Menemukan Lentera di Tengah Kegelapan: Kisah Perjuangan Solahuddin

Menemukan Lentera di Tengah Kegelapan: Kisah Perjuangan Solahuddin


Risdawati
18/04/2026
12 VIEWS
SHARE

Bagi Solahuddin (28), pemuda asal Desa Pangauban, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, hidup pernah terasa seperti jalan buntu. Selama satu dekade, ia menghabiskan waktunya sebagai buruh tani, pelayan toko, hingga kuli bangunan di hiruk-pikuk Kota Bandung. Namun, kerja kerasnya seolah tak berbekas, penghasilannya yang hanya Rp1 juta per bulan sering kali habis sebelum hari berganti, bahkan kerap tak mampu menutupi kebutuhan pokok.

Puncak kepedihan dialaminya saat faktor ekonomi meruntuhkan rumah tangganya. Perpisahan dengan sang istri meninggalkan luka mendalam, membuatnya trauma untuk kembali membangun keluarga sebelum fondasi ekonominya benar-benar kokoh.

Tahun 2023 menjadi babak baru bagi pria yang akrab disapa Solah ini. Pertemuannya dengan Agus Salim Hermawan, seorang pendamping Dasamas dari LAZ Al Azhar, membuka cakrawala baru. Melalui diskusi mengenai konsep ekonomi untuk bekal ibadah, Solah tertarik untuk bergabung dengan KSM-KUB Jaya Amanah. Ketertarikan Solah didasari oleh sistem akad yang sangat manusiawi, yaitu perpaduan antara hasil harian (ujroh) untuk kebutuhan saat ini dan hasil tahunan (mudharabah) untuk tabungan masa depan. Baginya, pendampingan ini adalah lentera yang muncul di tengah kegelapan.

Perjuangan di Kandang

Sudah tiga tahun Solah menekuni dunia ternak domba. Tentu, jalannya tidak selalu mulus. Ia harus berhadapan dengan cuaca ekstrem yang membuat pakan rumput sulit didapat. Tantangan terberat adalah saat penyakit menyerang hingga ternaknya mati mendadak karena suhu dingin. Momen paling sulit baginya adalah ketika melihat domba sakit, meski sudah berupaya mengobati sesuai anjuran dan kebiasaan, terkadang nyawa ternak tetap tak tertolong. Namun, kegagalan itu justru memacunya untuk terus belajar mengenai penanganan kesehatan ternak secara profesional.

Transformasi Ekonomi dan Spiritual

Setelah bergabung dengan KSM, hidup Solah mengalami transformasi yang sangat terasa. Secara ekonomi, penghasilannya meningkat secara signifikan dari Rp1 juta menjadi Rp2,1 juta per bulan. Peningkatan ini memungkinkannya untuk mencukupi kebutuhan harian sekaligus mulai menabung dari pendapatan tahunan. Bahkan, kini ia telah memiliki aset pribadi berupa ekor induk domba betina, di samping mengelola 17 ekor domba jantan milik KSM.

Perubahan ini tidak hanya menyentuh sisi materi, tetapi juga spiritualitasnya. Melalui pendampingan rutin di KSM yang membekalinya dengan ilmu sosial dan agama, Solah kini merasa lebih berdaya. Ia yang dahulu merasa jauh dari Tuhan, kini mulai istikamah dalam menjalankan salat, puasa, hingga mampu menyisihkan sebagian rezekinya untuk bersedekah. Bagi Solah, perubahan nyata ini tidak akan terjadi tanpa kemauan untuk terus belajar.

Harapan untuk Masa Depan

Solah memiliki target yang jelas untuk tiga hingga lima tahun ke depan. Ia bertekad untuk bisa mandiri secara modal, memiliki tempat usaha sendiri, dan menguasai pasar ternak. Fokus utamanya saat ini adalah memulihkan kondisi ekonominya agar mampu memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan secara layak. Solah berharap, dengan memiliki lahan dan rumah sendiri, ia kelak bisa kembali membangun rumah tangga yang harmonis dan stabil.

Solah juga memberikan apresiasi dan doa bagi para donatur yang senatiasa berbagi melalui LAZ Al Azhar.

“Terima kasih kepada para donatur yang terus berzakat, infak, sedekah, dan wakaf melalui LAZ Al Azhar. Manfaat yang saya rasakan sangat nyata dan signifikan. Semoga para donatur senantiasa diberikan kesehatan dan rezeki yang melimpah, hingga tahun ini dapat kembali beribadah kurban di LAZ Al Azhar.”

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA