Dalam sepekan terakhir, suasana dini hari terasa berbeda. Di banyak rumah, lapangan, hingga sudut-sudut kampung dan kota, orang-orang rela mengurangi waktu tidurnya demi menyaksikan pertandingan sepak bola. Layar tancap dibentangkan, karpet digelar, dan sorak-sorai penonton memecah kesunyian malam setiap kali gol tercipta.
Piala Dunia 2026 bukan sekadar tentang pertandingan, skor, atau perebutan trofi. Di balik kemeriahan yang menyedot perhatian jutaan pasang mata di seluruh dunia, ada sisi lain yang jarang mendapat sorotan, padahal menyimpan pelajaran yang tak kalah berharga.
Ketika banyak orang terpukau oleh kemampuan para pemain mengolah bola di lapangan, tidak sedikit pesepak bola yang juga memberikan teladan melalui akhlak dan kepedulian mereka kepada sesama. Salah satu sosok yang kerap disebut dalam hal ini adalah Sadio Mané. Namanya dikenal bukan hanya karena prestasinya sebagai pesepak bola kelas dunia, melainkan juga karena kedermawanan dan kepeduliannya terhadap masyarakat di kampung halamannya.
Dari Kampung Kecil di Senegal ke Panggung Dunia
Meski telah meraih kesuksesan dan bermain di level tertinggi sepak bola dunia, Sadio Mané tidak melupakan tempat ia berasal. Ia lahir dan tumbuh di Bambali, sebuah desa di Senegal yang berpenduduk sekitar dua ribu jiwa. Desa itulah yang menjadi saksi awal perjalanan hidup dan kariernya.
Ketika namanya mulai dikenal dunia, Mané memilih kembali memberi manfaat bagi masyarakat yang telah membesarkannya. Ia terlibat dalam berbagai proyek pembangunan di Bambali, mulai dari pembangunan rumah sakit, sekolah, bantuan bagi warga selama pandemi COVID-19, hingga pembangunan fasilitas olahraga.
Mengenang masa kecilnya, Mané pernah menceritakan bagaimana sulitnya akses layanan kesehatan di desanya.
“Saya ingat saudara perempuan saya lahir di rumah karena tidak ada rumah sakit di desa kami. Itu adalah situasi yang sangat menyedihkan bagi semua orang. Saya ingin membangunnya untuk memberi harapan kepada orang-orang.”
Pengalaman itulah yang mendorongnya untuk membantu membangun rumah sakit bagi masyarakat Bambali. Tak berhenti di situ, pada 2022 ia juga dilaporkan menyumbangkan sekitar 250.000 poundsterling untuk membantu pembangunan sekolah menengah baru di desanya. Bahkan, ia beberapa kali terlihat mengunjungi lokasi pembangunan untuk memastikan proyek tersebut berjalan dengan baik.
Apa yang dilakukan Mané menunjukkan bahwa kesuksesan tidak membuatnya melupakan akar kehidupannya. Sebaliknya, ia menjadikan keberhasilannya sebagai jalan untuk menghadirkan manfaat bagi orang lain.
Kesuksesan yang Tak Membuatnya Hidup Bermewah-mewahan
Di era ketika banyak pesepak bola identik dengan mobil mewah, perhiasan mahal, dan gaya hidup glamor, Sadio Mané justru dikenal karena kesederhanaannya.
Ia pernah menjadi perbincangan setelah terlihat menggunakan iPhone dengan layar retak. Saat ditanya mengapa tidak membeli barang-barang mewah seperti mobil sport atau pesawat pribadi, jawabannya menyentuh hati banyak orang.
“Untuk apa saya memiliki 10 Ferrari, 20 jam tangan berlian, atau dua pesawat pribadi? Saya pernah kelaparan, harus bekerja di ladang, dan bermain bola tanpa alas kaki. Hari ini, dengan apa yang saya hasilkan dari sepak bola, saya bisa membantu orang-orang saya.”
Bagi Mané, harta bukanlah sesuatu yang harus dipamerkan. Ia memahami bahwa rezeki yang dimiliki dapat menjadi sarana untuk membantu mereka yang membutuhkan. Cara pandang inilah yang membuatnya dihormati bukan hanya sebagai atlet, tetapi juga sebagai pribadi yang rendah hati.
Atas berbagai aksi sosial dan kemanusiaannya, Sadio Mané menerima Socrates Award pada 2022, penghargaan dari Ballon d'Or yang diberikan kepada pesepak bola dengan kontribusi sosial dan kemanusiaan yang luar biasa.
Ketika Iman Melahirkan Kepedulian
Di balik prestasi dan berbagai aksi sosialnya, banyak orang mengenal Sadio Mané sebagai seorang Muslim yang taat. Ia tidak hanya menunjukkan identitas keislamannya melalui ucapan, tetapi juga melalui tindakan nyata.
Saat bermain di Liverpool, Mané pernah terlihat membantu membersihkan toilet sebuah masjid setempat. Menariknya, ia meminta agar kegiatan tersebut tidak direkam atau disebarluaskan kepada publik.
“Sadio meminta agar tidak ada video yang dikirim. Dia ingin tetap berhati-hati dan tidak melakukannya untuk publisitas,” kata Abu Usamah Al-Tahabi kepada BBC.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa kebaikan tidak selalu harus diumumkan kepada banyak orang. Dalam Islam, amal yang dilakukan dengan ikhlas memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah Swt. Apa yang dilakukan Mané menjadi pengingat bahwa ketenaran dan kekayaan tidak harus menjauhkan seseorang dari kerendahan hati.
Kisahnya juga menjadi gambaran bahwa ajaran Islam tidak hanya berbicara tentang ibadah ritual, tetapi juga tentang kepedulian sosial, membantu sesama, dan menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar. Nilai-nilai itulah yang tampak dalam berbagai tindakan yang ia lakukan sepanjang kariernya.
Menjadi atlet profesional, selebritas, atau orang yang memiliki kesibukan tinggi bukanlah alasan untuk melupakan tanggung jawab kepada sesama. Justru ketika Allah memberikan rezeki, kesempatan, dan pengaruh yang lebih besar, terbuka pula peluang yang lebih luas untuk berbagi.
Melalui kepedulian, sedekah, dan kontribusinya bagi masyarakat, Sadio Mané menunjukkan bahwa kesuksesan sejati tidak hanya diukur dari jumlah trofi yang diraih, tetapi juga dari manfaat yang ditinggalkan. Menjadi pesepak bola kelas dunia tidak menghalanginya untuk tetap bersedekah, membantu masyarakat, dan menjalankan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Sebuah teladan yang patut direnungkan, bahwa sebesar apa pun pencapaian seseorang, selalu ada ruang untuk berbagi dan memberi manfaat bagi sesama. Karena pada akhirnya, bukan hanya prestasi yang akan dikenang, tetapi juga kebaikan yang ditinggalkan.