AI dan Misi Menyelamatkan Makanan Sebelum Jadi Sampah

AI dan Misi Menyelamatkan Makanan Sebelum Jadi Sampah


Risdawati
15/07/2026
24 VIEWS
SHARE

Pernah terbayang ke mana perginya kue-kue cantik yang masih tersusun rapi di etalase toko saat jam operasional berakhir? Atau menu prasmanan hotel yang masih layak disantap, tetapi tidak habis terjual? Sayangnya, sebagian besar makanan tersebut berakhir di tempat sampah, padahal kondisinya masih aman untuk dikonsumsi.

Ironisnya, di saat makanan layak konsumsi terus terbuang, jutaan orang masih menghadapi persoalan akses pangan. Indonesia sendiri termasuk negara dengan tingkat sampah makanan yang tinggi. Berdasarkan data yang dikutip UNDP Seoul Policy Centre, setiap orang di Indonesia diperkirakan membuang sekitar 115–184 kilogram makanan per tahun. Kerugian ekonominya pun mencapai sekitar US$39 miliar setiap tahun, sementara makanan yang terbuang sebenarnya diperkirakan cukup untuk memberi makan 61–125 juta orang.

Masalah ini bukan sekadar soal kebiasaan individu. Rantai distribusi pangan yang belum efisien membuat banyak makanan tidak pernah sampai kepada orang yang membutuhkan. Di sinilah teknologi mulai mengambil peran.

Ketika Stok Berlebih Bertemu Teknologi

Salah satu inovasi yang lahir untuk menjawab persoalan tersebut adalah Surplus, sebuah platform penyelamatan makanan (food rescue platform) yang menghubungkan pelaku usaha makanan dengan konsumen.

Berbeda dengan aplikasi pesan-antar makanan biasa, Surplus tidak menjual makanan yang baru diproduksi. Platform ini mempertemukan konsumen dengan makanan yang masih layak konsumsi, tetapi berisiko terbuang karena stok berlebih (overstock), bentuknya kurang sempurna, atau masa simpannya hampir berakhir.

Melalui pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), Surplus membantu pelaku usaha mengelola stok sekaligus mempertemukan produk tersebut dengan pembeli yang mencari makanan berkualitas dengan harga lebih terjangkau. Menurut UNDP Seoul Policy Centre, pendekatan ini menjadi salah satu solusi digital Indonesia dalam mengurangi food loss dan food waste, sekaligus mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs).

Bagaimana AI Bekerja?

Sekilas, tampilan aplikasi ini memang tidak jauh berbeda dengan platform pemesanan makanan lainnya. Namun, di balik layar terdapat sistem AI yang bekerja secara real-time untuk mengurangi potensi makanan terbuang.

Pertama, manajemen inventaris berbasis AI. Restoran, kafe, hingga toko roti sering kali kesulitan memperkirakan jumlah produksi setiap hari. AI menganalisis data historis, seperti pola penjualan, hari dalam sepekan, cuaca, hingga musim tertentu untuk membantu memprediksi kemungkinan stok berlebih.

Kedua, notifikasi berbasis lokasi (geo-targeting). Ketika sistem mendeteksi masih ada makanan yang layak konsumsi menjelang jam operasional berakhir, aplikasi akan mengirimkan pemberitahuan kepada pengguna yang berada di sekitar lokasi mitra.

Ketiga, penyesuaian harga secara otomatis. Produk yang berpotensi tidak terjual akan mendapatkan potongan harga secara dinamis, umumnya sekitar 50–80 persen. Dengan cara ini, pelaku usaha tetap memperoleh pendapatan dari produk yang semula berisiko menjadi sampah, sementara konsumen mendapatkan makanan berkualitas dengan harga lebih hemat.

Bukan Makanan Sisa

Masih banyak orang yang mengira konsep penyelamatan makanan berarti menjual makanan sisa dari piring pelanggan. Anggapan tersebut keliru. Makanan yang dijual melalui Surplus merupakan produk yang belum pernah disajikan kepada konsumen. Produk tersebut berasal dari stok berlebih, kesalahan produksi ringan yang tidak memengaruhi kualitas, atau makanan yang masih lolos pemeriksaan mutu (quality control), tetapi harus segera terjual sebelum melewati batas masa simpannya. Dengan kata lain, makanan tetap bersih, higienis, dan aman dikonsumsi.

Di balik lahirnya Surplus Indonesia pun terdapat pengalaman pribadi sang pendiri, Muhammad Agung Saputra. Kepada UNDP Seoul Policy Centre, ia menceritakan bahwa gagasan tersebut berangkat dari pengalaman masa kecilnya yang dibesarkan di Papua, wilayah yang pernah mengalami tantangan akses pangan. Setelah pindah ke Jakarta, ia justru menyaksikan begitu banyak makanan layak konsumsi dibuang setiap hari.

“Saya melihat satu pihak berjuang melawan kelaparan sementara pihak lain membuang makanan setiap hari. Saya bertanya pada diri sendiri—bagaimana kita dapat mencapai ketahanan pangan pada tahun 2030 jika kita terus membuang makanan sebanyak ini?”

Keresahan itulah yang kemudian mendorong lahirnya Surplus Indonesia.

Dampaknya Bukan Hanya Menghemat Pengeluaran

Penyelamatan makanan ternyata memberi manfaat yang jauh lebih besar daripada sekadar memperoleh makanan dengan harga murah. Setiap makanan yang berhasil diselamatkan berarti semakin sedikit sampah organik yang berakhir di tempat pembuangan akhir. Ketika sampah makanan membusuk di TPA, proses tersebut menghasilkan gas metana, salah satu gas rumah kaca yang memiliki daya pemanasan jauh lebih tinggi dibandingkan karbon dioksida.

Di sisi lain, pelaku usaha juga dapat mengurangi kerugian akibat stok yang tidak terjual. Inilah yang kemudian membentuk praktik ekonomi sirkular, yaitu memaksimalkan nilai suatu produk agar tidak berakhir sebagai limbah.

Kisah Surplus Indonesia menunjukkan bahwa kecerdasan buatan tidak selalu identik dengan chatbot atau otomatisasi pekerjaan. Ketika diterapkan pada persoalan nyata, AI juga dapat membantu mempertemukan makanan yang berlebih dengan orang yang membutuhkannya. Dengan begitu, satu klik di ponsel bukan hanya menghemat pengeluaran, melainkan juga ikut mengurangi limbah makanan dan emisi yang dihasilkannya.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA