, tetapi cahaya yang seharusnya menerangi cara berpikir, bersikap, dan bertindak. Namun dalam realitas kehidupan sehari-hari, kedekatan kita dengan Al-Qur’an sering kali bersifat musiman dan simbolik. Ia terasa dekat di bulan Ramadan, tetapi perlahan menjauh di bulan-bulan berikutnya. Karena itu, penting bagi kita untuk bertanya dengan jujur: seberapa jauh kita benar-benar berinteraksi dengan Al-Qur’an, dan di tingkat mana posisi kita saat ini?

Sebagian orang masih berada pada tingkat paling dasar, yakni menjadikan Al-Qur’an sebatas simbol penghormatan. Mushaf tersimpan rapi di rak, ayat-ayat menghiasi dinding rumah atau terpajang dalam bentuk kaligrafi, tetapi jarang dibuka dan dibaca. Kehadirannya lebih bersifat estetis daripada fungsional. Pada tahap ini, Al-Qur’an memang dihormati secara fisik, tetapi belum dihadirkan sebagai pedoman yang membimbing kehidupan. Ia ada di rumah, namun belum tentu hadir dalam keputusan, kebiasaan, dan pola hidup kita.

Tingkat berikutnya adalah membaca atau tilawah. Ini adalah pintu awal interaksi yang sangat penting dan tidak boleh diremehkan. Rasulullah saw bersabda:

“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dilipatgandakan sepuluh kali.” (HR. at-Tirmidzi)

Membaca Al-Qur’an adalah ibadah yang besar pahalanya dan menjadi fondasi kedekatan dengan wahyu. Melalui tilawah, hati menjadi lebih tenang dan jiwa terasa lebih dekat dengan Allah. Namun demikian, membaca saja belum cukup jika tidak disertai upaya untuk memahami dan menghadirkan maknanya dalam kehidupan. Jika ayat-ayat hanya berhenti di lisan tanpa turun ke hati dan memengaruhi perilaku, maka interaksi kita masih berada pada tahap awal dan belum mencapai kedalaman yang diharapkan.

Setelah membaca, ada tahap yang lebih tinggi, yaitu memahami dan mentadabburi. Allah Swt berfirman:

“Sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (QS. Shad: 29)

Tadabbur menjadikan Al-Qur’an bukan hanya sekadar bacaan rutin, tetapi sumber renungan dan pembelajaran. Pada tahap ini, seseorang mulai berusaha menangkap pesan di balik setiap ayat, memahami nilai yang terkandung di dalamnya, dan menghubungkannya dengan realitas hidup yang dihadapi. Al-Qur’an mulai memengaruhi cara berpikir, membentuk sudut pandang, serta mengarahkan sikap dalam mengambil keputusan. Ia tidak lagi sekadar dilafalkan, tetapi mulai dihayati.

Namun interaksi paling tinggi dengan Al-Qur’an adalah ketika ia diamalkan dan diwujudkan dalam tindakan nyata. Pada tahap ini, ayat-ayat tentang kejujuran mendorong kita untuk meninggalkan kebohongan, ayat tentang amanah menjadikan kita lebih bertanggung jawab, dan ayat tentang kepedulian sosial melahirkan aksi nyata membantu sesama. Al-Qur’an menjadi navigasi dalam rumah tangga, dalam pekerjaan, dalam kepemimpinan, bahkan dalam menghadapi konflik dan persoalan hidup. Ia tidak hanya menjadi inspirasi, tetapi menjadi solusi dan standar moral yang hidup dalam keseharian.

Maka pertanyaan besar itu kembali kepada diri kita masing-masing: seberapa jauh kita berinteraksi dengan Al-Qur’an? Apakah kita baru sebatas menghormatinya dan membacanya, atau sudah sampai pada tahap menjadikannya pedoman yang mengubah akhlak dan membentuk karakter? Karena pada akhirnya, kemuliaan seorang Muslim bukan hanya diukur dari seberapa sering ia melantunkan ayat, tetapi dari seberapa dalam ayat-ayat itu mengakar dalam hatinya dan terwujud dalam perbuatannya.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA