Sunah-Sunah Idulfitri yang Sering Terlupakan

Sunah-Sunah Idulfitri yang Sering Terlupakan


Nurul Aisyah
20/03/2026
15 VIEWS
SHARE

Idulfitri merupakan hari kemenangan bagi umat Islam setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh di bulan Ramadan. Pada hari yang penuh kebahagiaan ini, banyak orang fokus pada hal-hal lahiriah seperti mengenakan pakaian baru, menyajikan hidangan istimewa, dan berkumpul bersama keluarga. Padahal, terdapat berbagai sunah yang diajarkan dalam menyambut dan merayakan Idulfitri yang sering kali terlupakan.

Salah satu sunah yang dianjurkan adalah mandi sebelum melaksanakan shalat Idulfitri. Diriwayatkan dari Nafi’, ia berkata:

“‘Abdullah bin ‘Umar biasa mandi pada hari Idulfitri sebelum ia berangkat ke tempat shalat.” (HR. Malik dalam Al-Muwaththa’, no. 426; dinilai sahih oleh Imam Nawawi)

Hal ini menunjukkan pentingnya menjaga kebersihan dan kesegaran tubuh saat menghadiri momen berkumpulnya kaum Muslimin.

Selain itu, umat Islam dianjurkan untuk berhias diri dan mengenakan pakaian terbaik. Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki jubah khusus yang beliau gunakan untuk hari raya dan hari Jumat.” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya, no. 1765)

Namun demikian, dalam berhias tetap harus memperhatikan batasan syariat, khususnya bagi wanita agar tidak menampakkan perhiasannya di hadapan laki-laki yang bukan mahram.

Sunah berikutnya adalah makan sebelum berangkat melaksanakan shalat Idulfitri. Dari ‘Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak keluar pada hari Idulfitri hingga beliau makan terlebih dahulu.” (HR. Ahmad, 5: 352; hasan)

Hal ini bertujuan untuk menegaskan bahwa puasa telah berakhir, sehingga tidak disangka masih ada kewajiban menahan diri dari makan pada hari tersebut.

Mengumandangkan takbir juga merupakan sunah yang sangat dianjurkan pada hari Idulfitri. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Takbir dianjurkan sejak malam hari hingga menjelang pelaksanaan shalat Id sebagai bentuk pengagungan kepada Allah.

Sunah lainnya adalah melewati jalan yang berbeda saat berangkat dan pulang dari tempat shalat Id. Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila pada hari Id, beliau menempuh jalan yang berbeda (antara pergi dan pulang).” (HR. Bukhari, no. 986)

Di antara hikmahnya adalah agar lebih banyak tempat menjadi saksi atas amal ibadah yang dilakukan.

Terakhir, umat Islam dianjurkan untuk saling mengucapkan selamat pada hari raya. Dari Jubair bin Nufair, ia berkata:

“Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila saling bertemu pada hari Id, mereka mengucapkan: ‘Taqabbalallahu minna wa minkum.’” (HR. Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari, 2: 446; sanadnya hasan)

Ucapan ini merupakan doa agar Allah menerima amal ibadah yang telah dilakukan.

Dengan memahami dan mengamalkan sunah-sunah Idulfitri, seorang Muslim dapat merayakan hari raya tidak hanya dengan kebahagiaan lahiriah, tetapi juga dengan nilai ibadah yang lebih mendalam. Idulfitri bukan sekadar perayaan, melainkan momentum untuk memperkuat ketaatan, memperindah akhlak, dan menjaga semangat ibadah setelah Ramadan berakhir.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA