Lima Sila yang Kita Ucapkan, Nilai yang Kerap Kita Lupakan

Lima Sila yang Kita Ucapkan, Nilai yang Kerap Kita Lupakan


Risdawati
01/06/2026
12 VIEWS
SHARE

Setiap tanggal 1 Juni, kita kembali mengingat Pancasila. Lima sila yang sejak kecil diajarkan di sekolah, diucapkan saat upacara, dan disebut sebagai dasar negara. Namun, di tengah berbagai peringatan Hari Lahir Pancasila, ada satu pertanyaan yang rasanya patut kita renungkan bersama: apakah Pancasila masih benar-benar hadir dalam kehidupan kita, atau hanya tinggal sebagai hafalan yang fasih diucapkan?

Kita hidup di negeri yang menjadikan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama. Akan tetapi, korupsi, penyalahgunaan jabatan, dan berbagai bentuk ketidakjujuran masih terus bermunculan. Kita berbicara tentang kemanusiaan, tetapi masih sering menyaksikan rakyat kecil berjuang sendirian menghadapi kesulitan hidup. Kita bangga dengan persatuan, namun perbedaan pendapat kerap berubah menjadi permusuhan.

Pada saat yang sama, masyarakat juga menyaksikan bagaimana sebagian pejabat mempertontonkan gaya hidup mewah ketika banyak warga masih berjuang memenuhi kebutuhan pokok. Kita melihat alam yang terus dieksploitasi atas nama pembangunan, sementara banjir, longsor, dan kerusakan lingkungan semakin sering dirasakan masyarakat. Tidak semua persoalan tentu lahir dari satu pihak atau satu kebijakan. Namun, semua itu mengingatkan bahwa nilai-nilai Pancasila belum sepenuhnya menjadi landasan dalam setiap keputusan yang diambil.

Padahal para pemimpin, pejabat, dan penyelenggara negara bukanlah kelompok yang berada di atas rakyat. Mereka adalah pelayan publik yang mengemban amanah untuk mengelola kepercayaan masyarakat. Jabatan bukan sekadar simbol kekuasaan, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan, bukan hanya kepada rakyat tetapi juga kepada Tuhan.

Mungkin inilah yang perlu direnungkan pada Hari Lahir Pancasila tahun ini. Bahwa tantangan terbesar bagi Pancasila bukan terletak pada hafalan, melainkan pada sejauh mana nilai-nilainya diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pancasila tidak pernah meminta hal yang rumit. Ia mengajarkan kejujuran, penghormatan terhadap sesama, semangat persatuan, kebijaksanaan dalam mengambil keputusan, dan keadilan bagi seluruh rakyat. Nilai-nilai yang terdengar sederhana, tetapi sering kali menjadi hal pertama yang dikorbankan ketika kepentingan pribadi, kelompok, atau kekuasaan mulai berbicara.

Karena itu, Hari Lahir Pancasila semestinya tidak hanya menjadi seremoni tahunan. Ia adalah kesempatan untuk bercermin. Bukan untuk mencari siapa yang paling salah, melainkan untuk bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana nilai-nilai Pancasila hidup dalam tindakan kita?

Sebab pada akhirnya, bangsa ini tidak kekurangan orang yang hafal lima sila. Yang masih kita butuhkan adalah lebih banyak keteladanan, lebih banyak kejujuran, dan lebih banyak keberanian untuk menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

Pancasila tetap berdiri kokoh sebagai dasar negara. Pertanyaannya, sudahkah kita menjadikannya pedoman dalam berpikir, bersikap, dan bertindak?

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA