Setiap 15 Februari, dunia memperingati Hari Kanker Anak Internasional (International Childhood Cancer Day/ICCD) sebagai momentum global untuk meningkatkan kesadaran, akses perawatan, serta dukungan bagi anak-anak yang berjuang melawan kanker. Peringatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi pengingat bahwa di balik setiap data statistik, ada anak dan keluarga yang menghadapi proses panjang penuh ketidakpastian, namun tetap menyimpan harapan untuk sembuh dan kembali menjalani masa kecilnya.
Hari Kanker Anak Internasional pertama kali diluncurkan pada 2002 oleh Childhood Cancer International (CCI), jaringan organisasi orang tua dan penyintas kanker anak terbesar di dunia. Seiring waktu, kampanye ini mendapat dukungan luas, termasuk dari World Health Organization (WHO) yang pada 2018 meluncurkan Global Initiative for Childhood Cancer (GICC). Inisiatif ini menargetkan peningkatan angka kelangsungan hidup kanker anak secara global hingga minimal 60 persen pada 2030.
Menurut WHO, setiap tahun sekitar 400.000 anak dan remaja usia 0–19 tahun didiagnosis kanker di seluruh dunia. Jenis yang paling umum meliputi leukemia, tumor otak, limfoma, serta tumor padat seperti neuroblastoma dan tumor Wilms. Namun, peluang bertahan hidup sangat dipengaruhi oleh akses layanan kesehatan. Di negara berpenghasilan tinggi, tingkat kelangsungan hidup bisa melampaui 80 persen, sementara di banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah angkanya masih jauh lebih rendah akibat keterlambatan diagnosis, keterbatasan obat esensial, dan fasilitas perawatan yang belum merata.
Tahun 2026 menjadi puncak kampanye global tiga tahun (2024–2026) bertajuk “Demonstrating Impact: From Challenge to Change”. Tema ini menegaskan bahwa perubahan nyata dalam tata kelola kanker anak bukan hal mustahil. Tantangan seperti diagnosis terlambat, kurangnya tenaga kesehatan terlatih, serta beban finansial keluarga memang nyata. Namun, berbagai negara mulai menunjukkan kemajuan melalui penguatan sistem kesehatan, registri kanker berbasis populasi, serta integrasi kanker anak dalam kebijakan nasional.
Berbeda dengan kanker pada orang dewasa, sebagian besar kanker anak tidak berkaitan dengan gaya hidup dan umumnya tidak dapat dicegah. Karena itu, deteksi dini dan rujukan cepat menjadi kunci. Gejala seperti demam berkepanjangan, memar tanpa sebab jelas, nyeri tulang terus-menerus, sakit kepala disertai muntah, atau pembengkakan yang tidak biasa perlu segera diperiksakan. Semakin cepat terdiagnosis, semakin besar peluang kesembuhan.
Hari Kanker Anak Internasional juga mengajak masyarakat untuk terlibat dalam aksi nyata: meningkatkan literasi kesehatan, mendukung organisasi pendamping pasien, mengurangi stigma terhadap penyintas, serta mendorong kebijakan publik yang memperkuat layanan kanker anak. Di Indonesia, berbagai yayasan dan komunitas turut berperan memberikan dukungan medis, psikologis, dan sosial bagi keluarga pasien.
Peringatan tahun 2026 ini mengingatkan bahwa dari tantangan dapat lahir perubahan, dan dari perjuangan dapat tumbuh harapan. Setiap anak berhak atas kesempatan untuk sembuh dan tumbuh sehat. Dengan kolaborasi global, kebijakan yang berpihak pada akses setara, serta kepedulian masyarakat, masa depan yang lebih cerah bagi anak-anak penyintas kanker bukan sekadar cita-cita, melainkan tujuan yang terus diupayakan bersama.