Mengapa pertanyaan basa-basi paling populer sedunia ini justru berisiko menyempitkan masa depan anak?
Kita rela merogoh kocek dalam-dalam demi kelas robotik atau kursus bahasa asing anak. Namun tanpa sadar, kita menyabotase masa depan mereka lewat satu pertanyaan basa-basi yang paling sering kita ucapkan di ruang tamu: “Kalau sudah besar nanti, mau jadi apa?”
Setiap kali orang dewasa bertemu dengan seorang anak, pertanyaan klise itu hampir selalu meluncur tanpa beban. Kita bersorak bangga saat anak berusia lima tahun dengan lantang menjawab dokter, pilot, polisi, atau astronot. Sebaliknya, kita cenderung tertawa canggung saat seorang anak menggeleng bingung atau memberikan jawaban imajinatif seperti, “Aku ingin jadi orang yang memberi makan kucing jalanan.”
Bagi kita, ucapan itu hanyalah cara mencairkan suasana. Namun, bagi dunia psikologi perkembangan, pertanyaan sepele ini adalah ujian pertama yang memaksa anak memilih satu label profesi sebelum mereka sempat mengenal diri mereka sendiri.
Jebakan “Identitas Prematur”
Mendesak anak untuk mengunci satu cita-cita terlalu cepat, ternyata memiliki dampak psikologis yang serius. Psikolog perkembangan ternama, James Marcia, dalam teorinya mengenai status identitas, menyebut fenomena ini sebagai Identity Foreclosure atau penutupan identitas prematur.
Bahasanya mungkin terdengar berat, namun artinya sangat sederhana, yaitu sebuah kondisi di mana seorang anak mengadopsi identitas masa depannya semata-mata karena tekanan lingkungan atau demi menyenangkan orang dewasa di sekitarnya. Ketika pertanyaan “mau jadi apa” terus diulang, anak menangkap sinyal bahwa nilai diri mereka baru diakui jika mereka memiliki label pekerjaan yang mentereng. Mereka berhenti mengeksplorasi potensi aslinya dan memilih jalan pintas: memilih profesi yang paling sering membuat orang tua mereka tersenyum bangga.
Dampaknya tidak main-main. Riset mengenai penutupan identitas ini mengungkapkan bahwa anak-anak yang terlalu dini dipaksa memilih satu jalur karir spesifik justru mengalami tingkat kecemasan akademik yang jauh lebih tinggi. Begitu mereka beranjak remaja dan menyadari minat mereka berubah, mereka akan didera rasa bersalah dan merasa telah “gagal” memenuhi ekspektasi lingkungan.
Dunia yang Cair, Pertanyaan yang Usang
Selain memicu kecemasan, kritik terbesar dari pertanyaan ini adalah ketidakselarasannya dengan zaman. Menuntut anak memilih satu profesi kaku mengasumsikan bahwa lanskap dunia kerja di masa depan akan tetap sama dengan masa sekarang.
Padahal, World Economic Forum (WEF) melalui laporan berkala mereka, The Future of Jobs Report, berulang kali menegaskan bahwa puluhan profesi baru lahir setiap dekade sementara jenis pekerjaan lama terus punah. Laporan tersebut menggarisbawahi bahwa kemampuan utama yang dibutuhkan anak-anak kita di masa depan bukanlah keahlian pada satu profesi spesifik, melainkan kemampuan memecahkan masalah yang rumit (complex problem solving) serta kelenturan untuk terus belajar hal baru (adaptability).
Membimbing anak untuk hanya mengagumi satu jenis profesi konvensional sama saja dengan memakaikan kacamata kuda pada mereka di tengah rimba dunia yang terus berubah dinamis.
Mengubah Cara Bertanya
Lalu, bagaimana kita harus bersikap? Para ahli menyarankan kita untuk mulai memensiunkan pertanyaan usang tersebut dan mengubah cara kita berkomunikasi dengan anak.
Alih-alih bertanya “Mau jadi apa?” yang menekankan pada status atau label kaku, cobalah bergeser ke pertanyaan berbasis minat dan kontribusi nyata, seperti: “Masalah apa di sekitarmu yang ingin kamu bantu selesaikan?” atau “Hal apa yang paling membuatmu penasaran minggu ini?”
Pergeseran sederhana ini melatih pola pikir yang jauh lebih sehat. Anak tidak lagi terbebani oleh satu kotak profesi tunggal. Mereka akan tumbuh dengan kesadaran bahwa keahlian apa pun yang mereka pelajari kelak, entah itu coding, seni, atau sains. Tujuan utamanya adalah menjadi manusia yang memberikan dampak positif bagi dunia di sekelilingnya.