Di Kampung Pasircau RT 02, Desa Sukawangi, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur, tinggal seorang pria bernama Solehudin, yang akrab disapa Isol. Lahir pada tahun 1985, perjalanan hidupnya dipenuhi berbagai upaya untuk bertahan dan mencari penghidupan.
Seperti banyak perantau lainnya, Isol pernah mencoba peruntungan di Tangerang. Saat itu, ia berjualan mie gulung secara kecil-kecilan demi menyambung hidup. Namun, usaha tersebut belum mampu memberinya kesetabilan yang ia harapkan.
Ia pun ke kampung halaman. Di sana, hari-harinya diisi dengan bertani, beternak, serta berbagai pekerjaan serabutan. Semua dijalani tanpa kepastian. Penghasilan yang tidak menentu membuat kehidupan terasa berjalan, tetapi belum benar-benar memberikan ketenangan.
Perubahan mulai terasa ketika program pemberdayaan dari LAZ Al Azhar hadir di wilayahnya. Saat itu, bahkan Saung Ilmu Kampung Perubahan belum berdiri. Dari sosialisasi awal, Isol mulai mengenal program tersebut dan memutuskan untuk bergabung.
Langkah pertamanya dimulai dari program Rumah Pembiayaan Pertanian (RPP), seiring waktu, ia melanjutkan ke program peternakan yang telah ia jalani selama kurang lebih satu setengah tahun. Dari sinilah, arah hidupnya mulai terlihat lebih jelas.
Isol memilih untuk fokus pada peternakan domba. Ia menaruh harapan besar agar usaha ini dapat membawanya menuju kemandirian.
Namun, perjalanan ity tidak selalu mudah. Ia harus menghadapi berbagai tantangan, mulai dari cuaca ekstrem saat mencari pakan hingga kondisi ternak yang tidak selalu stabil. Dalam situasi tertentu, ia bahkan pernah berada di titik sulit. Waktu yang tersita untuk merawat ternak membuatnya lebih sering berada di luar rumah dan jarang berkumpul bersama keluarga.
Meski demikian, usaha yang tekun dijalani perlahan membuahkan hasil. Kini, kehidupan Isol mulai berubah. Aktivitasnya menjadi lebih terarah dan rutin, terutama dalam mengelola ternak. Dari sisi ekonomi, tembahan penghasilan pun mulai dirasakan. Dari pengelolaan sembilan ekor ternak, ia pernah memperoleh hasil hingga Rp4,5 juta.
Saat ini, Isoal mengelola enam ekor ternak milik Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) dan telah memiliki delapan ekor ternak pribadi serta titipan. Capaian ini menunjukkan bahwa usahanya tidak lagi beada di titik awal, melainkan telah memasuki fase berkembang.
Perubahan tersebut tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga pada kehidupan keluarganya. Kini, ia merasakan suasana yang lebih tenang, harmonis, dan terarah dibandingkan sebelumnya.
Ke depan, Isol berharap dapat terus mengembangkan usahanya, terutama dalam memperkuat kemandirian modal dan menambah jumlah ternak.
Sebagai penutup, ia menyampaikan pesan penuh harap, “Jangan berhenti berdonasi, karena dampaknya sangat nyata bagi kami. Semoga para donatur dan yang berkurban selalu diberi kesehatan, kelancaran rezeki, keberkahan, dan dimudahkan untuk terus berkurban setiap tahun.”