Kanker bukan hanya tentang penyakit, melainkan tentang perjuangan panjang yang dijalani dengan harapan, ketabahan, dan doa. Di balik setiap diagnosis, ada manusia yang berjuang mempertahankan hidup, keluarga yang setia menguatkan, serta harapan akan hari esok yang lebih baik.
Peringatan Hari Kanker Sedunia menjadi pengingat bagi kita semua bahwa melawan kanker bukanlah tugas individu semata. Ia adalah gerakan bersama untuk menjaga kesehatan sejak dini, meningkatkan kesadaran, sekaligus menghadirkan dukungan tulus bagi para penyintas agar tetap kuat dan optimis dalam proses kesembuhan.
Setiap tanggal 4 Februari, dunia memperingati Hari Kanker Sedunia (World Cancer Day) yang diinisiasi oleh United for International Cancer Control (UICC). Peringatan ini merupakan kampanye global untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap bahaya kanker. Pada tahun 2026, Hari Kanker Sedunia mengusung tema United by Unique atau Bersatu karena Keunikan, yang menegaskan bahwa setiap individu memiliki kisah, kebutuhan, dan tantangan yang berbeda dalam menghadapi kanker.
Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, kanker merupakan penyakit tidak menular yang ditandai dengan adanya sel atau jaringan abnormal yang bersifat ganas. Sel-sel ini dapat tumbuh dengan cepat dan menyebar ke berbagai bagian tubuh.
Secara global, kanker menjadi salah satu penyebab utama kematian di dunia. Setiap tahun, sekitar 10 juta orang meninggal akibat penyakit ini, dengan hampir 70 persen kasus kematian terjadi di negara berkembang. Kanker tidak hanya menyerang orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Diperkirakan sekitar 400 ribu anak di seluruh dunia didiagnosis kanker setiap tahunnya. Jenis kanker yang paling banyak diderita pun berbeda di setiap negara, meski kanker serviks tercatat sebagai yang paling umum di 23 negara.
Di Indonesia, kanker menjadi penyebab kematian tertinggi ketiga. Beberapa jenis kanker dengan angka kematian tinggi antara lain kanker payudara, kanker leher rahim, kanker paru-paru, kanker kolorektal, dan kanker hati.
Sejumlah faktor dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker. Kondisi kesehatan tertentu yang memicu peradangan kronis dalam tubuh, seperti penyakit radang usus, diketahui berperan dalam meningkatkan risiko tersebut. Selain itu, faktor genetik juga berpengaruh, terutama bila terdapat riwayat kanker dalam keluarga, meskipun kasusnya relatif kecil.
Lingkungan turut menjadi faktor penting, seperti paparan asap rokok dan zat kimia berbahaya yang bersifat karsinogen. Tak kalah penting, gaya hidup tidak sehat juga dapat memengaruhi, mulai dari pola makan buruk, kurang aktivitas fisik, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol berlebihan, serta berbagai perilaku berisiko lainnya dapat memperbesar kemungkinan terjadinya kanker.
Upaya pencegahan menjadi langkah penting yang dapat dilakukan bersama. Menerapkan pola makan sehat dan bergizi seimbang, menjaga berat badan ideal melalui olahraga teratur, serta melindungi diri dari paparan sinar matahari berlebih, terutama pada pukul 10.00 sampai 16.00, merupakan langkah awal yang sederhana namun berdampak besar.
Selain itu, menghindari kebiasaan tanning (menggelapkan kulit), menjauhi perilaku berisiko seperti seks bebas, penggunaan narkoba, dan berbagi jarum suntik juga penting untuk mencegah berbagai penyakit, termasuk kanker. Pencegahan dapat diperkuat dengan melakukan vaksinasi terhadap virus pemicu kanker, seperti hepatitis B dan human papillomavirus (HPV).
Dengan demikian, Hari Kanker Sedunia mengingatkan kita bahwa melawan kanker bukan hanya soal pengobatan, tetapi juga tentang kepedulian, pencegahan, dan dukungan bersama. Dengan menjaga kesehatan dan menguatkan para penyintas, kita turut menumbuhkan harapan akan kehidupan yang lebih baik bagi semua.