Di Balik Sifat Bakhil: Kisah dan Hikmah Kekayaan yang Tak Dibagi

Di Balik Sifat Bakhil: Kisah dan Hikmah Kekayaan yang Tak Dibagi


Risdawati
05/01/2026
19 VIEWS
SHARE

Di dunia ini, banyak orang yang mengejar kekayaan dengan kerja keras dan tekad yang luar biasa. Namun, tidak sedikit yang hanya menumpuk harta untuk diri sendiri, enggan berbagi, bahkan menolak berinfak atau membantu sesama. Kekayaan yang dimiliki seharusnya menjadi sumber kebaikan dan keberkahan, tetapi bagi mereka yang bakhil, ia justru menjadi beban yang menutup pintu pahala dan merenggangkan hubungan sosial.

Artikel ini akan membahas kisah nyata orang-orang bakhil, menggali pelajaran berharga, dan menekankan pentingnya berbagi serta berinfak demi kebaikan bersama.

Sifat bakhil bukanlah fenomena zaman modern. Sejak dahulu juga ada orang-orang yang terkenal sangat pelit, baik terhadap keluarga, saudara, tetangga, maupun teman. Salah satunya diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, berkata:

“Ada seorang laki-laki bernama Al-Hajib, ia cukup terpandang di kalangan bangsa Arab, tetapi ia bakhil. Ketika malam hari, ia tidak mau menyalakan tungku api karena takut ada orang lain yang melihat bias sinarnya lalu mengambil manfaat dari apinya. Dia hanya akan menyalakan tungku apabila memerlukannya, tetapi apabila ia melihat seseorang yang mencari api, maka ia akan buru-buru memadamkannya.” (Dikutip dari Minhajul Qashidin [terjemah], Ibnu Qudamah, hlm. 255)

Kisah Al-Hajib menunjukkan bagaimana harta dan kepemilikan bisa menutup hati seseorang, bahkan terhadap hal-hal sederhana. Namun, Al-Hajib bukan satu-satunya contoh. Masih banyak kisah lain yang menunjukkan bagaimana sifat bakhil muncul dalam berbagai situasi.

Misalnya, seorang laki-laki yang meninggal dan dikuburkan di rumahnya. Setelah beberapa lama, kuburannya digali untuk dipindahkan. Ternyata ditemukan sebuah batu bata yang dilapisi ter di bawah kepalanya. Keluarganya menjelaskan bahwa ia telah mewasiatkan agar bata itu dibiarkan bersamanya karena percaya bata tersebut akan awet berkat lapisan ter. Setelah dibongkar, ditemukan 900 dinar di dalamnya. Kisah ini menunjukkan betapa kerasnya orang bakhil mempertahankan hartanya, bahkan hingga setelah meninggal. (Dikutip dari Shaidul Khathir [terjemah], Ibnul Jauzi, hlm. 193-194).

Dari kisah-kisah tersebut, terlihat jelas bahwa sifat pelit dan menahan harta tidak hanya merugikan orang lain, tetapi juga diri sendiri. Orang yang bakhil bisa kehilangan rasa hormat dan kepercayaan dari lingkungannya, sementara di akhirat, pahala dan keberkahan yang seharusnya diperoleh pun berkurang. Bakhil tidak hanya terbatas pada harta, tetapi juga bisa muncul pada tenaga, ilmu, dan nasihat. Sebaliknya, dengan ringan tangan dan rela berbagi, hidup menjadi lebih berkah dan Allah Swt memudahkan seseorang dalam menghadapi ujian hidup.

Sebagai pengingat, Rasulullah saw bersabda:

“Orang yang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dan jauh dari neraka. Orang yang bakhil jauh dari Allah, jauh dari orang lain, dan dekat dengan neraka.” (HR. at-Tirmidzi no. 1961).

Hadis ini menegaskan bahwa ringan tangan dan berbagi bukan sekadar amal sosial, melainkan juga jalan mendekatkan diri kepada Allah Swt dan menjauhkan diri dari keburukan.

Sifat bakhil yang merugikan diri sendiri pun sampai mendapat peringatan dari Nabi Muhammad saw. Beliau saw bersabda:

“Dua karakter yang tidak mungkin terkumpul pada diri seorang mukmin, yaitu bakhil dan perangai buruk.” (HR. at-Tirmidzi, no. 1962).

Jadi, jangan pernah berpikir bahwa nafkah, harta, atau segala bentuk yang diberikan untuk keluarga akan sia-sia. Setiap sen yang diinfakkan akan mendatangkan pahala dari Allah Swt dan keberkahan bagi kehidupan. Sebagaimana Rasulullah saw bersabda:

“Satu dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau infakkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu, maka yang paling besar pahalanya adalah yang engkau nafkahkan untuk keluargamu.” (HR. Muslim no. 995).

Kisah dan ajaran ini mengingatkan kita bahwa kekayaan sejati bukan hanya soal memiliki banyak harta, tapi juga kemampuan untuk berbagi. Jangan biarkan harta menumpuk tanpa manfaat, sedekah dan infak akan menjadikan hidup lebih berkah, hati lebih lapang, dan pahala terus mengalir, baik untuk diri sendiri maupun keluarga. Dengan berbagi, kita menjauhkan diri dari sifat bakhil yang merugikan, sekaligus mendekatkan diri kepada Allah Swt dan membuka pintu keberkahan hidup.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA