Dahsyatnya Doa Seorang Ibu

Dahsyatnya Doa Seorang Ibu


Risdawati
17/04/2026
16 VIEWS
SHARE

Siapa yang tidak mengenal Imam al-Bukhari rahimahullah? Ia dikenal sebagai Amirul Mu’minin dalam bidang hadis. Nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Ju’fi al-Bukhari. Ia lahir pada Jumat, 13 Syawal 194 H di Bukhara. Sejak kecil, ia diasuh oleh ibunya karena sang ayah telah wafat lebih dulu.

Di masa kecilnya, Imam al-Bukhari mengalami gangguan berat pada kedua matanya hingga kehilangan penglihatan. Sang ibu tentu sangat bersedih, namun ia tidak berputus asa. Siang dan malam ia memanjatkan doa dengan penuh keikhlasan, deraian air mata, dan keyakinan kepada Allah, hingga akhirnya pertolongan itu datang.

Suatu malam, ibunda al-Bukhari bermimpi bertemu Nabi Ibrahim a.s. yang berkata, “Wahai ibu, Allah telah mengembalikan penglihatan putramu karena banyaknya doa yang engkau panjatkan.” Keesokan harinya, ia mendapati penglihatan anaknya benar-benar telah pulih.

Kesembuhan itu menjadi bukti nyata betapa dahsyatnya doa seorang ibu. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad saw, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

“Tiga doa yang tidak tertolak: doa orang tua, doa orang yang berpuasa, dan doa seorang musafir.” (HR. Al-Baihaqi; disahihkan oleh Syaikh Al-Albani).

Hadis ini mengingatkan bahwa doa orang tua, terutama seorang ibu bukan sekadar harapan, melainkan kekuatan yang mampu mengubah takdir dengan izin Allah. Maka, jangan pernah meremehkan doa yang terucap lirih dari hati seorang ibu, karena di sanalah tersimpan pertolongan yang sering kali datang dengan cara yang tak terduga.

Setelah Allah mengembalikan penglihatan Imam al-Bukhari, sang ibu tidak berhenti sampai di situ. Ia dengan penuh kesungguhan mendidik dan membimbing putranya. Dari didikan itulah, Imam al-Bukhari tumbuh menjadi pribadi yang mencintai ilmu.

Dalam perjalanannya, ia menjelajahi berbagai negeri Islam untuk mengumpulkan hadis-hadis Nabi. Dengan hafalan yang kuat, kesabaran yang luar biasa, serta ketelitian dalam meneliti sanad dan matan, ia memastikan setiap hadis yang dihimpunnya benar-benar sahih. Karyanya, Sahih al-Bukhari, kemudian dikenal sebagai kitab paling sahih setelah Al-Qur’an.

Kemampuan hafalan Imam al-Bukhari pun sangat mengagumkan. Ia pernah berkata, “Aku menghafal seratus ribu hadis sahih dan dua ratus ribu hadis yang tidak sahih.”

Kehebatan itu pernah diuji saat ia datang ke Baghdad. Para ulama setempat menyiapkan seratus hadis yang telah diacak sanad dan matannya. Hadis-hadis itu dibagi kepada sepuluh orang untuk diuji kepadanya. Setiap kali ditanya, Imam al-Bukhari menjawab, “Aku tidak mengetahuinya.” Namun, setelah semua selesai, ia justru membetulkan satu per satu hadis tersebut dan mengembalikan sanad dan matannya ke bentuk yang benar, hanya dengan sekali dengar.

Melihat hal itu, para ulama pun mengakui keunggulan hafalan dan kedudukan ilmiahnya. Dari kisah ini, terlihat bahwa doa seorang ibu bukan hanya mengundang pertolongan Allah, tetapi juga menjadi awal lahirnya generasi luar biasa. Doa yang tulus, disertai didikan yang sungguh-sungguh, mampu melahirkan karya yang manfaatnya terus hidup sepanjang zaman.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA