Pelajaran Menuntut Ilmu dari Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir

Pelajaran Menuntut Ilmu dari Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir


Risdawati
18/05/2026
11 VIEWS
SHARE

Menuntut ilmu merupakan perjalanan yang penuh perjuangan, tetapi juga menjadi kebiasaan mulia yang diwariskan para salafus saleh, bahkan para nabi. Dari perjalanan ilmu itulah lahir keteguhan, kebijaksanaan, dan kedekatan seorang hamba kepada Allah Swt. Sebagaimana kisah Nabi Musa ‘alaihissalam untuk bertemu Nabi Khidir yang diabadikan dalam surah Al-Kahfi ayat 60. Allah Swt berfirman:

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada (muridnya), ‘Aku tidak akan berhenti berjalan sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.’” (QS. Al-Kahfi: 60).

Sungguh, kisah perjalanan agung dalam pencarian ilmu ini bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan gambaran tentang kesungguhan seorang nabi dalam mencari hikmah. Nabi Musa ‘alaihissalam menunjukkan bahwa ilmu yang bernilai sering kali ditempuh dengan kesabaran dan kerendahan hati.

Dalam perjalanan tersebut, Nabi Musa ditemani oleh Yusya’ bin Nun bin Ifraayiim bin Yusuf bin Ya’qub. Kisah ini juga menunjukkan betapa tingginya kedudukan ilmu dalam Islam. Imam Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan:

“Cukuplah kisah ini sebagai petunjuk tentang keutamaan dan kemuliaan ilmu. Nabi Musa, seorang nabi yang diajak berbicara langsung oleh Allah, tetap menempuh perjalanan jauh dan melelahkan demi mempelajari beberapa persoalan dari seorang alim. Ketika mendengar keberadaannya, beliau tidak merasa tenang hingga dapat bertemu dan belajar darinya.” (Miftahu Daaris Sa’adah, I/236-237).

Setelah sekian lama keduanya menempuh perjalanan yang penuh tantangan dan kesabaran, akhirnya Nabi Musa dan Yusya’ bin Nun tiba dan berhasil menjumpai sosok lelaki alim tersebut.

“Bukankah engkau Musa dari Bani Israil? Bagimu salam, wahai nabi daei Bani Israil,” lelaki yang saleh itu berkata kepada sang nabi. Musa terkejut mendengarnya.

“Dari mana engkau mengenalku?” Kemudian lelaki itu menjawab, “Sesungguhnya yang mengenalkan engkau kepadaku adalah yang juga memberitahuku siapa engkau.”

Lelaki itu memperkenalkan diri sebagai Khidir. Nabi Musa lalu mengucapkan salam dengan penuh kelembutan dan kesopanan.

“Lantas, apa yang engkau inginkan dariku, wahai Musa?” tanya Khidir.

“Apakah aku dapat mengikutimu agar engkau dapat mengajariku sesuatu yang engkau telah memperoleh karunia dari-Nya?” pinta Nabi Musa.

Khidir menjawab, “Tidakkah cukup di tanganmu Taurat? Bukankah engkau telah mendapatkan wahyu? Sungguh, wahai Musa, jika engkau ingin mengikutiku, engkau tidak sanggup bersabar bersamaku.”

Mendapat jawaban itu Musa tidaklah menyerah, ia terus memaksa untuk ikut dengan Nabi Khidir. Akhirnya, Nabi Khidir pun setuju, namun ia mengajukan persyaratan, yakni Musa tidak diperkenankan bertanya sesuatu pun kepadanya sehingga pada saatnya nanti ia akan mengetahuinya atau Nabi Khidir sendiri yang akan menjelaskannya, dengan izin Allah.

“Dia berkata, ‘Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku menerangkannya kepadamu.’” (QS. Al-Kahfi: 70).

Setelah persyaratan disepakati, Nabi Musa dan Nabi Khidir pun pergi bersama. Di sinilah perjalanan yang menyimpan berbagai pelajaran tentang kesabaran, ilmu, dan cara Allah menunjukkan hikmah di balik sesuatu yang tampak ganjil di mata manusia.

Dalam perjalanan tersebut, Nabi Musa menyaksikan tiga peristiwa yang membuatnya berkali-kali tidak mampu menahan pertanyaan. Pertama, ketika Nabi Khidir melubangi perahu milik para nelayan miskin yang telah menolong mereka. Kedua, saat Nabi Khidir membunuh seorang anak kecil yang ditemuinya di tengah perjalanan. Ketiga, ketika keduanya tiba di sebuah negeri yang penduduknya enggan menjamu mereka, tetapi Nabi Khidir justru memperbaiki dinding rumah yang hampir roboh tanpa meminta imbalan apa pun.

Di balik tiga peristiwa itu, tersimpan hikmah besar yang sebelumnya tidak diketahui Nabi Musa. Perahu itu dilubangi agar selamat dari perampasan raja zalim, anak kecil itu kelak dikhawatirkan menyeret kedua orang tuanya kepada kekafiran, dan dinding itu ternyata menyimpan harta anak yatim yang dijaga Allah hingga mereka dewasa.

Kisah ini mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya tentang mengetahui banyak hal, melainkan juga tentang kerendahan hati untuk menerima bahwa tidak semua perkara dapat dipahami dengan segera. Bahkan seorang nabi seperti Musa ‘alaihissalam pun tetap belajar dengan penuh kesungguhan dan kesabaran.

Di tengah zaman yang serba instan, semangat Nabi Musa menjadi pengingat bahwa ilmu tidak lahir dari rasa cepat puas. Ia tumbuh dari perjalanan panjang, adab kepada guru, kesabaran, serta hati yang terus ingin mendekat kepada Allah Swt.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA