Akhir-akhir ini, linimasa media sosial dipenuhi pembahasan seputar Piala Dunia. Di warung kopi, kantor, kampus, hingga lingkungan sekitar, percakapan yang sering terdengar berkisar pada hasil pertandingan, gol-gol yang tercipta, dan pemain yang tampil gemilang.
Sepak bola memang memiliki daya tarik yang luar biasa. Olahraga ini mampu menyatukan manusia lintas usia, bangsa, dan latar belakang dalam satu kegembiraan yang sama. Islam pun tidak melarang umatnya menikmati hiburan dan rekreasi selama tetap berada dalam batas yang dibenarkan syariat.
Karena itu, tulisan ini bukan untuk mengajak orang meninggalkan sepak bola atau menghakimi mereka yang menikmati pertandingan. Menonton, mendukung tim favorit, dan bergembira atas sebuah pertandingan adalah hal yang wajar. Namun, di tengah euforia yang begitu besar, ada satu hal yang patut direnungkan: jangan sampai perhatian kita terhadap hiburan membuat kita lupa pada penderitaan saudara-saudara kita di Palestina.
Saat Dunia Bersorak, Gaza Terus Berdarah
Ketika jutaan pasang mata tertuju pada lapangan hijau, ada layar lain yang menampilkan kenyataan yang jauh berbeda. Bukan sorak-sorai penonton, melainkan ledakan. Bukan perayaan kemenangan, melainkan kabar duka yang terus berdatangan dari Gaza.
Serangan yang dilakukan pasukan Zionis Israel masih terus berlangsung. Di antara korban terbaru terdapat seorang anak perempuan dan satu warga lainnya yang tewas akibat serangan pesawat tempur di Khan Younis. Di wilayah tengah Jalur Gaza, pasukan Zionis Israel juga dilaporkan membakar lahan di kawasan Juhar al-Dik.
Di saat yang sama, dunia jurnalistik kembali kehilangan salah satu putranya. Jurnalis kamera Al Jazeera, Ahmad Wishah, menjadi korban dalam agresi yang terus berlangsung. Sementara itu, di Yerusalem, pasukan Zionis Israel menangkap seorang pemuda dari kawasan Ain Al-Loza, Silwan, di sebelah selatan Masjid Al-Aqsa.
Peristiwa-peristiwa tersebut hanyalah sebagian kecil dari kenyataan yang terus terjadi. Banyak korban masih tertimbun reruntuhan dan belum dapat dipastikan nasibnya. Karena itu, angka korban yang beredar sering kali belum sepenuhnya menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan.
Dua Layar, Dua Perhatian
Di satu sisi, tidak sedikit orang yang rela begadang hingga dini hari untuk menyaksikan pertandingan. Ada pula yang mengeluarkan biaya besar untuk membeli tiket, berlangganan siaran resmi, atau bahkan terbang ke negara penyelenggara demi merasakan atmosfer Piala Dunia secara langsung.
Semua itu tentu bukan sesuatu yang keliru. Yang perlu menjadi perhatian adalah ketika hiburan menyita seluruh perhatian kita hingga membuat tragedi kemanusiaan seolah tidak lagi penting. Kita begitu cepat mengetahui hasil pertandingan yang berlangsung beberapa jam lalu, tetapi sering kali tidak mengetahui kabar terbaru tentang penderitaan yang dialami rakyat Palestina.
Padahal, penderitaan mereka bukan sekadar berita yang lewat di linimasa. Di balik setiap laporan, ada keluarga yang kehilangan rumah, anak yang kehilangan orang tua, dan orang tua yang harus menguburkan anak-anak mereka.
Jangan Sampai Hati Kehilangan Empati
Islam mengajarkan keseimbangan. Seorang muslim boleh bergembira, tetapi tidak boleh kehilangan rasa peduli. Seorang muslim boleh menikmati hiburan, tetapi tidak boleh menjadi pribadi yang acuh terhadap penderitaan sesama.
Rasulullah saw bersabda:
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh turut merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini mengingatkan bahwa ikatan persaudaraan tidak berhenti pada batas wilayah dan negara. Ketika saudara-saudara kita terluka, semestinya hati kita juga turut merasakan kepedihan itu.
Mungkin tidak semua orang mampu berangkat membantu ke Palestina. Tidak semua orang memiliki harta yang banyak untuk disumbangkan. Namun, setiap muslim setidaknya dapat menjaga kepedulian, menyebarkan informasi yang benar, mendoakan mereka, dan membantu sesuai kemampuan yang dimiliki.
Pada akhirnya, peluit akhir pertandingan akan berbunyi. Trofi akan terangkat. Euforia akan mereda. Namun bagi rakyat Palestina, perjuangan untuk bertahan hidup masih terus berlanjut. Karena itu, nikmatilah hiburan sewajarnya dan bergembiralah secukupnya. Namun, jangan sampai sorak-sorai yang memenuhi layar kita membuat tangisan dari Gaza menghilang dari hati kita.