Tumpukan Struk Belanja di Dompet: Jejak Kecil Perjalanan Hidup

Tumpukan Struk Belanja di Dompet: Jejak Kecil Perjalanan Hidup


Risdawati
23/07/2026
9 VIEWS
SHARE

“Hidup ternyata tidak hanya meninggalkan kenangan dalam ingatan. Kadang, ia juga tersimpan diam-diam di sela dompet, pada selembar struk yang nyaris kita buang.”

Di sela kartu ATM, KTP, atau uang receh yang mulai kusut, sering kali terselip beberapa lembar struk belanja. Ukurannya kecil, tintanya perlahan memudar, dan hampir selalu terlupakan. Kita menyimpannya tanpa alasan yang jelas, lalu menemukannya lagi berminggu-minggu kemudian saat mencari sesuatu di dalam dompet.

Benda sederhana itu memang hanya bukti transaksi. Namun, jika diperhatikan lebih lama, ia menyimpan sesuatu yang lebih dari sekadar angka.

Setiap struk merekam satu hari yang pernah kita jalani. Ada struk dari minimarket ketika pulang kerja dan persediaan beras di rumah hampir habis. Ada struk dari apotek saat badan mulai terasa tidak enak. Ada pula struk dari toko buku, kedai kopi, atau pom bensin yang menjadi saksi perjalanan menuju tempat yang pernah kita datangi. Tidak ada yang tampak istimewa. Namun, justru dari hal-hal biasa itulah kehidupan berjalan.

Kita sering mengira hidup dibentuk oleh peristiwa-peristiwa besar: hari kelulusan, pernikahan, pekerjaan baru, atau perjalanan jauh. Padahal, sebagian besar waktu kita dihabiskan untuk menjalani rutinitas yang sederhana. Berbelanja kebutuhan dapur, membeli obat, mengisi bahan bakar, atau membawa pulang makanan untuk keluarga. Hari-hari yang tampak biasa itu perlahan menyusun cerita hidup tanpa kita sadari.

Barangkali karena terlalu sibuk melangkah, kita jarang berhenti untuk menyadari bahwa setiap pengeluaran juga menyimpan makna. Bukan semata tentang uang yang berkurang, melainkan tentang tanggung jawab yang sedang dijalankan. Tentang rezeki yang diusahakan, lalu digunakan untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri maupun orang-orang yang kita sayangi.

Dalam Islam, harta bukan hanya nikmat, tetapi juga amanah. Cara mendapatkannya, menggunakannya, hingga membelanjakannya adalah bagian dari tanggung jawab yang kelak dipertanyakan. Karena itu, selembar struk belanja yang tampak sepele pun dapat menjadi pengingat bahwa setiap rupiah pernah singgah di tangan kita dan telah kita putuskan ke mana ia akan pergi.

Mungkin itulah sebabnya tumpukan struk di dompet terasa lebih berarti ketika kita menemukannya kembali. Di sana ada tanggal-tanggal yang menandai hari-hari yang telah lewat. Ada nama toko yang tiba-tiba mengingatkan pada sebuah perjalanan. Bahkan ada total pembayaran yang membuat kita tersenyum kecil karena mengingat situasi saat itu.

Hidup rupanya tidak selalu meninggalkan jejak melalui foto atau unggahan media sosial. Sebagian jejak hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana: secarik kertas yang nyaris terlipat habis di dalam dompet.

Barangkali, lain kali saat menemukan tumpukan struk belanja, kita tidak perlu buru-buru membuangnya. Bukan karena kertas itu harus disimpan selamanya, melainkan karena ia sempat mengingatkan satu hal yang mudah terlupakan: bahwa di balik hari-hari yang terasa biasa, kita sebenarnya sedang menjalani hidup, menerima rezeki, memenuhi amanah, dan menapaki perjalanan yang sedikit demi sedikit membentuk siapa diri kita hari ini.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA