Bagaimana Rasulullah saw Salat sebelum Peristiwa Isra Mikraj?

Bagaimana Rasulullah saw Salat sebelum Peristiwa Isra Mikraj?


Risdawati
16/01/2026
23 VIEWS
SHARE

Peristiwa Isra Mikraj kerap dikenang sebagai tonggak penting turunnya perintah salat lima waktu bagi umat Islam. Namun, di balik peristiwa agung tersebut, terdapat satu pertanyaan yang menarik untuk ditelusuri lebih jauh, yaitu bagaimana Rasulullah saw menjalankan ibadah salat sebelum kewajiban salat lima waktu ditetapkan secara sempurna. Pertanyaan ini bukan sekadar membahas teknis ibadah, melainkan membuka pemahaman tentang bagaimana syariat Islam diturunkan secara bertahap dan penuh hikmah.

Sebelum peristiwa Isra Mikraj, Rasulullah saw telah menjalani kehidupan ibadah yang sangat mendalam. Salah satu bentuk ibadah utama yang beliau lakukan adalah khalwat, yaitu menyendiri untuk bertafakkur dan merenungi kebesaran Allah Swt. Praktik ini dilakukan di Gua Hira, bahkan sebelum beliau diangkat menjadi rasul. Al-Qur’an sendiri mendorong manusia untuk bertafakkur atas ciptaan Allah Swt sebagai jalan mengenal keagungan-Nya:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali ‘Imran: 190).

Ayat ini menunjukkan bahwa perenungan dan kesadaran iman merupakan fondasi penting sebelum hadirnya perintah ibadah yang bersifat formal.

Setelah Rasulullah saw diangkat menjadi rasul, bentuk ibadah salat yang diwajibkan kepadanya belumlah seperti salat lima waktu yang dikenal umat Islam saat ini. Pada masa itu, beliau diperintahkan melaksanakan salat dua rakaat pada waktu pagi dan dua rakaat pada waktu petang. Salat ini menjadi cikal bakal kewajiban salat sebelum disempurnakan melalui Isra Mikraj. Namun, tata caranya pun masih berbeda karena belum disertai rukuk sebagaimana salat lima waktu yang berlaku kemudian.

Beberapa riwayat menjelaskan bahwa salat yang pertama kali dilaksanakan dengan rukuk adalah salat Ashar, setelah peristiwa Isra Mikraj. Hal ini sejalan dengan keterangan bahwa umat-umat terdahulu juga melaksanakan salat tanpa rukuk. Riwayat ini menunjukkan bahwa syariat salat tidak turun sekaligus, melainkan melalui proses bertahap sesuai dengan kebijaksanaan Allah Swt dan kesiapan umat dalam menerima perintah-Nya.

Para ulama juga menegaskan bahwa sebelum Isra Mikraj, Rasulullah saw tidak beribadah dengan mengikuti syariat nabi-nabi sebelumnya. Ibadah yang beliau lakukan adalah bentuk ketaatan khusus yang Allah Swt tetapkan baginya pada setiap fase kenabian. Hal ini menegaskan bahwa Rasulullah saw senantiasa berada dalam bimbingan wahyu, bahkan sebelum perintah-perintah besar seperti salat lima waktu ditetapkan secara resmi.

Penyempurnaan kewajiban salat terjadi pada peristiwa Isra Mikraj, ketika Rasulullah saw menerima perintah salat secara langsung dari Allah Swt. Awalnya, salat diwajibkan sebanyak lima puluh waktu dalam sehari semalam. Namun, setelah Rasulullah saw beberapa kali kembali menghadap Allah Swt atas saran Nabi Musa as, kewajiban tersebut diringankan menjadi lima waktu dengan pahala yang tetap setara. Rasulullah saw bersabda:

“Lima waktu itu setara dengan lima puluh waktu. Tidak akan diubah keputusan-Ku.” (HR. Bukhari).

Hadis ini menegaskan besarnya kasih sayang Allah Swt kepada umat Nabi Muhammad saw, sekaligus menunjukkan kedudukan salat sebagai ibadah yang sangat istimewa.

Dengan memahami bagaimana Rasulullah saw menjalankan salat sebelum Isra Mikraj, umat Islam diajak untuk melihat salat bukan semata-mata sebagai kewajiban formal, melainkan sebagai ibadah yang tumbuh dari proses panjang kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya. Salat lahir dari perenungan, ketaatan, dan kesungguhan Rasulullah saw dalam menjaga hubungannya dengan Allah Swt jauh sebelum perintah itu disempurnakan.

Kisah ini mengajarkan bahwa kualitas ibadah tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan gerakan, tetapi juga oleh kesiapan hati dan ketundukan jiwa. Salat lima waktu yang dijalankan umat Islam hari ini adalah anugerah besar yang lahir dari perjalanan panjang kenabian. Memahaminya bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran untuk menjalankan salat dengan lebih khusyuk, penuh rasa syukur, dan kesadaran iman.

 

Author: Nurul Aisyah Rahmawati

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA