Di Tengah Riuh Piala Dunia, Hossam Hassan Mengingatkan Dunia tentang Palestina

Di Tengah Riuh Piala Dunia, Hossam Hassan Mengingatkan Dunia tentang Palestina


Risdawati
08/07/2026
7 VIEWS
SHARE

Piala Dunia selalu menghadirkan banyak cerita. Ada euforia kemenangan, kekecewaan karena kekalahan, hingga perdebatan yang tak pernah sepi di media sosial. Namun, di tengah hiruk-pikuk sepak bola itu, muncul sebuah pesan yang mengingatkan dunia bahwa ada pertandingan lain yang jauh lebih penting: perjuangan untuk kemanusiaan.

Pesan itu datang dari pelatih tim nasional Mesir, Hossam Hassan. Menjelang laga babak 16 besar melawan Argentina, ia kembali ditanya mengenai keputusannya mendedikasikan kemenangan Mesir atas Australia kepada rakyat Palestina dan aksinya mengibarkan bendera Palestina seusai pertandingan.

Alih-alih menghindari pertanyaan tersebut, Hassan justru menyampaikan pandangannya dengan tegas. Baginya, kepedulian terhadap Palestina bukanlah persoalan agama, suku, atau kebangsaan, melainkan persoalan kemanusiaan.

“Jika ada seseorang yang tidak peduli terhadap rakyat Palestina, maka ia bukan manusia.”

Pernyataan itu sontak menjadi sorotan. Bukan hanya karena keberaniannya menyampaikan pendapat di panggung sebesar Piala Dunia, tetapi juga karena pesan yang dibawanya menyentuh persoalan yang lebih mendasar: rasa kemanusiaan.

Hassan kemudian mengkritik apa yang ia anggap sebagai standar ganda dunia. Menurutnya, ketika seekor hewan terluka di Eropa atau Amerika, berbagai organisasi perlindungan hewan dan hak asasi akan bergerak dengan cepat. Namun, ketika ribuan warga sipil di Gaza, termasuk perempuan dan anak-anak, kehilangan nyawa, respons yang sama tidak terlihat.

Baginya, kondisi itu menjadi ironi. Nilai-nilai kemanusiaan seharusnya berlaku untuk semua orang tanpa memandang latar belakang, bukan hanya kepada pihak-pihak tertentu.

Ia juga mengajak dunia melihat kenyataan yang dihadapi rakyat Palestina setiap hari. Banyak keluarga kehilangan rumah akibat genosida yang dilakukan Israel dan terpaksa bertahan hidup di tenda-tenda pengungsian. Saat musim panas datang, mereka kepanasan. Ketika musim dingin tiba, mereka kedinginan. Karena itu, menurut Hassan, yang paling mereka butuhkan bukan sekadar pendingin ruangan atau pemanas, melainkan tempat tinggal yang aman untuk melindungi keluarga mereka.

Salah satu pernyataannya yang paling menggugah adalah ajakan agar siapa pun mencoba membayangkan hidup seperti rakyat Palestina. Ia bahkan meminta masyarakat dunia merasakan satu hari hidup tanpa rumah agar dapat memahami beratnya penderitaan yang mereka alami.

Ajakan itu terasa begitu dekat dengan kehidupan kita. Ketika banjir datang, naluri pertama setiap orang adalah mencari tempat berlindung. Ketika hujan deras turun, kita segera berteduh. Namun, bagi banyak warga Gaza, tempat yang seharusnya menjadi perlindungan justru telah hancur. Mereka tidak lagi memiliki ruang yang benar-benar aman.

Melalui pernyataannya, Hassan juga mengkritik kegagalan komunitas internasional dalam merespons besarnya krisis kemanusiaan yang terjadi di Gaza. Menurutnya, dunia seharusnya tidak tinggal diam ketika ribuan nyawa melayang dan jutaan warga kehilangan tempat tinggal.

Yang menarik, Hassan menegaskan bahwa dukungannya kepada Palestina tidak dilandasi agama ataupun identitas tertentu. Baginya, siapa pun yang memiliki hati nurani seharusnya tidak menutup mata terhadap penderitaan sesama manusia. Pernyataan tersebut disambut tepuk tangan para atlet dan pendukung yang hadir. Di tengah pidatonya, Hassan bahkan tampak menahan haru hingga matanya berkaca-kaca.

Sepak bola memang identik dengan persaingan untuk menjadi yang terbaik. Namun, melalui Hossam Hassan, kita diingatkan bahwa olahraga juga dapat menjadi panggung untuk menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan. Sebab, di atas rivalitas dan perebutan gelar juara, masih ada satu hal yang jauh lebih penting: keberanian untuk tetap berpihak pada kemanusiaan.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA