Mengenal Zulkaidah: Bulan Haram yang Sarat Makna dan Sejarah

Mengenal Zulkaidah: Bulan Haram yang Sarat Makna dan Sejarah


Risdawati
21/04/2026
19 VIEWS
SHARE

Zulkaidah merupakan salah satu bulan yang dimuliakan oleh Allah Swt. Bulan ini menempati urutan kesebelas dalam kalender Hijriah dan termasuk dalam deretan bulan haram, yaitu waktu yang dijaga kesuciannya serta dilarang terjadi peperangan.

Secara bahasa, Zulkaidah berasal dari dua kata, Dzul yang berarti “yang memiliki” dan Al-Qa’dah yang berarti “duduk”. Penamaan ini merujuk pada kebiasaan masyarakat Arab pada masa itu yang memilih untuk berdiam diri dan tidak berperang selama bulan-bulan haram.

Selain itu, Zulkaidah juga memiliki beberapa sebutan lain. Pada masa jahiliyah, bulan ini dikenal dengan nama Waranah. Sebagian masyarakat Arab juga menyebutnya dengan Al-Hawa.

Penegasan Zulkaidah dalam Hadis Nabi

Kemuliaan Zulkaidah sebagai bagian dari bulan haram tidak hanya dikenal dalam tradisi, tetapi juga ditegaskan dalam ajaran Islam. Hal ini dijelaskan oleh Nabi Muhammad saw dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu:

“Sesungguhnya zaman berputar sebagaimana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun terdiri dari dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram, tiga berturut-turut: Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharram, serta Rajab suku Mudhar yang terletak antara Jumadil Akhir dan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menegaskan bahwa Zulkaidah memiliki kedudukan khusus dalam Islam sebagai salah satu bulan yang dimuliakan dan dijaga kehormatannya.

Tidak hanya itu, Zulkaidah juga memiliki kaitan erat dengan praktik ibadah. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa, “Nabi saw melaksanakan umrah sebanyak empat kali, dan hampir seluruhnya dilakukan pada bulan Zulkaidah, kecuali umrah yang dilakukan bersamaan dengan haji. Di antaranya adalah umrah Hudaibiyah dan umrah pada tahun berikutnya.” (HR. Bukhari).

Hal ini menunjukkan bahwa Zulkaidah bukan hanya dimuliakan secara hukum, melainkan juga memiliki nilai spiritual dalam praktik ibadah.

Zulkaidah di Masa Jahiliyah: Bulan Aman dan Pusat Aktivitas

Menariknya, jauh sebelum Islam datang, masyarakat Arab telah lebih dahulu menghormati bulan Zulkaidah. Pada masa jahiliyah, bulan ini menjadi waktu yang aman, di mana tidak diperbolehkan adanya peperangan atau gangguan antarkabilah.

Kesempatan ini dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas, terutama berdagang dan menampilkan syair-syair terbaik mereka. Mereka menggelar pasar-pasar di sekitar Makkah yang tidak hanya menjadi pusat ekonomi, tetapi juga ajang menunjukkan kebanggaan suku dan kemampuan bersastra.

Salah satu pasar yang paling terkenal adalah pasar Ukkadz, yang terletak sekitar 10 mil dari Thaif ke arah Nakhlah. Pasar ini berlangsung sejak awal bulan Zulkaidah hingga hari ke-20.

Setelah pasar Ukkadz berakhir, kegiatan dilanjutkan ke pasar Majinnah yang berlangsung selama sepuluh hari. Usai rangkaian tersebut, masyarakat kemudian melaksanakan ibadah haji.

Zulkaidah bukan sekadar bulan dalam kalender Hijriah, melainkan juga memiliki makna historis dan spiritual yang mendalam. Sejak masa jahiliyah, bulan ini telah menjadi simbol keamanan dan ketertiban. Ketika Islam datang, kemuliaannya ditegaskan dan diarahkan pada nilai yang lebih tinggi. Karena itu, Zulkaidah dapat menjadi pengingat bagi kita untuk menjaga diri dari keburukan, memperbanyak amal, serta mempersiapkan hati menuju ibadah yang lebih baik.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA