Ketika Rasulullah Diperlihatkan Neraka dalam Perjalanan Isra Mikraj

Ketika Rasulullah Diperlihatkan Neraka dalam Perjalanan Isra Mikraj


Risdawati
15/01/2026
21 VIEWS
SHARE

Peristiwa Isra Mikraj dikenal luas sebagai perjalanan agung Rasulullah saw yang melahirkan perintah salat lima waktu bagi umat Islam. Namun, di balik peristiwa monumental tersebut, terdapat rangkaian pengalaman lain yang mengandung banyak pelajaran penting. Dalam perjalanan suci itu, Rasulullah saw juga diperlihatkan keadaan neraka, bukan sebagai tontonan yang menakutkan semata, melainkan sebagai bentuk pendidikan ilahi agar manusia memahami bahwa kehidupan dunia memiliki konsekuensi yang nyata di akhirat. Peringatan ini menunjukkan bahwa kasih sayang Allah tidak hanya hadir dalam bentuk keringanan ibadah, tetapi juga melalui peringatan agar manusia tidak terjerumus tanpa kesadaran.

Dalam perjalanan Mikraj, Rasulullah saw ditemani Malaikat Jibril dan diberi kesempatan menyaksikan secara langsung keadaan neraka beserta sebagian penghuninya. Beliau menggambarkan pemandangan itu sebagai sesuatu yang sangat mengerikan dan belum pernah beliau saksikan sebelumnya. Ketika sampai di pintu neraka, Rasulullah saw berjumpa dengan Malaikat Malik, penjaga neraka, yang tidak menyambut dengan senyuman sebagaimana malaikat-malaikat lain yang ditemui sebelumnya. Gambaran ini sejalan dengan firman Allah Swt tentang tegasnya keadilan dan kerasnya penjaga nereka:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras.” (QS. At-Tahrim: 6).

 Saat pintu neraka diperlihatkan, Rasulullah saw menyaksikan berbagai bentuk azab yang dialami manusia sesuai dengan dosa yang mereka lakukan semasa hidup. Di antaranya adalah orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim. Mereka digambarkan menelan api sebagai balasan atas perbuatan yang merampas hak pihak yang lemah. Gambaran ini menguatkan peringatan Allah Swt yang tegas dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api ke dalam perutnya.” (QS. An-Nisa: 10).

Dalam perjalanan selanjutnya, Rasulullah saw juga melihat sekelompok manusia dengan perut yang sangat besar dan berat, tampak kebingungan dan terseret menuju neraka. Malaikat Jibril menjelaskan bahwa mereka adalah pemakan riba. Pemandangan ini menjadi peringatan bahwa kezaliman dalam urusan harta, meskipun sering dianggap biasa di dunia, memiliki dampak yang sangat berat di akhirat. Allah Swt telah mengingatkan bahaya riba secara jelas:

“Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila.” (QS. Al-Baqarah: 275)

Rasulullah saw juga diperlihatkan bentuk-bentuk azab lain yang berkaitan dengan pengkhianatan terhadap amanah, penyimpangan moral, dan pelanggaran batas-batas yang telah Allah tetapkan. Seluruh gambaran tersebut memiliki satu benang merah yang kuat, yaitu bahwa dosa-dosa yang berkaitan dengan hak orang lain dan kerusakan moral tidak pernah dianggap ringan di sisi Allah, meskipun sering disepelekan dalam kehidupan dunia. 

Namun, peringatan ini tidak berdiri sebagai ancaman yang memutus harapan. Justru, ia hadir sebagai panggilan agar manusia segera kembali, memperbaiki diri, dan tidak menunda taubat. Allah Swt membuka pintu rahmat-Nya seluas-luasnya bagi siapa pun yang mau kembali dengan sungguh-sungguh:

“Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53)

Dengan merenungi kisah Rasulullah saw yang diperlihatkan neraka saat Isra Mikraj, umat islam diajak memandang iman secara lebih utuh. Iman tidak hanya tercermin dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam kejujuran, amanah, dan tanggung jawab sosial. Perjalanan suci tersebut menjadi pengingat yang diambil hari ini akan menentukan keadaan manusia di hadapan Allah Swt kelak.

 

Author: Nurul Aisyah Rahmawati

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA