Bersemi di Tanah Terbengkalai: Cara Mantan Sopir Truk Sawit Bangkit dari Badai PHK

Bersemi di Tanah Terbengkalai: Cara Mantan Sopir Truk Sawit Bangkit dari Badai PHK


Risdawati
25/05/2026
21 VIEWS
SHARE

Delapan tahun lalu, roda kehidupan Dudung berputar drastis. Pria yang sehari-hari menggantungkan hidup di balik kemudi truk angkutan kelapa sawit di PT Agro Bukit Mangkalapi ini harus menghadapi kenyataan pahit. Kebijakan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) memaksanya turun dari kabin truk dan kehilangan sumber penghasilan utama. Namun, alih-alih tenggelam dalam ketidakpastian, Dudung memilih melihat ujung jalan yang buntu itu sebagai titik awal untuk membuka lembaran baru.

Menghidupkan Lahan Mati di Mangkalapi

Langkah berani itu dimulai pada tahun 2018. Berbekal semangat yang tersisa, Dudung melangkah ke area telantar seluas 2 hektare di Desa Mangkalapi, Kecamatan Teluk Kepayang, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Lahan tidur yang semula semak belukar itu ia bersihkan dengan tangannya sendiri. Demi memperkuat langkahnya, ia memutuskan untuk bergabung dengan Kelompok Tani (Poktan) Kayuh Baimbai. Di tanah yang baru dihidupkannya kembali itu, Dudung mulai menanam harapan baru lewat berbagai komoditas pangan dan buah-buahan, mulai dari padi, jagung, pisang, kopi, alpukat, hingga petai.

Mengasah Siasat Bersama LAZ Al Azhar

Perjuangan Dudung menemukan titik balik yang sesungguhnya saat Lembaga Amil Zakat (LAZ) Al Azhar hadir mengulurkan tangan. Dukungan yang mengalir bukan sekadar bantuan modal melalui Rumah Pembiayaan Pertanian (RPP), melainkan juga sebuah paket perubahan nasib. Dudung ditempa dengan bimbingan teknis pertanian yang modern, diajarkan cara mengelola manajemen usaha tani yang rapi, hingga diperkuat mental kewirausahaannya. Lewat transfer ilmu yang intensif ini, cara bertani Dudung tidak lagi sekadar berjalan apa adanya, tetapi juga menjadi jauh lebih terarah, efisien, dan melipatgandakan produktivitas.

Menjemput Kemakmuran dari Tanah Garapan

Keberhasilan di lahan 2 hektare pertama ternyata barulah permulaan. Merasa fondasinya sudah cukup kuat, keberanian Dudung kian membubung. Ia kembali memperluas ekspansinya dengan menggarap tambahan 4 hektare lahan mati yang sebelumnya telantar di sekitar desa. Kini, hamparan hijau seluas 6 hektare yang dikelolanya telah bertransformasi menjadi salah satu area perkebunan paling produktif di wilayah tersebut.

Dari tetesan keringat di tanah garapan itulah, kesejahteraan yang dulu sempat hilang kini kembali ke pelukan keluarganya, bahkan jauh lebih baik. Dudung kini mampu mendirikan rumah yang kokoh dan layak huni untuk bernaung. Impian besar tentang masa depan keluarga pun perlahan terwujud, anak kedua dan ketiganya kini bisa melangkah dengan bangga mengecap pendidikan di bangku kuliah. Mobilitas usahanya pun semakin lancar setelah ia mampu membeli kendaraan operasional sendiri dari hasil panen.

Menjadi Lentera Bagi Petani Lain

Kisah perjalanan Dudung adalah pelajaran hidup bahwa hilangnya pekerjaan formal bukanlah akhir dari segalanya, asalkan ada ketekunan yang dipadukan dengan pendampingan yang tepat. Sosok yang dulunya mengoperasikan truk besar bermuatan kelapa sawit, kini telah bertransformasi menjadi seorang petani mandiri yang disegani.

Keberhasilannya kini menjadi lentera inspirasi bagi seluruh anggota Poktan Kayuh Baimbai di Desa Mangkalapi. Melalui sinergi ini, LAZ Al Azhar telah membuktikan perannya bukan lagi sekadar penyalur bantuan, melainkan juga motor penggerak yang berhasil menyatukan potensi alam dan ambisi manusia menjadi sebuah kemakmuran yang nyata.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA