Kartini dari Ranah Minang: Jejak Perjuangan Rahmah El Yunusiyah

Kartini dari Ranah Minang: Jejak Perjuangan Rahmah El Yunusiyah


Risdawati
21/04/2026
25 VIEWS
SHARE

Setiap tanggal 21 April, nama R.A. Kartini kembali digaungkan sebagai simbol kebangkitan perempuan Indonesia. Surat-suratnya dibaca, pemikirannya dikenang, dan semangat emansipasinya terus dihidupkan. Namun, jauh dari Tanah Jawa, di Ranah Minangkabau, lahir sosok perempuan lain yang menyalakan api perjuangan dengan cara berbeda, lebih sunyi, tetapi nyata.

Dialah Rahmah El Yunusiyah. Bukan hanya berbicara tentang hak perempuan, ia turun langsung membangun jalan bagi mereka. Dari Padang Panjang, Rahmah mendirikan sekolah khusus perempuan, sebuah langkah berani di tengah keterbatasan zaman dan tekanan penjajahan. Baginya, kemerdekaan perempuan tidak cukup diperjuangkan lewat gagasan, tetapi harus diwujudkan melalui pendidikan dan keberanian melawan keadaan.

Lahir pada tahun 1900 dari keluarga ulama, Rahmah tumbuh dalam lingkungan religius yang kuat. Sejak kecil, ia telah ditempa dengan pendidikan Islam langsung dari keluarganya, meski tidak mengenyam pendidikan formal seperti kebanyakan anak pada masa kini. Kehidupan pribadinya pun tidak selalu mudah. Ia sempat menikah di usia muda, lalu berpisah, dan kembali menata arah hidupnya. Dari titik itulah, tekadnya menguat: perempuan harus memiliki akses pendidikan yang layak agar mampu memahami peran dan martabatnya dalam masyarakat. 

Kegelisahan itu mencapai puncaknya ketika ia melihat perempuan hanya menjadi pelengkap, tanpa ruang untuk berkembang. Maka pada 1 November 1923, di usia yang masih sangat muda, ia mendirikan Perguruan Diniyyah Puteri, sebuah lembaga pendidikan Islam khusus perempuan yang pertama di Indonesia. 

Di tempat inilah Rahmah merancang pendidikan yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membentuk karakter, keterampilan, dan kesadaran sosial perempuan sebagai bagian penting dari umat dan bangsa.

Langkah ini tentu tidak mudah. Pada masa itu, anggapan bahwa perempuan tidak perlu sekolah masih sangat kuat. Rahmah menghadapi penolakan, keterbatasan fasilitas, bahkan bencana yang sempat meruntuhkan bangunan sekolahnya. Namun, ia tidak mundur. Dengan keyakinan bahwa Islam justru menempatkan perempuan pada posisi mulia melalui ilmu, ia terus mengembangkan sistem pendidikan yang memadukan nilai keislaman dengan kebutuhan zaman. 

Tak berhenti di pendidikan, Rahmah juga terlibat dalam perjuangan melawan penjajahan. Pada masa pendudukan Jepang, ia berani menentang praktik ketidakadilan terhadap perempuan. Saat Indonesia merdeka, ia termasuk yang sigap mengibarkan Merah Putih dan turut mendukung perjuangan mempertahankan kemerdekaan. 

Pengaruhnya bahkan melampaui batas negeri. Model pendidikan yang ia bangun di Diniyyah Puteri menginspirasi dunia Islam, hingga ia mendapat pengakuan internasional dari Universitas Al-Azhar Mesir dengan gelar kehormatan “Syaikhah”, sebuah penghargaan langka bagi seorang perempuan pada masanya. Lebih dari itu, sistem dan pola pendidikan yang dikembangkan di Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang turut menginspirasi Universitas Al-Azhar Mesir dalam mendirikan Kulliyatul Banat, fakultas khusus bagi perempuan.

Inilah kisah tentang Kartini dari Ranah Minang, seorang perempuan yang tidak hanya menyalakan gagasan, tetapi juga membumikan perjuangan dalam bentuk nyata. Jejaknya mungkin tak selalu disebut dalam setiap peringatan, tetapi kontribusinya tetap hidup dalam setiap perempuan yang berani belajar, berpikir, dan melangkah maju.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA