Bulan Syawal sering kali identik dengan suasana hangat pasca-Idulfitri, waktu di mana hati kembali bersih, silaturahmi terjalin, dan harapan baru tumbuh. Di tengah momentum ini, Islam juga mengenalkan satu anjuran yang mungkin belum banyak dipahami secara mendalam, yaitu menikah di bulan Syawal.
Anjuran ini bukan sekadar tradisi atau kebiasaan, tetapi juga memiliki landasan historis dan hikmah yang sarat makna. Lantas, mengapa menikah di bulan Syawal dianjurkan? Apa saja nilai dan pelajaran yang bisa dipetik dari anjuran tersebut?
Menikah di bulan Syawal merupakan sunah Rasulullah saw. Hal ini merujuk pada peristiwa beliau yang menikahi Aisyah binti Abu Bakar pada bulan tersebut dan membangun rumah tangga pada waktu yang sama. Peristiwa ini sekaligus menjadi landasan utama mengapa pernikahan di momen Syawal dianjurkan.
Aisyah radhiyallahu ‘anha istri Nabi saw menceritakan,
“Rasulullah saw menikahiku di bulan Syawal, dan membangun rumah tangga denganku pada bulan Syawal pula. Maka isteri-isteri Rasulullah saw yang manakah yang lebih beruntung di sisinya dariku?” Perawi berkata, “Aisyah radhiyallahu ‘anha dahulu suka menikahkan para wanita di bulan Syawal.” (HR. Muslim).
Selain sebagai bentuk meneladani sunah Nabi, pernikahan pada bulan ini juga menepis anggapan bahwa akan mendatangkan kesialan dan tidak membawa keberkahan bagi kedua pengantin. Anggapan ini berasal dari kepercayaan masyarakat Arab Jahiliah. Tentu, ini salah satu kepercayaan yang keliru dan tidak benar, karena yang menentukan berkah tidaknya sebuah pernikahan hanya Allah Swt.
Hal ini juga dijelaskan oleh Ibnu Katsir rahimahullah, yang menyebutkan bahwa “Rasulullah saw menikahi Aisyah untuk membantah keyakinan yang salah sebagian masyarakat, yaitu tidak suka menikah di antara dua ‘ied (bulan Syawal termasuk di antara Idulfitri dan Iduladha); mereka khawatir akan terjadi perceraian. Keyakinan ini tidaklah benar.” (Al-Bidayah wan Nihayah, 3: 253).
Dari sisi spiritual, pernikahan di bulan ini menyimpan makna yang dalam. Setelah ditempa selama Ramadan, Syawal hadir sebagai simbol awal baru dan tumbuhnya harapan. Pernikahan yang dilangsungkan pada bulan ini diharapkan berangkat dari kesiapan jiwa yang lebih matang, sehingga mampu membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Selain itu, suasana Idulfitri di awal Syawal turut menghadirkan kehangatan tersendiri. Silaturahmi dengan keluarga besar menjadi lebih erat, dan doa-doa kebaikan mengalir lebih luas. Tak mengherankan jika banyak pasangan Muslim memilih bulan ini sebagai waktu untuk mengikat janji suci.
Seiring meningkatnya pemahaman umat tentang keutamaan Syawal, diharapkan berbagai mitos yang tidak selaras dengan ajaran Islam dapat ditinggalkan. Menikah di bulan ini bukan sekadar soal waktu, tetapi juga merupakan langkah spiritual yang penuh hikmah sekaligus menghidupkan sunah Rasulullah saw.
Bagi pasangan yang tengah merencanakan pernikahan, Syawal bisa menjadi momen yang tepat untuk memulai perjalanan rumah tangga yang penuh keberkahan.