Kisah Seorang Ibu Memasak Batu di Zaman Umar bin Khattab

Kisah Seorang Ibu Memasak Batu di Zaman Umar bin Khattab


Siti Adidah
26/10/2023

Suatu masa dalam kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab, negeri Arab dilanda paceklik. Hujan lama tak turun, tanah lama kering kerontang, tanaman pertanian mengering, dan banyak hewan ternak yang mati kehausan. Keadaan saat itu sungguh memprihatinkan. Sudah menjadi kebiasaan bahwa hampir tiap malam, Khalifah Umar melakukan perjalanan secara diam-diam. Ia masuk-keluar perkampungan untuk mengetahui keadaan rakyatnya. Malam itu, ditemani sahabatnya, Aslam, Khalifah Umar memasuki kampung kecil di tengah gurun. Dari sebuah rumah sederhana, terdengar tangis memilukan seorang anak. Langkah Umar pun terhenti. Kemudian beliau mengajak Aslam ke arah suara tangis itu.

“Mungkin penghuninya butuh pertolongan,” katanya kepada Aslam.

Kebetulan pintu terbuka. Khalifah Umar melihat seorang ibu sedang memasak. Api di tungku menyala-nyala. Si ibu sibuk mengaduk-aduk isi panci yang dijerang di atasnya. 

“Assalamu’alaikum,” Khalifah Umar memberi salam.

Si ibu terkejut dan ia menoleh seraya membalas ucapan salam dari Khalifah Umar. Namun ia tidak beranjak dari tempatnya. Khalifah Umar lantas bertanya, “Siapa yang menangis di dalam, Bu?”

“Anakku,” jawab si ibu.

“Apakah dia sakit?” tanya Khalifah Umar lagi.

Si ibu menggeleng. “Dia kelaparan,” katanya pelan.

Baca juga: Kisah Kesabaran Nabi Ayyub as

Khalifah Umar dan Aslam saling berpandangan. Mereka duduk di depan rumah selama hampir satu jam. Akan tetapi, makanan yang dimasak si ibu tak juga matang. Karena penasaran, Khalifah Umar kembali bertanya, “Sebenarnya apa yang ibu masak? Mengapa tidak juga matang?”

“Sebaiknya Tuan lihat sendiri,” jawab si ibu.

Ketika Khalifah Umar masuk ke dalam rumah dan dia melihat apa yang ada di dalam panci tersebut, tampak air menggelegak dan di dalamnya terlihat beberapa butir kerikil. Betapa terkejut Khalifah Umar melihatnya.

“Ibu memasak batu?”

Si ibu mengangguk sembari berkata, “Aku seorang janda. Hari ini aku tak punya makanan yang dapat dimakan oleh anakku. Maka aku menyuruhnya berpuasa. Tadinya, aku berharap menjelang puasa akan mendapat rezeki, ternyata tidak. Terpaksa aku berpura-pura memasak untuk menghibur anakku. Kukumpulkan kerikil lalu aku rebus dalam panci. Aku minta ia tidur sambil menunggu makanan matang. Tetapi, sebentar-bentar ia terbangun dan menangis karena perutnya lapar.”

Hati Khalifah Umar terasa pilu. Ia ingin menangis mendengar penuturan si ibu. Ia bergegas mengajak Aslam pulang ke Madinah. Sesampainya di Madinah, Khalifah Umar mengambil sekarung gandum. Ia memanggul gandum itu ke rumah si ibu. 

Baca juga: Kisah Abu Dahdah yang Relakan 600 Pohon Kurma

Di tengah perjalanan, Aslam berkata, “Wahai Amirul Mukminin, biarlah aku yang memanggul karung itu.”

“Tidak, Aslam,” kata Khalifah Umar. “Jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Engkau ingin mengantikanku memikul beban ini. Tapi, kau tidak akan bisa memilkul beban di pundakku pada hari pembalasan.”

Khalifah Umar datang lagi ke rumah si ibu. Ia menyerahkan sekarung gandum yang dibawanya kepada perempuan itu. 

Si ibu terkejut, “Siapa Tuan sebenarnya?”

Khalifah Umar tersenyum, “Aku adalah Umar bin Khattab. Aku adalah seorang hamba Allah yang diamanahkan untuk mengurus keperluan rakyat. Maafkan aku karena telah mengabaikan ibu.”

Pemimpin beriman adalah pemimpin yang memiliki sifat rendah hati dan amanah. Melakukan segala sesuatu karena Allah. Baginya, memimpin sama dengan memberikan pelayanan terbaik kepada rakyat. 

BACA JUGA