Bahagia Hadir Saat Hati Tak Lagi Iri

Bahagia Hadir Saat Hati Tak Lagi Iri


Risdawati
11/01/2026
15 VIEWS
SHARE

Dalam kehidupan sehari-hari, rasa iri sering kali tumbuh tanpa kita sadari. Ia hadir ketika mata terlalu lama membandingkan, ketika hati terlalu sering menilai hidup orang lain dari apa yang tampak di permukaan. Kita melihat pencapaian, kebahagiaan, atau kemudahan yang dimiliki seseorang, lalu secara perlahan merasa hidup sendiri tertinggal. Dari situlah kegelisahan bermula, bukan karena hidup kita kurang, melainkan karena hati sibuk mengukur kebahagiaan dengan standar orang lain. Padahal, kebahagiaan tidak pernah lahir dari perbandingan, tetapi dari hati yang mampu menerima dan mensyukuri apa yang Allah Swt tetapkan.

Apa yang terlihat indah dalam hidup seseorang sejatinya hanyalah satu potongan kecil dari perjalanan panjang yang mereka lalui. Kita menyaksikan hasil akhirnya, tetapi tidak pernah sepenuhnya mengetahui proses di baliknya. Di balik keberhasilan, selalu ada harga yang harus dibayar, ada kebiasaan baik yang diperjuangkan dalam waktu lama, dan ada pengorbanan yang tidak sedikit. Tidak jarang, ada kelelahan, kesabaran, bahkan air mata yang disembunyikan agar tidak terlihat. Ketika kita hanya fokus pada hasil tanpa memahami proses, rasa iri menjadi mudah tumbuh karena kita menilai hidup orang lain secara sepihak.

Islam mengajarkan agar hati dijaga dari penyakit iri, karena iri tidak membawa kebaikan apa pun selain merusak ketenangan batin. Rasulullah saw dengan tegas mengingatkan bahaya iri melalui sabdanya: 

“Jauhilah hasad (iri), karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu.” (HR. Abu Dawud).

Hadis ini menegaskan bahwa iri bukan sekadar perasaan biasa, melainkan penyakit hati yang perlahan mengikis amal dan kebahagiaan seseorang. Ketika iri dibiarkan tumbuh, seseorang akan sulit merasa cukup, mudah mengeluh, dan kehilangan kemampuan untuk bersyukur atas nikmat yang sudah ada dalam hidupnya.

Al-Qur’an pun mengingatkan agar manusia tidak sibuk memandang apa yang dimiliki orang lain.

Setiap rezeki telah Allah Swt tetapkan dengan ukuran dan hikmahnya masing-masing, Allah Swt berfirman:

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain…” (QS. An-Nisa: 32).

Ayat ini menegaskan bahwa perbedaan rezeki bukanlah alasan untuk saling membandingkan, melainkan sarana agar manusia belajar menerima, berusaha, dan bertawakal. Apa yang Allah Swt berikan kepada setiap hamba selalu sesuai dengan kebutuhannya, meskipun tidak selalu sesuai dengan keinginannya.

Ketika seseorang mulai menyadari bahwa hidup bukanlah perlombaan untuk menjadi yang paling unggul, hati akan perlahan menemukan ketenangan. Setiap manusia memiliki jalan, waktu, dan ujian masing-masing. Ada yang diuji dengan kekurangan, ada pula yang diuji dengan kelapangan. Tidak semua yang terlihat bahagia benar-benar tenang, dan tidak semua yang tampak sederhana berarti kurang beruntung. Kesadaran inilah yang membuat hati berhenti iri dan mulai fokus memperbaiki diri sendiri tanpa merasa kalah dari siapa pun.

Keberhasilan orang lain bukan untuk membuat hati gelisah, melainkan dapat menjadi sumber inspirasi agar kita terus berusaha dan memperbaiki diri. Jika orang lain mampu melangkah lebih jauh, itu menjadi pengingat bahwa setiap hasil membutuhkan proses, kebiasaan baik, dan kesungguhan yang konsisten. Tidak ada perubahan tanpa usaha, dan tidak ada keberhasilan tanpa kesabaran. Dengan menata niat, memperbaiki kebiasaan, serta terus berikhtiar sesuai kemampuan, seseorang akan menemukan kebahagiaan yang lebih stabil dan tidak bergantung pada perbandingan sosial.

Saat hati berhenti iri, hidup terasa lebih ringan dan lapang. Kita tidak lagi sibuk menghitung apa yang dimiliki orang lain, tetapi mulai menghargai setiap nikmat kecil yang Allah Swt titipkan dalam hidup kita. Di sanalah kebahagiaan hadir dengan tenang, bukan karena hidup sempurna, melainkan karena hati mampu menerima, bersyukur, dan percaya bahwa setiap ketetapan Allah Swt selalu membawa kebaikan bagi hamba-Nya yang bersabar dan beriman.

 

Author: Nurul Aisyah Rahmawati

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA