Mengapa Manusia Diciptakan?

Mengapa Manusia Diciptakan?


Nurul Aisyahra
21/01/2026
18 VIEWS
SHARE

Pertanyaan tentang tujuan penciptaan manusia merupakan salah satu pertanyaan paling mendasar dalam kehidupan manusia. Ini bukan sekadar persoalan filosofis yang dibahas di ruang-ruang pemikiran, tetapi juga pertanyaan iman yang sangat menentukan arah hidup, pilihan-pilihan yang diambil, serta kesadaran seorang hamba dalam menjalani kehidupannya. Cara seseorang memahami tujuan hidup akan memengaruhi bagaimana ia memaknai waktu, menghadapi ujian, dan menempatkan dirinya di tengah dunia. Karena itu, Al-Qur’an sejak awal menegaskan bahwa keberadaan manusia di dunia ini tidaklah sia-sia dan tidak dibiarkan tanpa maksud yang jelas dari Sang Pencipta.

Allah Swt dengan tegas menolak anggapan bahwa penciptaan manusia terjadi tanpa tujuan atau sekadar permainan belaka. Dalam Surah Al-Mu’minun ayat 115, Allah berfirman:

“Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minun: 115)

Ayat ini menjadi penegasan bahwa hidup manusia memiliki arah, makna, dan pertanggungjawaban yang nyata. Setiap fase kehidupan, setiap perbuatan yang dilakukan, serta setiap pilihan yang diambil tidak akan lepas dari penilaian Allah Swt. Dengan demikian, manusia tidak diciptakan untuk hidup tanpa tujuan, apalagi sekadar mengikuti dorongan hawa nafsu dan kesenangan duniawi yang bersifat sementara. Kehidupan dunia adalah ruang ujian, bukan tempat akhir, dan setiap manusia akan kembali kepada Allah untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah ia lakukan.

Al-Qur’an kemudian menjelaskan tujuan utama penciptaan manusia secara lebih spesifik dan mendasar. Dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 56, Allah Swt berfirman:

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ayat ini menempatkan ibadah sebagai inti dan poros dari kehidupan manusia. Ibadah dalam makna Al-Qur’an tidak terbatas pada ritual formal seperti salat, puasa, atau zikir semata, tetapi mencakup seluruh bentuk ketaatan dan penghambaan kepada Allah Swt dalam setiap aspek kehidupan. Segala aktivitas manusia, baik yang bersifat pribadi, sosial, maupun profesional, dapat bernilai ibadah apabila dilandasi niat yang benar dan dijalankan sesuai dengan tuntunan-Nya.

Dengan demikian, tujuan penciptaan manusia bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan jasmani atau mengejar kenikmatan dunia yang bersifat sementara. Manusia diciptakan untuk membangun hubungan yang benar dengan Allah Swt, menjadikan-Nya sebagai pusat orientasi hidup. Ibadah menjadi kerangka yang menata cara berpikir, bersikap, dan bertindak dalam keseharian. Kesadaran inilah yang membedakan manusia beriman dari makhluk lain, yaitu kemampuannya untuk mengenal Tuhannya, tunduk kepada-Nya, dan menyadari bahwa seluruh perjalanan hidup akan bermuara pada perjumpaan kembali dengan Sang Pencipta.

Kesadaran akan tujuan penciptaan ini juga melahirkan tanggung jawab moral yang luas. Manusia tidak hanya dituntut beribadah secara personal, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sosial. Kejujuran, amanah, kepedulian terhadap sesama, serta sikap adil dalam berbagai aspek kehidupan merupakan bagian dari wujud penghambaan kepada Allah Swt. Dengan kata lain, ibadah tidak berhenti di sajadah, tetapi tercermin dalam cara manusia memperlakukan orang lain, mengelola amanah, dan menjalani perannya di tengah masyarakat secara bertanggung jawab.

Ketika manusia memahami mengapa dirinya diciptakan, hidup tidak lagi terasa hampa atau berjalan tanpa arah yang jelas. Ujian, kesulitan, dan kegagalan tidak dipandang sebagai kesia-siaan, melainkan sebagai bagian dari proses pembentukan diri dan pendewasaan iman. Kesadaran inilah yang menuntun manusia untuk menjalani hidup dengan penuh makna, tanggung jawab, serta harapan akan rahmat dan ridha Allah Swt di akhir perjalanan hidupnya.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA