Kesadaran akan krisis lingkungan kerap dianggap sebagai isu modern, padahal fondasi keberlanjutan hidup telah diletakkan oleh Islam sejak empat belas abad silam. Menghemat energi bukan sekadar upaya menekan biaya hidup atau menjaga pasokan sumber daya, melainkan sebuah bentuk ketaatan teologis. Rasulullah saw melalui lisan dan perbuatannya telah memberikan keteladanan nyata bahwa setiap sumber daya yang kita gunakan di bumi ini adalah titipan yang akan dimintai pertanggungjawabannya.
Landasan Qur’ani: Larangan Berlebih-Lebihan
Islam dengan tegas melarang perilaku konsumtif yang melampaui batas (israf). Hal ini ditegaskan Allah Swt dalam Al-Qur'an:
“Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A’raf [7]: 31).
Ayat ini merupakan rambu utama bagi umat Muslim. Jika dalam hal makan dan berpakaian saja kita dilarang berlebihan, maka penggunaan energi seperti listrik dan bahan bakar pun harus dikelola dengan penuh kebijaksanaan. Perilaku boros (tabdzir) bahkan disejajarkan dengan sifat setan, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Isra [17]: 27, yang menyebutkan bahwa para pemboros adalah saudara-saudara setan.
Instruksi Rasulullah saw dalam Hal Teknis
Rasulullah saw sangat memperhatikan efisiensi, bahkan dalam hal-hal kecil yang mungkin dianggap sepele. Beliau memerintahkan umatnya untuk bertindak preventif dalam menggunakan sumber energi di malam hari:
“Apabila malam mulai gelap atau telah masuk waktu malam, maka tahanlah anak-anak kalian, karena di waktu itu setan-setan berkeliaran. Jikalau telah berlalu sebagian waktu malam, maka lepaskanlah mereka. Tutuplah pintumu, kemudian sebutlah nama Allah. Matikanlah lampumu, kemudian sebutlah nama Allah. Ikatlah kantong air minummu, kemudian sebutlah nama Allah. Tutuplah bejanamu, kemudian sebutlah nama Allah, meski dengan hanya meletakkan sesuatu di atasnya.” (HR. Bukhari).
Pesan ini, jika ditarik ke konteks masa kini, sangat relevan dengan kebiasaan mematikan lampu atau mencabut perangkat elektronik yang tidak terpakai. Selain itu, Rasulullah juga mencontohkan penghematan air secara ekstrem saat berwudu, meski air tersebut tersedia melimpah di sungai yang mengalir. Beliau menegur sahabat Sa'ad yang berlebihan saat berwudu: “Mengapa boros seperti ini, wahai Sa'ad?” Sa'ad bertanya, “Apakah dalam wudu ada pemborosan?” Beliau menjawab, “Ya, meskipun kamu berada di sungai yang mengalir.” (HR. Ahmad).
Energi sebagai Milik Publik
Rasulullah saw juga menekankan bahwa sumber daya strategis tidak boleh dimonopoli oleh segelintir orang, karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Beliau bersabda:
“Umat Islam berserikat dalam tiga hal: air, rumput (lahan gembalaan), dan api (bahan bakar/energi).” (HR. Abu Dawud).
Hadis ini menunjukkan bahwa energi (yang diwakili oleh kata 'api') merupakan aset publik yang pengelolaannya harus ditujukan untuk kesejahteraan bersama, bukan untuk eksploitasi yang merusak keseimbangan alam.
Dengan demikian, menerapkan gaya hidup hemat energi merupakan langkah kecil namun berdampak besar sebagai wujud rahmatan lil ‘alamin. Dengan mengikuti sunah Rasulullah dalam hal efisiensi, kita tidak hanya menjaga kelestarian bumi untuk generasi mendatang, tetapi juga menjalankan amanah sebagai khalifah di muka bumi yang bertanggung jawab atas setiap nikmat yang diberikan Allah Swt.