“Nanti Allah Marah”: Kalimat Kecil yang Perlu Kita Renungkan

“Nanti Allah Marah”: Kalimat Kecil yang Perlu Kita Renungkan


Risdawati
30/05/2026
10 VIEWS
SHARE

“Nanti Allah marah, loh!” Kalimat ini mungkin terdengar akrab di telinga kita. Ia sering diucapkan ketika anak menolak salat, berebut mainan, berbohong, atau melakukan hal yang dianggap kurang baik. Niatnya tentu baik, yakni mengingatkan dan mengarahkan. Namun, pernahkah kita bertanya, gambaran seperti apa tentang Allah yang sedang terbentuk di benak seorang anak ketika mendengar kalimat itu berulang kali?

Bagi orang dewasa, kalimat tersebut mungkin hanya sebuah peringatan. Akan tetapi, bagi anak-anak yang sedang belajar mengenal Tuhannya, kata-kata memiliki pengaruh yang besar. Mereka belum memahami konsep ketuhanan yang kompleks. Yang mereka tangkap adalah kesan sederhana: Allah marah ketika mereka berbuat salah.

Padahal, dalam Al-Qur’an, Allah pertama kali memperkenalkan diri-Nya sebagai Ar-Rahman dan Ar-Rahim, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Surah Al-Fatihah ayat 1–3 mengingatkan bahwa kasih sayang merupakan sifat yang sangat ditekankan dalam pengenalan Allah kepada hamba-Nya. Karena itu, mengenalkan Allah kepada anak semestinya dimulai dari cinta dan kasih sayang, bukan semata-mata ancaman yang menakutkan.

Anak-anak mengenal Allah melalui bahasa yang mereka dengar setiap hari. Ketika orang tua lebih sering berkata, “Allah sayang sama anak yang jujur,” atau “Allah senang jika kita membantu teman,” anak akan belajar mengaitkan kebaikan dengan kedekatan kepada Allah. Mereka memahami bahwa berbuat baik bukan hanya untuk menghindari hukuman, tetapi juga sebagai bentuk cinta kepada Tuhan.

Tentu saja, Islam juga mengajarkan tentang dosa, pahala, serta pentingnya rasa takut kepada Allah. Namun, rasa takut itu perlu berjalan beriringan dengan harapan dan cinta. Jika yang lebih dahulu dikenalkan hanyalah ancaman, anak bisa tumbuh dengan gambaran bahwa Allah adalah sosok yang selalu mencari kesalahannya. Padahal, dalam hadis qudsi disebutkan bahwa rahmat Allah mendahului kemurkaan-Nya.

Karena itu, yang perlu direnungkan bukan sekadar apakah kalimat “Nanti Allah marah” boleh diucapkan atau tidak. Pertanyaannya adalah, apakah itu menjadi satu-satunya cara kita mengenalkan Allah kepada anak? Sebab, kesan-kesan kecil yang tertanam sejak masa kanak-kanak sering kali membentuk cara pandang mereka tentang Tuhan hingga dewasa.

Pada akhirnya, setiap orang tua tentu ingin anaknya tumbuh menjadi pribadi yang saleh dan dekat dengan Allah. Kedekatan itu tidak lahir dari ketakutan semata, melainkan juga dari pengenalan yang utuh tentang Tuhan yang Maha Adil sekaligus Maha Penyayang. Maka, sebelum berkata, “Nanti Allah marah, loh!”, mungkin kita juga perlu lebih sering mengatakan, “Allah sayang sama kamu, karena itu mari kita belajar menjadi anak yang baik.”

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA