Barbarossa, Panglima Laut yang Menggetarkan Eropa

Barbarossa, Panglima Laut yang Menggetarkan Eropa


Risdawati
15/04/2026
64 VIEWS
SHARE

Pernahkah kamu mendengar kisah seorang kapten laut berjanggut merah, dengan satu tangan terpotong dan satu mata tertutup? Sosok ini kerap digambarkan dalam film sebagai bajak laut kejam. Namun, kenyataannya ia adalah seorang mujahid laut Muslim yang ditakuti bangsa Eropa. Dunia mengenalnya dengan nama Barbarossa, yang berarti “si janggut merah”. Menariknya, Barbarossa bukan satu orang, melainkan dua bersaudara: ‘Aruj (Oruc) Barbarossa dan Khairuddin (Khizr) Barbarossa.

Kisah mereka berawal dari tragedi Andalusia. Ibunda mereka adalah seorang Muslimah yang berhasil melarikan diri dari kekejaman pasukan Salib. Ia menyaksikan sendiri bagaimana kaum Muslimin dipaksa menyembah salib, dipenjara, disiksa, bahkan dibantai hanya karena mempertahankan iman mereka. Pengalaman pilu itu menyalakan semangat jihad dalam diri anak-anaknya.

Ketika kaum Muslimin Andalusia yang terkurung di penjara-penjara bawah tanah gereja meminta pertolongan, Sultan Salim I dari Daulah Utsmaniyah mengutus ‘Aruj Barbarossa untuk memimpin penyelamatan. Bersama saudara-saudaranya Ishaq, Ilyas dan Khairuddin, ia berangkat ke medan jihad. Namun, perjuangan penuh ujian: Ilyas rahimahullah gugur di medan perang, sementara ‘Aruj ditawan oleh Ordo Ksatria Santo Yohanes, pasukan salib yang terkenal begitu kejam terhadap kaum Muslimin, dan kemudian ia dipenjarakan di Pulau Rhodes.

Walaupun demikian, perjuangan ini tidak berhenti. Khairuddin terus melawan, terlebih terhadap penguasa Muslim yang berkhianat dan bersekutu dengan Spanyol di wilayah Aljazair. Sementara itu, dengan kecerdikan dan keberanian, ‘Aruj berhasil melarikan diri, merebut kapal Salib, lalu bergabung kembali dengan Khairuddin di Aljazair. Dari sinilah nama Al-Akhawan Barbarossa mulai menggema, membuat pasukan Salib gentar hanya mendengar namanya.

Di Tlemcen, ‘Aruj menghadapi ujian terakhir. Penguasa kota yang berkhianat membuka gerbang bagi Spanyol dan membujuknya agar menyerah atau melarikan diri. Namun, ‘Aruj menolak. Ia memilih bertahan hingga titik akhir, gugur sebagai syuhada di jalan Allah. Sebelumnya, ia telah kehilangan satu tangan saat menyelamatkan perempuan dan anak-anak Muslim. Kehilangan itu tidak melemahkannya, justru menegaskan bahwa ia adalah panglima yang berjuang dengan seluruh dirinya.

Ketika Spanyol mengetahui bahwa ‘Aruj sendiri yang memimpin perlawanan, mereka mengirim pasukan besar dari Madrid untuk mengepungnya. ‘Aruj tetap teguh. Matanya menatap musuh, hatinya terpaut pada surga. Ia ditusuk dari berbagai arah, diserbu pedang, hingga tubuhnya tercabik.

Sebelum ajal menjemput, ia menengadah ke langit. Terbayang senyum anak-anak Andalusia yang pernah ia selamatkan. Di tengah kepungan, ia berseru: “Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Gugurnya ‘Aruj tidak memadamkan semangat umat. Saudara kandungnya, Khairuddin Barbarossa (Khizr), melanjutkan perjuangan. Ia membangun armada laut, menghancurkan kekuatan Spanyol, dan mengguncang Eropa hingga Paus Paulus III menyerukan keadaan darurat. Dalam Pertempuran Preveza (1538 M), meski kalah jumlah, Khairuddin meraih kemenangan mutlak atas armada Eropa pimpinan Andrea Doria.

Kemenangan itu menjadikan angkatan laut Utsmani penguasa Laut Tengah selama hampir tiga abad. Takbir bergema, kaum Muslimin bersujud syukur. Sultan Sulaiman al-Qanuni kemudian mengangkat Khairuddin sebagai Amir Jenderal seluruh armada laut Islam, meneruskan jihad yang pernah dimulai ayahnya, Sultan Salim I.

Namun, perjuangan Khairuddin tidak berhenti di medan perang. Ia berhasil menyelamatkan lebih dari 70.000 Muslim dan Yahudi Andalusia dari kekejaman pasukan Salib. Dengan keberanian luar biasa, ia berulang kali menyeberangi Laut Tengah untuk memindahkan anak-anak, wanita, dan lansia ke wilayah Islam di Afrika Utara. Karena jasanya, rakyat Andalusia memberinya gelar Khair ad-Din (kebaikan bagi agama), sementara bangsa Eropa menjulukinya Barbarossa

Kisah Barbarossa mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan hanya pada senjata atau armada, melainkan pada keberanian memikul amanah umat. Kepemimpinan lahir dari kesadaran sejarah, dari tanggung jawab di saat umat membutuhkan. Sejarah pun harus dibaca dengan adil: di balik propaganda Eropa tentang “bajak laut kejam”, tersimpan pengorbanan besar seorang pahlawan Islam yang patut dikenang. Semoga Allah merahmati Khairuddin Barbarossa, ‘Aruj Barbarossa’, saudara-saudaranya, serta para mujahid yang berjuang melawan kezaliman pasukan Salib.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA