Ketika Fitrah Mulai Tergeser

Ketika Fitrah Mulai Tergeser


Risdawati
17/07/2026
10 VIEWS
SHARE

“Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki.” (HR. Bukhari).

Hadis tersebut mungkin terdengar tegas. Namun, di balik ketegasannya tersimpan pesan penting bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga fitrah yang telah Allah tetapkan. Fitrah merupakan keadaan alami yang Allah anugerahkan kepada setiap manusia sejak lahir. Allah Swt berfirman,

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); sesuai fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum: 30)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa fitrah merupakan bagian dari ketetapan Allah. Para ulama menjelaskan bahwa fitrah tidak hanya berkaitan dengan kecenderungan manusia untuk mengenal dan menyembah Allah, tetapi juga mencakup segala ketentuan yang telah ditetapkan-Nya bagi laki-laki dan perempuan. Karena itu, menjaga fitrah berarti menjaga diri agar tetap berada dalam batas-batas yang ditetapkan syariat.

Sayangnya, batas tersebut kini semakin sering dikaburkan. Melalui media sosial, kita dapat dengan mudah menemukan laki-laki yang sengaja berpenampilan menyerupai perempuan atau perempuan yang menampilkan diri menyerupai laki-laki. Fenomena ini tidak jarang dipertontonkan secara terbuka oleh figur publik, kreator konten, perias (makeup artist/MUA), hingga selebritas demi menarik perhatian atau mengejar popularitas.

Padahal, Rasulullah saw telah memberikan peringatan yang jelas melalui hadis tersebut. Larangan menyerupai lawan jenis bukan dimaksudkan untuk merendahkan salah satu pihak, melainkan sebagai bentuk penjagaan terhadap fitrah manusia. Islam memuliakan laki-laki dan perempuan sebagai hamba Allah yang memiliki kedudukan yang sama di hadapan-Nya. Akan tetapi, keduanya diciptakan dengan karakter, peran, serta ketentuan yang berbeda.

Perlu dipahami pula bahwa larangan tersebut bukan ditujukan kepada seseorang yang secara alami memiliki pembawaan lembut atau tegas. Yang dilarang adalah kesengajaan menyerupai lawan jenis, baik dalam cara berpakaian, berhias, berbicara, berjalan, maupun perilaku yang menjadi ciri khasnya. Apalagi jika hal itu dilakukan sebagai bentuk kebanggaan atau demi memperoleh pengakuan dari orang lain.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa tidak semua yang ramai diperbincangkan atau dianggap lumrah oleh masyarakat sejalan dengan ajaran Islam. Ukuran benar dan salah dalam kehidupan seorang muslim tidak ditentukan oleh jumlah pengikut, tayangan, atau pujian di media sosial, melainkan oleh kesesuaiannya dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Rasulullah saw juga bersabda bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Orang tualah yang kemudian dapat memengaruhi arah kehidupannya. Hadis ini menunjukkan bahwa menjaga fitrah bukan hanya menjadi tanggung jawab setiap individu, tetapi juga keluarga dan lingkungan. Oleh sebab itu, pendidikan, keteladanan, dan saling mengingatkan dalam kebaikan memiliki peran penting agar fitrah tetap terpelihara.

Oleh karena itu, barangkali tantangan terbesar saat ini bukan lagi membedakan mana yang sedang menjadi tren, melainkan mana yang benar menurut syariat. Di situlah seorang muslim diuji: apakah akan mengikuti arus yang terus berubah atau tetap menjaga fitrah yang telah Allah tetapkan, meskipun harus berbeda dengan kebiasaan kebanyakan orang.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA