Sebuah pesanan sederhana menjadi langkah awal bagi anggota Saung Ilmu Kampung Wargaluyu, Desa Nagrak, Kecamatan Cianjur, Kabupaten Cianjur, untuk belajar membangun kegiatan ekonomi dari lingkungan mereka sendiri.
Kelompok binaan LAZ Al Azhar ini mendapat pesanan membuat canvas bingkai melukis untuk anak-anak sekolah dasar. Didampingi Rosihan, anggota kelompok mulai mengerjakan pesanan tersebut secara bertahap.
Sebanyak 150 canvas bingkai menjadi pesanan perdana yang mereka kerjakan. Menariknya, permintaan yang datang sebenarnya mencapai ribuan buah. Namun, kelompok memilih mengerjakan jumlah yang sesuai dengan kemampuan produksi saat ini.
Bukan sekadar memenuhi pesanan, proses tersebut menjadi kesempatan bagi anggota kelompok untuk belajar mengelola produksi dari awal. Mereka mulai menghitung biaya, menentukan harga jual, menjaga kualitas, hingga memastikan produk dapat diselesaikan sesuai kemampuan.
Dari Bahan Sederhana
Bahan yang digunakan untuk membuat canvas bingkai pun relatif sederhana dan mudah diperoleh, seperti kayu bekas, kain, lem, paku, cat tembok curah warna-warni, serta kebutuhan operasional lainnya. Bahan-bahan tersebut kemudian diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Untuk satu buah canvas bingkai, harga pokok produksi (HPP) sekitar Rp5 ribu, sedangkan harga jualnya Rp7 ribu. Dari 150 buah yang dipesan, kelompok memperoleh omzet Rp1,05 juta. Dengan HPP sekitar Rp750 ribu, terdapat margin sekitar Rp300 ribu. Setelah dikurangi kebutuhan operasional, keuntungan yang diperoleh sekitar Rp230 ribu.
Nilainya mungkin belum besar. Namun, dari pesanan pertama ini, kelompok mendapatkan sesuatu yang tidak kalah penting: pengalaman. Mereka mulai memahami bahwa sebuah produk tidak berhenti pada proses membuat barang. Ada biaya yang harus dihitung, harga yang perlu ditentukan, kualitas yang harus dijaga, serta pesanan pelanggan yang harus dipenuhi.
Bertumbuh Sesuai Kemampuan
Keputusan untuk mengerjakan 150 buah, meski permintaan mencapai ribuan, menjadi bagian dari proses membangun kapasitas secara bertahap. Kelompok memilih untuk memulai dari jumlah yang mampu dikerjakan dengan baik sambil terus belajar dan memperbaiki proses produksi. Dari pengalaman tersebut, kapasitas diharapkan dapat berkembang sehingga mampu menerima pesanan yang lebih banyak pada masa mendatang.
Hari ini 150 buah. Ke depan, bisa bertambah menjadi 500 atau 1.000 buah. Bahkan, bukan tidak mungkin kelompok mampu memenuhi pesanan hingga ribuan buah ketika kemampuan produksinya semakin kuat.
Inilah proses ekonomi yang tumbuh dari bawah. Tidak selalu dimulai dengan modal besar atau keuntungan yang langsung tinggi. Terkadang, ia dimulai dari bahan sederhana, satu pesanan, dan keberanian untuk mencoba.
Bagi Saung Ilmu Kampung Wargaluyu, kegiatan ini menjadi salah satu langkah untuk menggali potensi masyarakat sekaligus membuka peluang ekonomi. Dari kayu bekas dan bahan sederhana, mereka belajar menciptakan produk. Dari satu pesanan, mereka belajar mengelola usaha. Langkahnya mungkin masih kecil, tetapi menjadi bagian dari perjalanan untuk tumbuh dan semakin berdaya.