Asma’ binti Yazid: Sang Juru Bicara Kaum Wanita

Asma’ binti Yazid: Sang Juru Bicara Kaum Wanita


Risdawati
09/01/2026
22 VIEWS
SHARE

Dalam sejarah Islam, terdapat banyak sosok perempuan mulia yang memiliki peran besar dalam perkembangan dakwah, meskipun kisahnya tidak selalu dikenal luas. Salah satunya adalah Asma’ binti Yazid radhiyallahu ‘anha, seorang shahabiyah Anshar yang dikenal sebagai Sang Juru Bicara Kaum Wanita. Julukan ini bukan sekadar sebutan, melainkan cerminan keberanian, kecerdasan, dan kepedulian beliau terhadap berbagai masalah kaum perempuan di masa Rasulullah saw. Dengan adab yang tinggi dan pemahaman agama yang baik, Asma’ menunjukkan bahwa perempuan memiliki ruang untuk bertanya, berdialog, serta memperjuangkan pemahaman agama secara mendalam tanpa keluar dari batas-batas syariat.

Asma’ binti Yazid bin Sakan adalah wanita Anshar dari kabilah Aus yang termasuk di antara perempuan yang berbai’at kepada Rasulullah saw pada peristiwa Bai’at Aqabah. Sejak awal memeluk Islam, Asma’ dikenal sebagai pribadi yang cerdas dan memiliki semangat tinggi dalam menuntut ilmu. Ia aktif menghadiri majelis Rasulullah, menyimak hadis-hadis beliau, dan tidak ragu mengajukan pertanyaan demi memastikan pemahaman yang benar. Ibnu ‘Abdil Barr menyebut Asma’ sebagai wanita yang baik agamanya dan luas pengetahuannya, sebuah penilaian yang menunjukkan kedalaman iman serta kesungguhannya dalam menjalani peran sebagai Muslimah.

Keilmuan dan kecerdasannya membuat Asma’ dipercaya oleh para wanita Muslimah untuk menjadi wakil mereka. Ia sering menyampaikan kegelisahan kaum perempuan langsung kepada Rasulullah saw, terutama terkait posisi dan nilai amal mereka dibandingkan dengan kaum laki-laki. Dalam konteks ini, Al-Qur’an sejatinya telah menegaskan bahwa amal setiap hamba dinilai secara adil tanpa membedakan jenis kelamin. Allah Swt berfirman:

“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): ‘Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan. Sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain.’” (QS. Ali ‘Imran: 195).

Ayat ini menjadi landasan penting bahwa kegelisahan Asma’ lahir dari kesadaran iman, bukan dari keinginan untuk menyaingi kaum laki-laki, melainkan dorongan untuk memastikan bahwa amal perempuan juga bernilai di sisi Allah Swt.

Salah satu peristiwa paling masyhur dalam kehidupan Asma’ adalah ketika ia datang menghadap Rasulullah saw sebagai utusan para wanita Muslimah. Dengan tutur kata yang santun namun tegas, ia menyampaikan bahwa para wanita beriman kepada Rasulullah, berbai’at kepada beliau, serta menjalani peran penting dalam rumah tangga. Mereka menjaga harta suami, mendidik anak-anak, dan menjadi penopang kehidupan keluarga, sementara kaum laki-laki memperoleh keutamaan melalui amalan-amalan besar seperti salat Jumat, mengiringi jenazah, dan berjihad di jalan Allah Swt. Dari kegelisahan itulah Asma’ bertanya dengan penuh ketulusan, apakah para wanita juga memperoleh pahala yang sebanding dengan amalan-amalan besar tersebut.

Mendengar pertanyaan itu, Rasulullah saw menoleh kepada para sahabat dan menyatakan bahwa beliau belum pernah mendengar pertanyaan seorang wanita tentang agama yang lebih baik dari yang disampaikan Asma’. Kemudian Rasulullah menjawab dengan penjelasan yang menenangkan dan memuliakan peran perempuan. Beliau saw bersabda:

“Kembalilah wahai Asma’, dan beritahukan kepada para wanita yang berada di belakangmu bahwa perlakuan baik salah seorang di antara mereka kepada suaminya, usahanya untuk mendapatkan keridaan suaminya, dan ketaatannya kepadanya, dapat mengimbangi seluruh amalan yang engkau sebutkan dari kaum laki-laki.” (HR. Muslim).

Hadis ini menegaskan bahwa Islam memandang amal keseharian perempuan, khususnya dalam rumah tangga, sebagai ibadah besar yang bernilai tinggi di sisi Allah Swt apabila dilakukan dengan iman dan keikhlasan.

Asma’ menerima jawaban tersebut dengan penuh kegembiraan. Ia kemudian kembali kepada para Muslimah sambil bertahlil dan bertakbir, membawa kabar yang menenteramkan hati mereka. Kisah ini menggambarkan bahwa orientasi hidup para shahabiyah bukanlah pengakuan manusia, melainkan rida Allah Swt. Kebahagiaan mereka terletak pada keyakinan bahwa setiap amal yang dilakukan dengan ikhlas, meski tampak sederhana, tetap memiliki nilai besar di sisi-Nya.

Semangat Asma’ dalam menuntut ilmu juga terlihat ketika ia bertanya kepada Rasulullah saw tentang tata cara mandi haid. Dalam riwayat yang disampaikan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah menjelaskan secara rinci tata cara bersuci dengan penuh kelembutan. Ketika Asma’ kembali bertanya demi memastikan pemahamannya, hal itu justru menunjukkan kesungguhan dalam belajar. Berkaitan dengan sikap para wanita Anshar ini, Aisyah radhiyallahu ‘anha memuji mereka dengan berkata:

“Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar. Rasa malu tidak menghalangi mereka untuk memahami urusan agama.” (HR. Muslim).

Hadis ini menegaskan bahwa rasa malu tidak seharusnya menjadi penghalang bagi perempuan untuk menuntut ilmu, terutama ilmu yang berkaitan dengan ibadah dan kesucian diri.

Kisah Asma’ binti Yazid memberikan pelajaran berharga bahwa Islam mendorong kaum perempuan untuk berilmu, berpikir, dan berperan aktif dalam menjaga nilai-nilai agama. Allah Swt meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu, sebagaimana firman-Nya:

“…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11).

Rasulullah saw juga bersabda:

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).

Dengan meneladani Asma’ binti Yazid, kaum Muslimah diajak untuk tidak ragu belajar, bertanya, dan mendalami agama dengan sungguh-sungguh. Semoga kisah beliau menguatkan langkah kita untuk terus menuntut ilmu, beramal dengan ikhlas, dan menjadikan rida Allah Swt sebagai tujuan utama dalam kehidupan. Aamiin.

 

Author: Nurul Aisyah Rahmawati

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA