Jangan Kalap saat Iduladha, Tubuh Punya Batas

Jangan Kalap saat Iduladha, Tubuh Punya Batas


Risdawati
12/05/2026
24 VIEWS
SHARE

Iduladha selalu punya cara tersendiri untuk menghadirkan kehangatan. Tak seramai Idulfitri dengan arus mudik dan riuh silaturahminya, hari raya ini justru terasa lekat dengan kebersamaan, keikhlasan, dan rasa syukur.

Sejak pagi, aroma sate mulai mengepul dari halaman rumah. Gulai hangat tersaji di meja makan, sementara daging kurban yang dinanti setahun sekali akhirnya bisa disantap bersama keluarga. Tak sedikit orang menikmati momen ini dengan penuh suka cita, bahkan tanpa sadar menambah porsi berkali-kali. “Mumpung masih banyak daging.” Kalimat sederhana itu hampir selalu terdengar setiap Iduladha tiba.

Padahal, di balik nikmatnya hidangan kurban, tubuh juga memiliki batas. Jika dikonsumsi terus-menerus tanpa memperhatikan keseimbangan gizi, daging merah dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, mulai dari kolesterol, hipertensi, hingga masalah pencernaan. Sebab, Iduladha bukan sekadar tentang menikmati rezeki yang melimpah, tetapi juga menjaga tubuh sebagai amanah dari Allah Swt.

Kolesterol yang Diam-Diam Meningkat

Daging kurban sebenarnya bukanlah ancaman bagi kesehatan. Namun, pola makan yang tidak terkontrol dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah, terlebih jika daging diolah dengan santan atau minyak berlebih.

Ahli gizi Universitas Airlangga (UNAIR), Lailatul Muniroh, S.KM., M.Kes, menjelaskan bahwa konsumsi daging merah yang berlebihan dapat memicu penumpukan lemak dalam tubuh. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan yang lebih serius.

Hipertensi Mengintai

Selain kolesterol, tekanan darah juga bisa ikut meningkat setelah Iduladha. Risiko ini lebih rentan dialami oleh orang lanjut usia, terutama jika makanan yang dikonsumsi tinggi lemak, garam, dan santan. Karena itu, menjaga porsi makan tetap seimbang menjadi penting agar tubuh tidak mudah “kaget” dengan perubahan pola makan selama hari raya.

Saat Jantung Mulai Terbebani

Penumpukan lemak akibat pola makan yang tidak terjaga dapat berdampak pada kesehatan jantung dan pembuluh darah. Dalam jangka panjang, kondisi ini berisiko memicu penyakit kardiovaskular apabila tidak diimbangi dengan aktivitas fisik dan pola hidup sehat.

Karena itu, menikmati hidangan kurban tetap perlu disertai kesadaran untuk menjaga tubuh tetap aktif dan bugar.

Pencernaan pun Bisa “Kewalahan”

Hidangan bersantan dan olahan daging yang disantap terus-menerus juga dapat membuat sistem pencernaan bekerja lebih keras. Akibatnya, perut terasa begah, sembelit, hingga asam lambung meningkat.

Agar tubuh tetap nyaman selama Iduladha, konsumsi daging sebaiknya diimbangi dengan sayur, buah, dan air putih yang cukup. Mengatur porsi makan serta memberi jeda bagi tubuh juga penting agar momen kebersamaan tetap terasa menyenangkan tanpa keluhan kesehatan.

Dengan demikian, hari raya kurban sejatinya mengajarkan tentang keseimbangan: antara menikmati rezeki dan menjaga diri dari berlebihan. Sebab, tubuh yang sehat juga merupakan amanah yang patut djaga dan disyukuri.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA