Setan Diborgol, Tapi Mengapa Maksiat Tetap Ada di Bulan Ramadan?

Setan Diborgol, Tapi Mengapa Maksiat Tetap Ada di Bulan Ramadan?


Risdawati
21/02/2026
17 VIEWS
SHARE

Pada bulan Ramadan, semua umat Islam berlomba-lomba dalam mengerjakan kebajikan. Hal ini menyebabkan perbuatan maksiat cenderung menurun, sebab pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup, serta setan-setan dibelenggu sehingga tidak leluasa menggoda manusia untuk berbuat maksiat. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Beliau saw bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فََُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ⸲ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ⸲ وَصُفِّدَتْ الشَّيَاطِيْنُ

Artinya: “Ketika bulan Ramadan tiba, pintu-pintu surga akan dibuka, pintu-pintu neraka akan ditutup dan setan-setan terbelenggu.” (HR. Muslim No. 1079).

Namun, kenyataannya masih banyak manusia yang tetap melakukan perbuatan bermaksiat pada bulan Ramadan. Buya Yahya dalam kanal Youtube Al-Bahjah TV mengatakan, “Musuh kita bukan hanya setan saja, tapi ada yang lainnya, yaitu hawa nafsu yang ada di diri kita. Hawa nafsu ini sering berkomunikasi aktif dengan setan.  Selain itu, hawa nafsu yang ada dalam diri ini menyimpan program-programnya. Oleh karena itu, yang membawa kita menuju kemaksiatan adalah hawa nafsu yang mengajak pada keburukan”

Hal ini juga tercantum dalam Al-Qur’an surah An-Nisa ayat 76. Allah Swt berfirman:

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۚ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ الطَّاغُوْتِ فَقَاتِلُوْٓا اَوْلِيَاۤءَ الشَّيْطٰنِ ۚ اِنَّ كَيْدَ الشَّيْطٰنِ كَانَ ضَعِيْفًا ۚ ࣖ 

Artinya: “Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah dan orang-orang yang kufur berperang di jalan thaghut. Perangilah kawan-kawan setan itu. Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.” (QS. An-Nisa: 76).

Meskipun setan diborgol, manusia tetap melakukan maksiat karena dorongan hawa nafsu. Ketika manusia lalai mengingat Allah Swt, ia cenderung mengikuti keinginannya sendiri dan melanggar ketentuan syariat. Oleh karena itu, ketika seorang Muslim sedang digoda oleh setan, hendaknya segera memohon perlindungan kepada Allah Swt agar setan menjauh dan tidak lagi menggoda manusia. Sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an surah Yusuf ayat 53:

وَمَآ اُبَرِّئُ نَفْسِيْۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ 

Artinya: “Aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf: 53).

Selain memohon perlindungan kepada Allah Swt, manusia juga perlu introspeksi diri sebagaimana dijelaskan dalam tafsir Imam Ath-Thabari bahwa nafsu ammarah bi as-su’ senantiasa mendorong manusia untuk mengikuti keinginan apa yang disenanginya, meskipun hal tersebut tidak diridai oleh Allah Swt. Oleh karena itu, manusia dituntut untuk melakukan tazkiyah an-nafs (penyucian diri) sebagai upaya untuk menghadapi musuh manusia. 

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa tazkiyah merupakan bentuk tarbiyah, yaitu proses pembinaan dan pemeliharaan diri secara berkelanjutan hingga kondisi jiwa menjadi bersih dan suci. 

 

Author: Anisa Khoirul Amanah

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA