Isra Mikraj: Perjalanan Nabi dan Maknanya bagi Umat

Isra Mikraj: Perjalanan Nabi dan Maknanya bagi Umat


Risdawati
15/01/2026
12 VIEWS
SHARE

Peringatan Isra Mikraj selalu menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk kembali menengok salah satu peristiwa paling agung dalam sejarah kenabian. Peristiwa ini bukan sekadar kisah perjalanan luar biasa yang melampaui nalar manusia, melainkan pengalaman keimanan yang mengandung pesan mendalam tentang iman, keteguhan hati, dan hubungan seorang hamba dengan Tuhannya. Melalui Isra Mikraj, umat Islam diajak memahami bahwa di balik ujian berat dan fase kehidupan yang paling gelap, Allah Swt menyiapkan penguatan dan kemuliaan yang tidak selalu terlihat secara kasatmata.

Isra Mikraj terjadi pada masa yang sangat berat dalam kehidupan Rasulullah saw, yaitu setelah wafatnya Khadijah binti Khuwailid dan Abu Thalib, dua sosok yang selama ini menjadi penopang dakwah dan penghibur utama beliau. Tahun tersebut dikenal sebagai ‘Amul Huzni atau Tahun Kesedihan, ketika Rasulullah menghadapi penolakan, tekanan, dan kesepian yang mendalam. Dalam kondisi itulah Allah Swt memperjalankan Nabi-Nya pada sebuah malam istimewa, seolah menegaskan bahwa pertolongan Allah Swt selalu datang pada saat yang paling dibutuhkan.

Secara istilah, Isra Mikraj terdiri dari dua rangkaian perjalanan yang saling terkait. Isra adalah perjalanan Rasulullah saw dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina, sementara Mikraj adalah perjalanan lanjutan dari Masjidil Aqsa menembus lapisan-lapisan langit hingga mencapai Sidratul Muntaha. Perjalanan ini dilakukan hanya dalam satu malam, sebagai mukjizat yang menegaskan kekuasaan Allah Swt yang tidak terikat oleh ruang dan waktu, sekaligus sebagai ujian keimanan bagi orang-orang yang mendengarnya.

Dalam perjalanan Isra, Rasulullah saw ditemani Malaikat Jibril dan mengendarai Buraq, kendaraan yang Allah sediakan secara khusus. Setibanya di Masjidil Aqsa, beliau memimpin salat bersama para nabi terdahulu, sebuah simbol kuat tentang kesinambungan risalah tauhid dan kepemimpinan Rasulullah saw atas umat manusia. Setelah itu, perjalanan Mikraj dimulai, membawa Rasulullah saw naik ke langit demi langit, bertemu dengan para nabi pilihan, hingga akhirnya sampai di Sidratul Muntaha, tempat tertinggi yang tidak dapat dijangkau oleh makhluk lain.

Puncak dari perjalanan Isra Mikraj adalah diterimanya perintah salat secara langsung dari Allah Swt. Pada awalnya, kewajiban salat ditetapkan sebanyak lima puluh waktu dalam sehari semalam. Namun, atas kasih sayang Allah dan kepedulian Rasulullah saw terhadap umatnya, jumlah tersebut diringankan menjadi lima waktu dengan pahala yang tetap setara. Hal ini menegaskan bahwa salat bukanlah beban, melainkan anugerah dan sarana utama seorang hamba untuk menjaga kedekatannya dengan Allah Swt.

Allah Swt mengabadikan peristiwa Isra ini dalam Al-Qur’an melalui firman-Nya:

“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda Kami.” (QS. Al-Isra: 1)

Ayat ini menegaskan bahwa Isra Mikraj bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah yang mengandung pelajaran iman bagi siapa pun yang mau merenung.

Peringatan Isra Mikraj yang jatuh setiap 27 Rajab dalam kalender Hijriah kemudian menjadi momen refleksi tahunan bagi umat Islam. Lebih dari sekadar penanda tanggal dalam kalender nasional, hari ini seharusnya menjadi ruang muhasabah untuk menilai kembali kualitas iman dan ibadah. Salat lima waktu yang lahir dari peristiwa Isra Mikraj sering kali dikerjakan sebagai rutinitas, tetapi belum tentu dihayati maknanya. Padahal, salat memiliki peran besar dalam membentuk akhlak dan ketenangan jiwa seorang Muslim, sebagaimana firman Allah Swt:

“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)

Makna Isra Mikraj juga tercermin dalam keteladanan Rasulullah Saw yang tetap taat dan teguh meski berada dalam kondisi paling sulit. Perjalanan ini mengajarkan bahwa kesedihan, kegagalan, dan luka bukanlah tanda ditinggalkan Allah, melainkan bisa menjadi jalan menuju kedekatan yang lebih dalam dengan-Nya. Dari peristiwa ini, umat Islam diajak memahami bahwa iman sering kali tumbuh justru melalui kesabaran dan ketundukan, bukan semata-mata dalam kenyamanan.

Selain aspek keimanan, peringatan Isra Mikraj juga memiliki makna sosial. Di banyak tempat, peringatan ini menjadi ajang silaturahmi, pengajian, dan refleksi bersama yang mempererat persaudaraan. Tradisi tersebut menunjukkan bahwa Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga menanamkan nilai kebersamaan, kepedulian, dan keharmonisan di tengah kehidupan bermasyarakat.

Dengan demikian, Hari Isra Mikraj bukan sekadar mengenang perjalanan agung Rasulullah saw, melainkan momentum untuk menata kembali orientasi hidup seorang Muslim. Peristiwa ini mengingatkan bahwa iman harus diwujudkan dalam ketaatan, salat harus dihidupkan dengan kesadaran, dan ujian hidup harus dihadapi dengan keyakinan bahwa pertolongan Allah selalu dekat. Dengan menjadikan Isra Mikraj sebagai bahan renungan, umat Islam diharapkan mampu membawa semangat perjalanan Nabi tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari sebagai bekal menuju ridha Allah Swt.

 

Author: Nurul Aisyah Rahmawati

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA