Ketika Sedekah Mendatangkan Rezeki Berlipat: Kisah Abdurrahman bin Auf

Ketika Sedekah Mendatangkan Rezeki Berlipat: Kisah Abdurrahman bin Auf


Nurul Aisyahra
23/01/2026
37 VIEWS
SHARE

Di antara para sahabat Rasulullah saw, Abdurrahman bin Auf dikenal sebagai sosok yang memiliki kekayaan melimpah sekaligus kedermawanan yang luar biasa. Ia adalah saudagar sukses yang hartanya terus bertambah, namun justru kekayaan itulah yang sering membuat hatinya gelisah. Abdurrahman bin Auf tidak pernah memandang harta sebagai tujuan hidup, melainkan sebagai amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Semakin besar harta yang ia miliki, semakin besar pula rasa takutnya kepada Allah Swt, bukan takut kehilangan dunia, tetapi takut tertahan lama dalam hisab di akhirat.

Kegelisahan Abdurrahman bin Auf semakin kuat ketika ia memahami sabda-sabda Rasulullah saw tentang beratnya hisab harta di akhirat dan kecintaan Nabi kepada kaum fakir dan miskin. Rasulullah saw bersabda:

“Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan.” (HR. Tirmidzi)

Dalam hadis lain, Rasulullah saw juga berdoa:

“Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, wafatkanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku bersama orang-orang miskin.” (HR. Tirmidzi)

Sabda dan doa Rasulullah saw ini membuat Abdurrahman bin Auf merenung panjang tentang posisinya kelak di hadapan Allah Swt. Ia menyadari bahwa kekayaan bukan hanya nikmat, tetapi amanah besar yang akan dipertanggungjawabkan secara rinci. Dari kegelisahan iman itulah lahir doa yang tidak biasa, yakni harapan agar dirinya menjadi miskin sehingga hisabnya diringankan dan ia dapat lebih dekat dengan Rasulullah saw di akhirat.

Abdurrahman bin Auf kemudian berusaha menghabiskan hartanya dengan cara yang ia yakini paling diridhai Allah Swt, yaitu bersedekah dan berinfak di jalan-Nya. Ia menyedekahkan separuh kekayaannya, lalu kembali berinfak dalam jumlah yang sangat besar hingga mencapai puluhan ribu dinar. Namun, setiap kali ia memberi, Allah Swt justru melapangkan rezekinya lebih luas. Usaha dagangnya selalu berhasil, keuntungan terus mengalir, dan harta yang ia miliki semakin bertambah. Hal ini membuat Abdurrahman semakin gundah, karena keinginannya untuk jatuh miskin seolah tidak pernah terwujud.

Suatu hari setelah Perang Tabuk, para sahabat meninggalkan kebun-kebun kurma di Madinah. Kurma-kurma tersebut akhirnya membusuk karena tidak segera dipanen, dan nilainya jatuh drastis di pasaran. Para pemilik kebun pun merasa khawatir karena hasil panen mereka terancam tidak laku dan menjadi kerugian besar. Kabar tentang kurma busuk ini sampai ke telinga Abdurrahman bin Auf, dan ia melihatnya sebagai peluang untuk menghabiskan seluruh hartanya sekaligus membantu kaum Muslimin.

Dengan niat yang tulus, Abdurrahman bin Auf mengumumkan bahwa ia akan membeli seluruh kurma busuk milik penduduk Madinah dengan harga kurma yang masih baik. Penduduk Madinah pun berbondong-bondong menjual kurma mereka, merasa lega karena hasil panen yang semula dianggap sia-sia tiba-tiba laku terjual. Seluruh harta Abdurrahman bin Auf pun habis tanpa sisa, dan yang tersisa di tangannya hanyalah tumpukan kurma busuk. Dalam hatinya, ia bersyukur dan merasa doanya telah dikabulkan oleh Allah Swt, karena akhirnya ia benar-benar jatuh miskin.

Namun, Allah Swt memiliki rencana yang jauh lebih besar dari perkiraan hamba-Nya. Tidak lama setelah itu, datang utusan dari negeri Yaman yang membawa kabar tentang wabah penyakit yang melanda wilayah mereka. Menurut para tabib, wabah tersebut dapat disembuhkan dengan menggunakan kurma busuk sebagai obat. Utusan itu pun mengumumkan bahwa mereka mencari kurma busuk dan bersedia membelinya dengan harga sepuluh kali lipat dari harga kurma biasa.

Penduduk Madinah segera mengarahkan utusan tersebut ke rumah Abdurrahman bin Auf, karena di sanalah seluruh kurma busuk terkumpul. Tanpa ragu, utusan dari Yaman membeli seluruh kurma milik Abdurrahman bin Auf dengan harga yang sangat tinggi. Dalam waktu singkat, harta Abdurrahman kembali berlipat ganda, bahkan jauh melebihi kekayaan yang ia miliki sebelumnya. Niatnya untuk jatuh miskin kembali tidak terwujud, tetapi Allah Swt membalas keikhlasannya dengan rezeki yang datang dari arah yang tidak pernah ia bayangkan.

Kisah ini menunjukkan bahwa kekayaan bukanlah tanda cinta dunia, dan kemiskinan bukan satu-satunya ukuran ketakwaan. Abdurrahman bin Auf membuktikan bahwa keikhlasan dalam memberi tidak akan pernah mengurangi rezeki, justru Allah Swt melipatgandakannya sesuai dengan kehendak-Nya. Harta di tangannya tidak pernah membuatnya lalai, tetapi selalu mendorongnya untuk lebih dekat kepada Allah Swt dan lebih peduli kepada sesama.

Menjelang wafatnya, Abdurrahman bin Auf kembali menangis. Tangisannya bukan karena takut menghadapi kematian, melainkan karena ia wafat dalam keadaan kaya. Ia teringat Mush’ab bin Umair dan Hamzah bin Abdul Muthalib yang gugur dengan kesederhanaan, bahkan tanpa kafan yang layak. Ia khawatir jika seluruh balasan kebaikannya telah disegerakan di dunia. Abdurrahman bin Auf wafat di Madinah pada tahun 31 Hijriah dan termasuk dalam sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Warisan terbesarnya bukanlah kekayaan, melainkan teladan iman, keikhlasan, dan keyakinan bahwa siapa pun yang bersedekah di jalan Allah Swt tidak akan pernah benar-benar rugi.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA