Gaji Baru Masuk, Mengapa Infak Sering Menjadi Urutan Terakhir?

Gaji Baru Masuk, Mengapa Infak Sering Menjadi Urutan Terakhir?


Risdawati
02/07/2026
24 VIEWS
SHARE

Hari gajian sering menjadi momen yang dinantikan banyak orang. Begitu penghasilan masuk ke rekening, berbagai kebutuhan segera memenuhi daftar pengeluaran. Ada cicilan yang harus dibayar, tagihan bulanan, belanja kebutuhan rumah, mengisi saldo dompet digital, hingga makan bersama keluarga atau teman.

Semua itu merupakan kebutuhan yang wajar. Namun, pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri, di urutan ke berapa infak berada dalam daftar tersebut?

Tidak sedikit orang yang baru teringat untuk berinfak setelah seluruh kebutuhan pribadi terpenuhi. Bahkan, infak terkadang baru dilakukan jika masih ada sisa uang di akhir bulan. Padahal, infak merupakan salah satu amal saleh yang dianjurkan dalam Islam dan menjadi wujud rasa syukur atas rezeki yang Allah titipkan.

Allah Swt berfirman,

“Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261).

Ayat tersebut menggambarkan besarnya keutamaan orang yang berinfak di jalan Allah. Karena itu, ketika Allah memberikan kelapangan rezeki, seorang muslim hendaknya tidak menunda kesempatan untuk beramal.

Rasulullah saw bersabda,

“Bersegeralah kalian melakukan amal-amal saleh sebelum datang berbagai fitnah (musibah/ujian) seperti potongan malam yang gelap gulita. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia.” (HR. Muslim no. 118).

Hadis ini merupakan anjuran umum untuk tidak menunda amal saleh ketika kesempatan masih terbuka. Infak termasuk salah satu bentuk amal saleh yang dapat dilakukan sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Tentu, mendahulukan infak bukan berarti mengabaikan kewajiban. Seorang muslim tetap harus memenuhi kebutuhan pokok, menunaikan nafkah kepada keluarga, dan membayar utang yang telah jatuh tempo. Islam mengajarkan keseimbangan dalam mengelola harta. Namun, menyisihkan sebagian rezeki untuk infak sejak awal dapat menjadi cara untuk membiasakan diri tidak selalu menunggu “uang sisa” sebelum berbagi.

Nominal infak pun tidak harus besar. Rasulullah saw bersabda:

“Lindungilah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan (bersedekah) separuh butir kurma.” (HR. Al-Bukhari no. 1417 dan Muslim no. 1016).

Hadis ini menunjukkan bahwa amal yang tampak kecil tetap bernilai di sisi Allah apabila dilakukan dengan ikhlas dan sesuai kemampuan.

Saat gaji berikutnya tiba, cobalah bertanya kepada diri sendiri, berapa lama waktu yang dibutuhkan hingga kita mengingat untuk menyisihkan sebagian rezeki di jalan Allah? Mungkin yang perlu diubah bukan besarnya nominal, melainkan kebiasaan untuk tidak selalu menempatkan infak di urutan terakhir. Sebab, setiap rezeki yang Allah berikan juga merupakan kesempatan untuk mendekatkan diri kepada-Nya melalui amal saleh.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA