Hari Keadilan Sosial Sedunia 2026: Menghidupkan Nilai Keadilan dalam Ramadan

Hari Keadilan Sosial Sedunia 2026: Menghidupkan Nilai Keadilan dalam Ramadan


Nurul Aisyah
20/02/2026
27 VIEWS
SHARE

Setiap tanggal 20 Februari, dunia memperingati Hari Keadilan Sosial Sedunia, sebuah momentum global yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menegaskan pentingnya kesetaraan, pengentasan kemiskinan, akses terhadap pekerjaan layak, serta perlindungan bagi kelompok rentan. Peringatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan pengingat bahwa keadilan sosial masih menjadi pekerjaan besar umat manusia. Di tengah pertumbuhan ekonomi dan kemajuan teknologi, ketimpangan tetap menjadi realitas yang nyata, baik dalam bentuk kesenjangan pendapatan, akses pendidikan yang tidak merata, maupun keterbatasan layanan kesehatan bagi masyarakat miskin.

Tahun 2026 menghadirkan refleksi yang semakin relevan. Dunia masih bergulat dengan dampak krisis ekonomi, perubahan iklim, serta dinamika global yang memengaruhi stabilitas sosial dan kesejahteraan masyarakat. Dalam situasi seperti ini, keadilan sosial tidak bisa dipahami hanya sebatas konsep normatif, melainkan harus diwujudkan melalui kebijakan yang berpihak, distribusi sumber daya yang adil, serta sistem perlindungan sosial yang kuat. Keadilan sosial menuntut keberanian moral untuk memastikan bahwa pembangunan tidak hanya menguntungkan segelintir pihak, tetapi menghadirkan kesejahteraan yang merata dan bermartabat bagi semua.

Karena peringatan ini bertepatan dengan bulan Ramadan, terdapat pertemuan makna yang sangat mendalam antara momentum global dan momentum spiritual. Ramadan bukan hanya bulan ibadah individual, melainkan ruang pembentukan kesadaran sosial. Puasa melatih empati dengan menghadirkan pengalaman lapar dan dahaga, sehingga seseorang dapat merasakan realitas yang setiap hari dihadapi oleh kaum dhuafa meski sejenak. Nilai keadilan dalam Islam tidak berhenti pada retorika, melainkan diwujudkan melalui instrumen konkret seperti zakat, infak, dan sedekah, yang bertujuan menjaga keseimbangan sosial dan mengurangi kesenjangan. Allah Swt berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan…” (QS. An-Nahl: 90)

Ayat ini menegaskan bahwa keadilan adalah perintah ilahi yang harus hadir dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam relasi sosial dan ekonomi. Ramadan menjadi momentum untuk menghidupkan kembali kesadaran tersebut, agar keadilan tidak hanya menjadi wacana kebijakan publik, tetapi juga menjelma sebagai komitmen pribadi yang tumbuh dari kedalaman iman. Ibadah puasa mendidik manusia untuk menahan diri dari keserakahan, menumbuhkan kepedulian, dan menata ulang prioritas hidup agar lebih berorientasi pada kemaslahatan bersama. Rasulullah saw juga bersabda:

“Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menempatkan empati sebagai fondasi keimanan sekaligus dasar keadilan sosial. Mustahil keadilan terwujud tanpa kesediaan memandang kebutuhan orang lain sebagai bagian dari tanggung jawab diri sendiri. Ramadan melatih kepekaan itu melalui disiplin spiritual yang konsisten, sehingga solidaritas tidak berhenti pada momen emosional sesaat, melainkan menjadi karakter yang tertanam dalam diri.

Menghidupkan nilai keadilan dalam Ramadan berarti menghubungkan kesalehan pribadi dengan tanggung jawab sosial. Puasa tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari sikap egois, keserakahan, dan ketidakpedulian terhadap penderitaan sesama. Keadilan sosial pada akhirnya lahir dari perpaduan antara sistem yang adil dan individu yang berintegritas. Tanpa manusia yang memiliki komitmen moral, kebijakan terbaik pun dapat kehilangan ruhnya.

Dengan demikian, peringatan Hari Keadilan Sosial Sedunia 2026 menemukan relevansinya yang mendalam dalam suasana Ramadan. Momentum global dan momentum spiritual bertemu dalam satu pesan yang utuh: menghadirkan keadilan sebagai napas kehidupan bersama. Ketika nilai-nilai Ramadan benar-benar dihidupkan, melalui empati, kepedulian, dan tindakan nyata, maka keadilan sosial bukan sekadar cita-cita, melainkan jalan yang terus diupayakan demi terwujudnya masyarakat yang lebih seimbang, berkeadaban, dan bermartabat.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA