Noda Hitam Putih: Suara Palestina dalam Benang Keffiyeh

Noda Hitam Putih: Suara Palestina dalam Benang Keffiyeh


Risdawati
12/05/2026
34 VIEWS
SHARE

Di tengah gemerlap dunia yang terbagi, ada sehelai kain hitam-putih yang menjadi saksi bisu perjalanan panjang Palestina. Keffiyeh, selendang yang menjadi pelindung dari matahari dan debu, kini melambangkan perlawanan yang tak pernah padam.

Setiap kotak hitam di atas latar putih bukan hanya pola, tetapi cerita perjuangan, darah yang tumpah, dan harapan yang tak pernah mati. Ketika kita mengaitkan kain ini di leher pada tanggal 11 Mei, kita tidak hanya memakai aksesori, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah hidup Palestina yang terus melawan pendudukan, penjajahan, dan penghapusan identitas.

Keffiyeh adalah bendera tak terdaftar, nyanyian yang tak bisa dibungkam, dan bukti bahwa meski bangsa tertindas, martabat dan perjuangannya akan terus hidup dalam benang-benang kain yang penuh makna ini.

Di Balik Kotak-Kotak Hitam

Perjalanan keffiyeh sebagai simbol perlawanan dimulai pada tahun 1936 selama pemberontakan Arab Palestina melawan Inggris. Di masa itu, para pejuang menggunakan keffiyeh untuk menyembunyikan identitas mereka dari pihak berwenang, sehingga secara perlahan selendang ini menjadi terkait erat dengan gerakan perlawanan dan nasionalisme Palestina. Bukan lagi sekadar alat praktis, keffiyeh bertransformasi menjadi simbol persatuan nasional yang menggantikan topi fez dan menyatukan seluruh rakyat Palestina dalam perjuangan kemerdekaan.

Transformasi kedua terjadi setelah pendirian negara Israel di atas tanah Palestina pada 1948 dan pengungsian ribuan warga Palestina. Di tengah penderitaan dan pengungsian, keffiyeh menjadi simbol ketabahan dan keteguhan hati. Kain ini menjadi penanda identitas bagi mereka yang diusir dari tanah air, serta simbol perlawanan bagi mereka yang bertahan di bawah pendudukan.

Dari Pengungsian Menjadi Bendera

Puncak simbolisme keffiyeh tercapai pada periode 1967-1993 ketika pemerintah pendudukan Israel melarang bendera Palestina. Dalam situasi di mana simbol nasional secara resmi dilarang, keffiyeh secara spontan mengisi kekosongan itu dan menjadi “bendera tak resmi Palestina” yang diterima secara luas oleh masyarakat internasional. Pada masa kini, keffiyeh bukan lagi simbol lokal, melainkan simbol perlawanan global terhadap penjajahan dan pendudukan.

Jalinan Solidaritas di Panggung Dunia

Popularitasnya yang semakin meningkat tak lepas dari peran tokoh-tokoh penting seperti mantan presiden Palestina Yasser Arafat dan Laila Khaled. Sehingga, aktivis global mulai mengadopsinya sebagai simbol solidaritas universal melawan penjajahan dan ketidakadilan. Setiap 11 Mei, dunia memperingatinya sebagai gerakan solidaritas global. Dipilih karena dekat dengan Hari Nakba (15 Mei), tanggal ini mengingatkan bahwa perjuangan Palestina adalah kelanjutan dari bencana historis 1948. Pada hari ini, jutaan orang memakai keffiyeh sebagai deklarasi tegas dukungan kepada Palestina.

Pada akhirnya, keffiyeh bukan sekadar jalinan benang yang rapi. Di balik kontras warna hitam dan putihnya, tersimpan “noda-noda” sejarah yang tak mungkin terhapus: noda debu dari tanah yang dirampas, noda keringat para pejuang yang teguh, hingga noda air mata para ibu yang merindukan kedamaian. Namun, noda-noda inilah yang justru memberi nyawa pada setiap jengkal kainnya.

Memakai keffiyeh adalah tentang merawat ingatan. Ia mengingatkan kita bahwa selama benang-benang ini masih dilingkarkan di leher manusia-manusia merdeka di seluruh dunia, maka suara Palestina tidak akan pernah sunyi. Keffiyeh adalah janji yang tak terucap bahwa meski raga bisa terkurung dan tanah bisa diduduki, martabat sebuah bangsa akan tetap berkibar, abadi dalam rajutan hitam-putih yang kita dekap erat hari ini, besok, dan selamanya. Sebab pada setiap helainya, ada doa yang terus membalut luka.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA