Ketika Ramadan Berakhir Tanpa Ramainya Masjid Al-Aqsa

Ketika Ramadan Berakhir Tanpa Ramainya Masjid Al-Aqsa


Risdawati
20/03/2026
22 VIEWS
SHARE

Ada yang terasa ganjil ketika Ramadan hampir berakhir. Di saat umat Islam di berbagai penjuru dunia bersiap menyambut Idulfitri dengan suka cita, kabar dari Masjid Al-Aqsa justru menghadirkan kegelisahan. Tempat suci yang selama ini menjadi simbol ibadah dan persatuan umat itu kini tak lagi sepenuhnya terbuka bagi mereka yang ingin mendekat.

Pembatasan akses oleh aparat Israel membuat langkah menuju kompleks masjid semakin sulit. Pintu-pintu dijaga ketat, pergerakan dibatasi, dan jamaah yang biasanya memadati hari-hari terakhir Ramadan nyaris tak terlihat. Yang terhalang bukan hanya ruang fisik, tetapi juga kedekatan spiritual yang selama ini begitu lekat.

Suasana pun berubah. Area yang biasanya dipenuhi lantunan doa berangsur senyap. Saf-saf yang dahulu rapat kini lengang. Malam-malam yang biasanya hidup dengan iktikaf kehilangan denyutnya. Bukan karena umat tak ingin beribadah, melainkan karena akses untuk itu dipersempit.

Di tengah keterbatasan tersebut, upaya untuk tetap beribadah tidak sepenuhnya berhenti. Sebagian warga yang berada di sekitar kawasan memilih bertahan, menunaikan salat di jalan-jalan kota tua Yerussalem. Dalam keterbatasan ruang, mereka tetap berusaha menjaga hubungan spiritual dengan tempat yang dimuliakan itu, meski dari kejauhan.

Idulfitri dalam Keterbatasan

Di tengah situasi tersebut, Idulfitri pun tiba. Otoritas Palestina menetapkan bahwa Jumat, 20 Maret 2026, menjadi 1 Syawal 1447 Hijriah setelah hilal terlihat. Artinya, pada waktu setempat, umat Islam di sana telah atau sedang menyambut hari raya dan menunaikan salat Idulfitri.

Namun, perayaan itu berlangsung dalam suasana yang berbeda. Ketika sebagian umat dapat berkumpul dan beribadah dengan lapang, warga di sekitar Masjid Al-Aqsa harus merayakannya dalam keterbatasan. Akses yang dibatasi membuat kebersamaan di tempat suci menjadi sesuatu yang tak mudah diraih.

Idulfitri yang seharusnya identik dengan kebebasan dan kebersamaan hadir dalam nuansa sunyi dan penuh kerinduan akan ruang ibadah yang terbuka.

Lebih dari Sekadar Pembatasan

Kecaman pun muncul. Ketua Presidium Aqsa Working Group (AWG), Ashorullah, menyatakan bahwa pembatasan ini merupakan bagian dari upaya Yahudisasi terhadap Masjid Al-Aqsa sekaligus deislamisasi di Baitul Maqdis dan Palestina. Ia menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kebebasan beragama serta penodaan terhadap kesucian tempat ibadah.

Apa yang terjadi di Masjid Al-Aqsa tidak bisa dipandang sebagai peristiwa biasa. Pembatasan akses, terlebih pada momen sakral seperti Ramadan hingga Idulfitri, menyentuh hak paling mendasar: kebebasan beribadah dengan tenang. Ketika akses itu dibatasi, yang terdampak bukan hanya aktivitas, tetapi juga rasa aman, damai, dan keterikatan spiritual.

Bagi umat Islam di seluruh dunia, Masjid Al-Aqsa bukan sekadar bangunan bersejarah, melainkan simbol iman yang menghubungkan hati lintas batas.

Dari Jauh, Tetap Terhubung

Di sinilah suara menjadi penting. Bukan sekadar sebagai bentuk reaksi, tetapi sebagai wujud kepedulian dan kesadaran bahwa hak untuk beribadah adalah hak yang tidak boleh diabaikan. Dalam diam, pelanggaran bisa terasa biasa. Namun ketika disuarakan, ia menjadi pengingat bahwa masih ada nurani yang bekerja dan tidak rela melihat ketidakadilan berlangsung begitu saja.

Sejatinya, Idulfitri adalah tentang kemenangan. Kemenangan atas diri sendiri, atas hawa nafsu, dan atas segala bentuk ketidakadilan dalam kehidupan. Namun, kemenangan tidak selalu hadir dalam bentuk yang sama. Bagi mereka yang merayakannya dalam keterbatasan, kemenangan hadir dalam keteguhan, tetap beribadah, menjaga harapan, dan tidak melepaskan iman.

Sementara itu, bagi umat Islam di Indonesia yang sebagian masih akan menyambut Idulfitri, ada ruang untuk lebih dari sekadar merayakan. Ada kesempatan untuk menghadirkan empati, mengirim doa, dan tidak melupakan saudara-saudara seiman yang merayakan hari kemenangan dalam kondisi yang berbeda. Sebab, sejauh apa pun jarak, iman yang sama selalu mampu menghubungkan hati dan kepedulian di antara sesama.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA