Dari Gelap Menuju Cahaya: Kisah Taubat Imam Fudhail bin ‘Iyadh

Dari Gelap Menuju Cahaya: Kisah Taubat Imam Fudhail bin ‘Iyadh


Risdawati
13/01/2026
17 VIEWS
SHARE

Sejarah Islam menghadirkan banyak kisah tentang perubahan hidup yang lahir dari hidayah Allah Swt. Salah satunya adalah perjalanan taubat Imam Fudhail bin ‘Iyadh. Pada masa mudanya, Fudhail dikenal sebagai seorang perampok jalanan yang beraksi seorang diri. Ia menghadang para musafir di malam hari, merampas harta mereka, dan menjadi sumber ketakutan bagi siapa saja yang melintas. Hidupnya dipenuhi dosa dan kemaksiatan, jauh dari nilai-nilai kebaikan. Namanya dikenal bukan sebagai sosok terhormat, melainkan sebagai ancaman bagi keamanan orang lain. Namun, Allah Swt yang Maha membolak-balikkan hati memiliki rencana yang jauh lebih besar bagi dirinya.

Titik balik kehidupan Fudhail terjadi pada suatu malam ketika ia sedang berada dalam keadaan bermaksiat. Dalam kondisi itu, ia mendengar lantunan ayat Al-Qur’an yang begitu kuat menyentuh ke dalam hatinya. Allah Swt berfirman:

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan terhadap kebenaran yang telah diturunkan?” (QS. Al-Hadid: 16).

Ayat tersebut tidak sekadar terdengar sebagai bacaan, melainkan menjadi teguran langsung yang menyadarkan hatinya. Kalimat Ilahi itu seolah bertanya kepadanya tentang usia hidup yang telah ia habiskan dalam dosa, tentang hati yang selama ini keras, dan tentang kesempatan taubat yang masih terbuka. Pada saat itulah, Fudhail tersungkur dalam penyesalan, menangis, dan mengakui bahwa inilah saatnya kembali kepada Allah Swt dengan sebenar-benarnya taubat.

Kesadaran batin Fudhail semakin dalam ketika ia mendengar percakapan para musafir yang ketakutan melanjutkan perjalanan malam karena khawatir dirampok olehnya. Ia merenungi ironi hidupnya dengan penuh kegetiran dan rasa bersalah. Malam hari seharusnya menjadi waktu ketenangan dan istirahat bagi manusia, tetapi justru berubah menjadi waktu penuh kecemasan karena perbuatannya. Di sanalah Allah Swt memberikan taufik kepadanya, membuka rasa malu dan takut dalam hatinya. Ia menyadari bahwa selama ini dirinya telah menjadi sebab penderitaan orang lain, dan kesadaran itu menghancurkan sisa kesombongan yang ada dalam dirinya.

Taubat Fudhail bin ‘Iyadh bukanlah taubat sesaat yang lahir dari emosi, melainkan perubahan hidup yang nyata dan berkelanjutan. Ia benar-benar meninggalkan jalan maksiat, menjauh dari dosa-dosa lama, dan memulai kehidupan baru dengan kesungguhan yang luar biasa. Ia mendekatkan diri kepada Allah Swt melalui ibadah, memperbanyak muhasabah, serta bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, dalam proses itu, Allah Swt membersihkan hatinya dan menumbuhkan rasa takut serta cinta kepada-Nya. Rasulullah saw bersabda:

“Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.” (HR. Ibnu Majah).

Hadis ini menjadi gambaran nyata dalam perjalan hidup Fudhail, bahwa taubat yang tulus mampu menghapus masa lalu dan membuka lembaran kehidupan yang baru.

Seiring waktu, Allah Swt mengangkat derajat Fudhail bin ‘Iyadh menjadi seorang ulama besar yang dikenal karena kezuhudan, ketakwaan, dan kedalaman ilmunya. Ia tidak hanya menjadi pribadi yang saleh, tetapi juga menjadi ahli hadis dan guru bagi para imam besar dalam sejarah Islam. Dari seorang perampok yang ditakuti masyarakat, ia berubah menjadi sosok yang dihormati dan dijadikan rujukan ilmu. Perubahan ini menegaskan firman Allah Swt:

“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah:11).

Ayat ini menunjukkan bahwa iman dan ilmu mampu mengangkat seseorang dari kehinaan menuju kemuliaan, selama ia bersungguh-sungguh dalam memperbaiki diri.

Kisah taubat Imam Fudhail bin ‘Iyadh memberikan pelajaran mendalam bahwa tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni dan tidak ada manusia yang terlalu jauh untuk kembali kepada Allah Swt. Selama hati masih mau mendengar ayat-ayat-Nya dengan jujur dan tunduk, hidayah akan menemukan jalannya. Satu ayat Al-Qur’an yang disambut dengan hati yang terbuka mampu mengubah arah hidup seseorang secara total, menjadikannya bukan hanya pribadi yang lebih baik, melainkan juga sumber kebaikan bagi banyak orang.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA