Efek Paling Mengerikan Saat Salat Mulai Ditinggalkan

Efek Paling Mengerikan Saat Salat Mulai Ditinggalkan


Nurul Aisyah
19/02/2026
18 VIEWS
SHARE

Banyak orang membayangkan bahwa dampak paling menakutkan dari meninggalkan salat adalah datangnya azab atau musibah yang terlihat secara nyata. Padahal, efek yang paling mengerikan justru terjadi secara perlahan dan sering tidak disadari, yaitu perubahan pada hati. Awalnya mungkin hanya menunda waktu salat karena kesibukan atau rasa malas. Lalu kebiasaan itu berulang, hingga pada titik tertentu salat mulai ditinggalkan. Yang lebih berbahaya, rasa bersalah yang dulu terasa kini perlahan menghilang, seakan hati menjadi kebal terhadap kelalaian.

Salat adalah tiang agama dan penghubung utama antara hamba dengan Allah Swt. Ketika salat dijaga, hati memiliki tempat untuk kembali, mengadu, dan menenangkan diri. Namun saat salat mulai diremehkan, hubungan itu pun melemah. Allah Swt berfirman:

“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)

Ayat ini menunjukkan bahwa salat berfungsi sebagai penjaga moral dan benteng diri. Jika salat ditinggalkan, maka benteng tersebut runtuh sedikit demi sedikit. Tanpa perlindungan itu, hati menjadi lebih mudah terseret pada kelalaian dan maksiat, serta semakin jauh dari rasa takut dan harap kepada Allah.

Efek mengerikan lainnya adalah hilangnya kegelisahan ketika lalai. Dulu, ketika satu waktu salat terlewat, hati terasa sempit dan tidak tenang. Ada dorongan kuat untuk segera mengganti dan memohon ampun. Namun ketika kelalaian menjadi kebiasaan, rasa tidak nyaman itu tercabut perlahan. Inilah tanda bahwa hati mulai mengeras. Bukan karena Allah menjauh, tetapi karena hati kita yang perlahan menjauh dari-Nya. Rasulullah saw bersabda:

“Perjanjian antara kami dan mereka adalah salat. Barang siapa meninggalkannya, maka sungguh ia telah kafir.” (HR. Tirmidzi)

Hadis ini menunjukkan betapa seriusnya perkara salat dalam Islam. Ia bukan sekadar ibadah tambahan, melainkan fondasi utama keimanan. Ketika salat mulai ditinggalkan, yang terancam bukan hanya rutinitas ibadah, tetapi kualitas iman itu sendiri.

Selain itu, ada kondisi lain yang juga perlu diwaspadai, yaitu ketika salat masih dilakukan, tetapi tanpa kehadiran hati. Gerakan dilakukan, bacaan dilafalkan, namun pikiran sibuk memikirkan urusan dunia. Lebih berbahaya lagi ketika seseorang tidak berusaha memahami makna bacaan yang ia ucapkan. Kekhusyukan terasa sulit diraih bukan karena Allah tidak menerima, melainkan karena hati belum sungguh-sungguh hadir.

Karena itu, efek paling mengerikan dari meninggalkan salat bukanlah sesuatu yang langsung terlihat di luar, tetapi perubahan yang terjadi di dalam. Hati menjadi keras, kepekaan terhadap dosa memudar, dan hubungan dengan Allah Swt semakin renggang. Selama masih ada rasa bersalah ketika lalai, itu tanda hati masih hidup. Jangan biarkan rasa itu hilang. Sebab ketika hati sudah tidak lagi terganggu oleh kelalaian, di situlah bahaya terbesar sedang terjadi tanpa kita sadari.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA