Sumedang, (06/8) — Musim kemarau dan serangan hama tikus menekan produksi padi anggota KSM Haurngombong Gemilang. Dari sekitar 2,7 hektare lahan yang dipanen tahun ini, produksi mencapai kurang lebih 16,2 ton atau turun sekitar 40 persen dibandingkan dengan hasil panen tahun sebelumnya dengan luasan lahan yang relatif sama.
Sebanyak 12 anggota KSM terlibat dalam kegiatan panen tersebut. Terbatasnya ketersediaan air selama musim kemarau berdampak pada pertumbuhan tanaman sekaligus membuat petani harus mengeluarkan biaya tambahan untuk penyiraman secara rutin. Upaya tersebut dilakukan agar tanaman padi tetap tumbuh hingga memasuki masa panen.
Tantangan lain datang dari serangan hama tikus yang turut mengganggu pertumbuhan tanaman dan sulit dikendalikan. Para anggota KSM kemudian melakukan penanganan secara gotong royong dengan menangkap hama tikus yang menyerang lahan pertanian.
Meski hasil panen tidak sebanyak musim sebelumnya, para petani tetap bersyukur karena masih dapat memanen padi dari lahan yang mereka kelola. Pengurus KSM Haurngombong Gemilang Bidang Pertanian, Nana, mengatakan musim kemarau tahun ini cukup berat bagi para petani. Namun, usaha bersama dan saling membantu membuat anggota tetap dapat melalui masa tanam hingga panen.
“Kami menyadari musim kemarau tahun ini cukup berat. Namun alhamdulillah, dengan usaha bersama dan saling membantu, anggota masih bisa menikmati hasil panen walaupun tidak sebanyak biasanya,” ujar Nana.
Hal serupa disampaikan Enjang, salah satu anggota KSM. Keterbatasan air menjadi salah satu tantangan selama proses budidaya, tetapi ia tetap memandang hasil panen sebagai rezeki yang patut disyukuri.
“Air memang sangat terbatas, tetapi alhamdulillah padi masih bisa dipanen. Bagi kami ini tetap rezeki yang harus disyukuri,” ungkap Enjang.
Bagi anggota KSM, hasil panen tersebut tetap memiliki nilai ekonomi penting. Pendapatan dari panen digunakan untuk mencukupi kebutuhan keluarga sekaligus menjadi modal untuk menjalankan kegiatan pertanian pada musim berikutnya.
Menghadapi kondisi ketersediaan air yang terbatas, petani KSM Haurngombong Gemilang juga menyiapkan strategi untuk musim tanam selanjutnya. Mereka berencana mengganti tanaman padi dengan ubi jalar yang dinilai lebih tahan terhadap kondisi kering.
Pilihan tersebut menjadi bentuk adaptasi petani dalam menjaga lahan tetap produktif sekaligus mempertahankan sumber pendapatan keluarga di tengah kondisi musim yang tidak menentu. Bagi mereka, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bertani, melainkan kondisi yang perlu dihadapi dengan menyesuaikan cara dan pilihan usaha.