Bahaya Mencari Validasi dari Orang Lain

Bahaya Mencari Validasi dari Orang Lain


Risdawati
02/06/2026
13 VIEWS
SHARE

Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian yang melekat dalam kehidupan sehari-hari. Kehadirannya memudahkan manusia untuk saling terhubung, berbagi informasi, dan menjalin komunikasi tanpa batas ruang dan waktu. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, terdapat dampak yang patut diwaspadai, salah satunya adalah kecenderungan untuk terus mencari pengakuan dari orang lain.

Tidak sedikit orang yang merasa lebih percaya diri ketika mendapatkan pujian, komentar positif, atau respons yang tinggi pada unggahan mereka. Sebaliknya, ketika respons yang diterima tidak sesuai harapan, muncul rasa kecewa, sedih, bahkan merasa diri kurang berharga. Kondisi inilah yang sering dikenal sebagai perilaku haus validasi.

Mengenal Perilaku Haus Validasi

Media sosial pada dasarnya hanyalah alat. Akan tetapi, cara kita menggunakannya dapat memengaruhi cara pandang terhadap diri sendiri. Ketika nilai diri mulai diukur dari jumlah pengikut, tanda suka, komentar, atau perhatian yang diberikan orang lain, tanpa disadari kita sedang memasuki lingkaran pencarian validasi yang tidak ada habisnya.

Keinginan untuk dihargai dan diakui merupakan hal yang wajar. Namun, ketika kebahagiaan dan rasa percaya diri sepenuhnya bergantung pada penilaian orang lain, seseorang akan mudah terombang-ambing oleh opini manusia. Ia merasa senang ketika dipuji, tetapi mudah kecewa ketika diabaikan atau dikritik.

Salah satu bentuk perilaku yang sering muncul akibat kebutuhan akan validasi adalah kebiasaan membagikan terlalu banyak hal dalam kehidupan pribadi (oversharing). Seseorang terdorong untuk terus menampilkan berbagai aspek kehidupannya di media sosial, termasuk hal-hal yang sebenarnya tidak perlu diketahui publik. Mulai dari aktivitas sehari-hari, pencapaian pribadi, hingga berbagai nikmat yang sebenarnya tidak selalu perlu diketahui publik.

Jika tidak dikendalikan, kebiasaan tersebut bukan hanya menumbuhkan ketergantungan terhadap perhatian orang lain, tetapi juga berpotensi memunculkan rasa iri dan dengki pada sebagian orang yang melihatnya. Dalam kondisi tertentu, hal ini bahkan berpotensi menjadi sebab munculnya hasad dan 'ain.

'Ain adalah perkara yang nyata dan bukan sekadar mitos. Islam mengajarkan bahwa seseorang dapat terkena dampak buruk akibat pandangan yang disertai rasa kagum berlebihan atau kedengkian. Karena itulah, Allah Swt memerintahkan hamba-Nya untuk berlindung dari kejahatan orang yang dengki. Allah Swt berfirman:

“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai waktu subuh (fajar), dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya), dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.’” (QS. Al-Falaq: 1–5).

Menjaga Nikmat dengan Kerahasiaan

Islam mengajarkan umatnya untuk bersikap bijak dalam menampakkan maupun menyembunyikan nikmat yang dimiliki. Tidak semua hal perlu diumbar, dan tidak semua pencapaian harus diketahui banyak orang.

Nabi Muhammad saw bersabda:

“Minta tolonglah atas keberhasilan rencana-rencana kalian dengan merahasiakannya karena setiap pemilik nikmat ada peluang hasadnya.” (HR. Thabrani dalam Al-Ausath no. 2455, disahihkan oleh Albani).

Hadis ini mengingatkan bahwa tidak semua orang memandang kebahagiaan dan keberhasilan kita dengan cara yang sama. Oleh karena itu, menjaga sebagian urusan tetap berada dalam lingkaran privasi merupakan bentuk kehati-hatian, bukan tanda kelemahan.

Rasulullah saw juga bersabda:

“‘Ain itu benar-benar ada. Andaikan ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, sungguh 'ain itulah yang bisa.” (HR. Muslim no. 2188).

Dalam riwayat lain disebutkan:

“Sebab paling banyak yang menyebabkan kematian pada umatku setelah takdir Allah adalah 'ain.” (HR. Al-Bazzar; dihasankan oleh Albani dalam Shahih Al-Jami' no. 1206).

Meski demikian, menjaga nikmat bukan berarti hidup dalam ketakutan atau menutup diri dari orang lain. Yang perlu dijaga adalah niat, tujuan dan batasan dalam berbagi. Jangan sampai keinginan untuk mendapatkan pujian membuat kita mengumbar hal-hal yang seharusnya cukup disyukuri dalam diam.

Pada akhirnya, nilai diri seseorang tidak ditentukan oleh banyaknya perhatian, pujian, atau pengakuan yang ia terima dari manusia. Pujian dapat datang dan pergi, begitu pula penilaian orang lain yang terus berubah seiring waktu. Jika kebahagiaan disandarkan pada validasi manusia, maka hati akan mudah gelisah ketika pengakuan itu tidak lagi hadir. Namun, ketika seseorang menyadari bahwa yang paling penting adalah keridaan Allah, ia tidak lagi sibuk mengejar tepuk tangan manusia. Sebab tidak semua nikmat harus dipamerkan, tidak semua keberhasilan perlu diumumkan, dan tidak semua kebahagiaan harus dibuktikan kepada orang lain.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA